Tuesday, 12 May 2015

AKU BUKAN PUJANGGA

Cerita saya kali ini drama banget dah. Saya mo cerita tentang kehidupan cinta saya, hahahaha .. buka kartu dah ... siap2 malu fastinya daku ....

SI HITAM ANAK KAMPUNG

Sebagai anak yang dilahirkan dari bokap jawa tulen dan nyokap menado sunda, daku yang fenotip 1 dari perkawinan mereka , fastilah lahir dengan ciri dominan : hitam, mata sipit dan rambut ikal lebat. Alhasil saat aku kecil lebih sering disangka orang, berasal dari ambon atau sumatera barat. Bedanya, kalau perempuan ambon itu hitam dan manis mata lebar, sementara daku hitam mata sipit. Kebayang kaaaaaaan ... ?

GA PEDEAN

Fastilah ga pedean ! Saat kecil, saya menghabiskan masa sekolah dan bermain di sebuah sekolah katholik, sejak TK nol kecil hingga SMP kelas 3. Sebelas tahun saya habiskan masa kecil saya bersama sahabat-sahabat saya yang mayoritas beretnis tionghoa, yang tentu lazimnya bermata sipit tapiii berkulit putih bersih. Demi kondisi fisik yang saya miliki saat itu, maka ga pernahlah saya ngerumpi bersama teman2 main saya soal laki. Alasannya ? Ya karena saya berasa jeleklah, mana berani naksir cowo ... ? Hahahaha ...

Sekalinya ada teman laki-laki yang mendekat pertama kali saat SMP, itu terjadi saat saya kelas 3. Ceritanya saya disukai seorang cowo pintar. Asli, ini cowo asli pintar, anak orang punya dan playboy alias banyak mantan pacarnya (begitu kata teman-teman perempuan saya cuka cerita).

Tahu ga, apa yang saya lakukan saat ditembaknya suatu siang pulang sekolah di teras rumah ? Saya bilang, saya ga pernah pacaran, saya mo coba dulu ya, kalo ganggu sekolah, saya ga mau, kalo tidak ganggu sekolah, ya kita lihat nanti aja. "Wah, saya dicoba (dijadiin percobaan mungkin maksudnya) dunk berarti ?" kata teman cowok saya itu ga terima. Maklumlah, pan ia biasa nembak cewe ga ada yang pake respon begini kali yee .. ?

Lantas waktu teman-teman segank saya tiba-tiba muncul di depan rumah bermobil mo makan-makan merayakan hari jadian saya dan dia itu, saya cuma nanggepin dingin, "Saya sudah makan siang, saya ga ikut deh, kamu aja sana makan2 sama teman2 ..." Hahahaha ...

SI JELEK DAN BODO

Sebenernya selain ga pede karena saya merasa jelek, hitam, sipit, kurus. Saya ga pedean juga karena saya tuh ga pinter semasa sekolah. Apalagi kalo dibandingkan sama anak ibu saya yang tinggal serumah ma saya itu. Dia putih, mata lebih lebar dari saya, ndut dan sangat pinter, makinlah saya ga pede.

Persoalannya cowo yang naksir saya itu kan cowo pinter, sementara saya sekelas dengan dia pun karena terpaksa, akibat kuota kelas khusus untuk anak2 pintar kurang jumlahnya. Dan saya akhirnya termasuk anak yang kepandaiannya kelas 2 tapi masih dapat disarankan untuk masuk di kelas yang isinya semua orang2 pinter thok ! Tapi yang ada saya jadi juru kunci deh di kelas. Kebayang dunk, duduk sebangku ma pacar si juara kelas, sementara sayanya under dog. Cakitnya tuh di cini #nunjuk dada ! Hahaha ...

PACARAN ESTAFET

Nah, lulus SMP, pacar saya itu pindah ke luar kota. Ceritanya sejak kelas 3 pun dia sudah tinggal bersama sebuah keluarga, sahabat orangtuanya, karena orangtuanya dipindahtugaskan dari Tegal ke kota lain. Dari situlah, saya pun akhirnya mengenal keluarga 'angkat' pacar saya yang rumahnya tak jauh dari rumah saya, hanya 2 km saja. Keluarga mereka adalah keluarga besar yang memiliki 5 orang anak. Anak terbesar, sebut saja si fulan, sebaya dengan kami. Dia bersekolah di sekolah negeri.

Singkat cerita, saat masuk SMA, saya dan si fulan ternyata sama-sama sekolah di SMA yang sama. Maka si fulan menjadi satu-satunya teman saya di luar teman-teman SMP saya yang bersekolah di SMA Negeri terbaik di Tegal itu. Kenapa hal itu jadi penting ? Karena itulah pertama kalinya saya sekolah di sekolah negeri.

Saya mengalami shock culture dari sekolah katholik yang sangat disiplin, penuh fasilitas, dan beretika. Sementara di sekolah negeri ini, saya banyak menemui pelajaran kosong, siswa-siswa madol (bolos), serta kenakalan, kegaduhan luar biasa di sepanjang koridor kelas sejak pagi hingga siang hari kelas berakhir. Saya terkaget-kaget. Akibatnya, hamper selama setahun pertama, teman saya sangat sedikit, karena saya pun terhalang dengan kemampuan berbahasa pergaulan, bahasa tegal, yang tidak saya kuasai.

Alhasil, si fulan menjadi satu2nya modal untuk mengakses pertemanan dengan teman-teman baru. singkat cerita, saya pun jadian ma si fulan saat di kelas 2. Jadilah saya pacaran karena apa yaa ... Bisa dibilang ketidaksengajaan deh, karena kebiasaan, bukan karena cinta. Sebab seingat saya, si fulan ga pernah nembak saya gitu.

Lucunya, pacar saya saat SMP beserta keluarganya, dan si fulan menyikapi ini dengan biasa saja. Aslinya kan situasinya sangat canggung kan ya mestinya. Sebab hingga kelas 1 SMA berjalan beberapa waktu, pacar saya SMP masih ngapel ke Tegal tiap wiken jauh2 datang dari luar kota menempuh perjalanan 7 jam dengan travel lho. Sakti juga ya pengorbanannya ?! 

FRIENDZONE

Hubungan saya dengan si fulan lumayan awet loh, sejak SMA kelas 2 hingga saya wisuda (saya kuliah S1 4 tahun), si fulan masih hadir mengikuti acara wisuda. Bahkan hingga saya bekerja 3 bulan setelah saya wisuda, si fulan masih bersama saya,  hingga saya sudah bekerja selama2 tahun, walaupun saya sudah tidak mau melanjutkan hubungan.

Pasalnya, hubungan saya dengan si fulan yang bertahun-tahun itu sepertinya tidak disetujui oleh almarhumah ibundanya. Sementara si fulan tampaknya bukan tipe orang yang mau memperjuangkan saya di depan orangtuanya, khususnya almarhumah ibunya yang saat itu tidak menyukai saya.

Padahal keberadaan si fulan di keluarga saya teramat istimewa. Orang tua saya begitu menerima kehadirannya, keluarga besar saya, paman dan bibi saya hampir sebagian besar sudah mengenal dia. Sementara saya di friendzone-in begitu, ya saya minta bubar sajaaaa ....

Lantaran urusan yang satu ini, saya bertengkar hebat dengan kedua orangtua saya ! Pertengkaran yang sangat tidak masuk akal dan luar biasa ga bisa saya mengerti, hingga kini ! Tapi ya sudahlah ...

AWAL KESALAHAN

Memasuki dunia kerja lulus kuliah dengan status jomblo sepihak (karena si fulan tetap ga terima saya putusin) saya bertemu dengan si Fulani. Saat itu saya bekerja di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Tapi, urusan percintaan saya yang ini sungguh merupakan awal malapetaka kehidupan percintaan saya.

Orang tua saya tidak terima sama sekali kehadiran dia, lantara dia bukan orang Jawa ! Gila, rasis juga ya ternyata ortu saya. Bukan apa2, walaupun saya paham maksudnya, tapi plis deh, it didn't make a sense at all !

Inilah hikmahnya, kekerasan hanya melahirkan kekerasan yang lebih tidak terkendali lagi. Itulah yang saya alami. Gegara soal ini, saya kembali bertengkar hebat dengan orang tua saya. Pasalnya, mereka memaksa saya untuk tetap kembali bersama si fulan !  Bukannya menuruti apa kata orang tua saya, saya semakin lengket dengan rekan kerja saya ini. Malapetaka semakin parah saat bokap bertemu dengan pacar saya itu. Demi mendengar ucapan bokap, pacar saya meninggalkan saya begitu saja, tanpa ampun. Dan saya, dibuat bego luar biasa, bertahun-tahun ! Saya pun berasa jadi sampah !

KESALAHAN BERIKUTNYA

Terakhir berurusan dengan laki tahun 1998, saya baru menikah dengan seorang Jawa, sembilan tahun kemudian, tahun 2007 setelah usia ideal saya untuk menikah dan bereproduksi lewat ! Dan di antara periode itu saya pun melakukan kesalahan-kesalahan berikutnya.

Saat saya hijrah ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan di mana saya telah menghabiskan pengabdian 14 tahun hingga saat ini, saya disukai oleh seseorang yang seharusnya tidak saya ladeni. Sekali lagi, saya menjalani hubungan percintaan, lagi-lagi bukan karena rasa cinta yang saya miliki. Saya selalu menjadi pihak yang pasif dan hanya menerima saja.

Dan kalaupun saya menerima cinta-cinta yang mungkin salah itu, semata-mata bukan karena cinta sepertinya, tapi lebih karena I did needed someone behind me as I didn't make a good relationship with parents and the whole fam. Maka yang ada jadinya adalah apa ya bukan 'pelarian' sih, tapi karena kebutuhan akan seseorang tempat bersandar yang dapat dipercaya karena saya tidak merasa aman dan nyaman bersama keluarga.

Singkat cerita, lagi-lagi pelakon cinta ini pun 'kabur' setelah bokap bicara dengannya. Seperti biasa, jadi korban 'cinta' yang tidak pernah saya punya. Ingat, setiap kali saya punya teman pria, itu lebih karena saya tidak dekat dengan keluarga karena saya merasa tidak aman dan nyaman bersama mereka .... 

MENIKAH TANPA CINTA

Saat akhirnya saya menikah pun, pernikahan saya adalah pernikaha dewasa. Ga pernah ada bilang cinta. Saya sendiri hanya punya komitmen yang menurut saya jauh lebih terpercaya ketimbang cinta yang bisa bullshit ga bermakna. Jadilah saya selalu bilang, saya bukan pengagum cinta, karena seumur-umur belum pernah jatuh cinta ....

Menikah tanpa cinta bukan hal mustahil menurut saya. Bagi saya komitmen jauh lebih terhormat ketimbang cinta. Dan menikahlah saya akhirnya tanpa modal cinta.

TAKUT JATUH CINTA GA YA ?

Perkaranya, karena saya ga pernah jatuh cinta yang sebenarnya, jadi berasa agak gimana gitu ya ternyata. Selama ini bisa dibilang saya itu apriori banget sama cinta. Bullshit tingkat dewa deh yang namanya cinta buat saya, kalo ga dibilang musuhan. hahahaha ....

Maknya, kalau saya jatuh cinta belakangan bisa hancur badai dunk yaaa ... Alay sealay-alaynya. Mati gaya, bego, dst. Bisa gawat kan kalau jatuh cintanya telat ... ? Hahahaha ...

HIKMAH

Kadang niat baik, manakala dilakukan dengan cara yang kurang pas, maka hasilnya menjadi tidak seperti yang diharapkan. Begitulah, saat keluarga memilih cara untuk menghentikan 'percintaan' saya secara saklek, akhirnya justru mendorong saya semakin mengejar dan memperjuangkan sesuatu yang saya mau, walaupun itu belum tentu cinta.

Yang terburuk adalah, saat kemenangan untuk melarang itu diraih, sesungguhnya kemenangan itu dibayar teramat mahal dengan trauma, penyesalan, pengorbanan yang luar biasa menyakitkan. Bukan perkara putus cintanya, tapi dampak psikologis yang membuat saya semakin sulit dengan hidup saya.

Tapi sebagai seorang yang beriman, saya tetap harus memegang teguh nilai-nilai dan tuntunan. Bahwa orang tua adalah tetap manusia di muka bumi ini yang harus saya muliakan. Sayangnya, saat saya telah menikah, maka surga saya adalah suami, bukan lagi pada orang tua. Suamilah yang berhak penuh pada diri saya. Ikhlas ridho Allah adalah ikhlas ridho suami saya. Karenanya, saya hanya bisa berdoa dan berharap Allah tetap memuliakan orang tua saya yang tidak mempunyai anak laki2, dengan caraNya.

Ga kenal cinta, bukan pengagum cinta, tidak pemuja cinta, ga apa keleeesss ... No problem ... Yang penting jangan sampai ga punya tuntunan, karena itulah sebaik-baiknya cinta ... Cinta Allah yang tanpa batas pada umatNya .... 

Saturday, 9 May 2015

PERAN PEREMPUAN DALAM PENGAMBILAN KEBIJAKAN PUBLIK


Penelitian 1 :
 
Representasi PerempuanRepresentasi Perempuan dalam Kebijakan Publik di Era Otonomi Daerah
Penulis: Edriana Noerdin dkk
Penerbit: Women Research Institute
Cetakan: Februari 2005
Tebal: xv + 76 halaman
HASIL RISET :

 
Undang- undang Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah memberi kewenangan pada pemerintah daerah untuk menentukan kebijakan politik dan pengaturan keuangan. Di samping itu, pemerintah telah membuat peraturan hokum yang menyertakan pentingnya penggarustamaan jender dalam GBHN 1999. Buku ini merupakan hasil analisis tekstual atas peraturan daerah yang dibuat oleh sembilan pemerintah daerah di Sukabumi, Tasikmalaya, Solok, Mataram, Nanggroe Aceh Darussalam, Gianyar, Kupang, Kendari, Samarinda, dan Kutai Barat, sejak diberlakukannya UU Otonomi Daerah tersebut. Analisis tekstual dilakukan untuk melihat implementasi pengarusutamaan jender dalam peraturan-peratuan daerah tersebut.
 

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berperspektif feminis. Peraturan daerah yang dikumpulkan selama penelitian dibaca dan dianalisis dengan perspektif feminis untuk menguji asumsi netralitas jender di dalam peraturan. hasil penelitian memperlihatkan bahwa meskipun ada pemerintah daerah yang telah menyadari permasalahan diskriminasi jender serta merespon dengan rumusan kebijakan, persoalan tetap ada, terutama pada definisi representasi dan peran peremuan di tidap daerah.  

Peran perempuan didefinisikan sebagai peran domestik dan dibatasi pada peran sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Oleh karena itu, kebijakan yang dibuat terfokus pada pelatihan dan penyediaan alat untuk melatih perempuan dalam kegiatan rumah tangga seperti memasak, menjahit, dan kesejahteraan keluarga. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sedikitnya keterlibatan perempuan dalam pembuatan keputusan di tingkat lokal memperlihatkan peraturan daerah yang dihasilkan semasa otonomi daerah kurang responsif terhadap isu jender. (BIP/Litbang Kompas)
 
Sumber: Harian KOMPAS, Minggu, 24 April 2005
 
 

Penelitian 2 : 
 
 
PENELITIAN PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PUBLIK DAN PENGARUHNYA PADA KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG RESPONSIF GENDER DI JAWA TENGAH
(Oleh Harsono dkk, Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah)
 
Hasil penelitian :
 
Peran perempuan di sektor publik masih perlu ditingkatkan, terbukti dari antara lain data kepegawaian di kalangan Pemprov. Jateng bahwa ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan, persentase PNS perempuan semakin kecil dibandingkan laki-laki.
 
Tolok ukur yang dipakai untuk mengukur tingkat partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan publik adalah dengan menggunakan Gender Empowerment Measure (GEM), yang meliputi:
  1. Jumlah perempuan di parlemen,
  2. Jumlah perempuan profesional,
  3. Jumlah perempuan dalam administrasi pemerintahan,
  4. Pendapatan perempuan
Laporan Kementerian Pemberdayaan Perempuan tentang kebijakan pemberdayaan perempuan dalam pembangunan nasional menyebutkan bahwa pemberdayaan perempuan (GEM) pada tahun 2002 menunjukkan kondisi perempuan yang masih memprihatinkan. Ini terbukti antara lain dari keterwakilan perempuan dalam lembaga-lembaga negara dan dalam jabatan publik, yang mencerminkan peran perempuan yang belum memadai dalam lembaga dan kegiatan yang terkait dengan pengambilan keputusan.
 
Saran
  1. Peningkatan keterwakilan perempuan di DPRD dengan Perbaikan Undang Kepartaian; AD/ART partai; Sistem pencalonan anggota yang menjamin keterwakilan perempuan di DPRD, dan pemilihan pengurus partai.
  2. Peningkatan keterwakilan perempuan dalam Pengambilan keputusan di 3 bidang (Pendidikan, Kesehatan & Pemberdayaan perempuan) secara proporsional'
     

  3. Diambil langkah strategis bagaimana cara mengurangi kesenjangan posisi jabatan di 3 bidang tersebut & DPRD, pemerintah pusat, provinsi kab./ kota hendaknya dapat menindak lanjuti kebijakaan yang sudah ada Seperti : 1). Sosialisasi kesetaraan gender; 2). Penyempurnaan peraturan perundang-undangan ( UU Perkawinan, UU Kewarganegaraan & UU Parpol); 3). Pendidikan politik; 4). Kepemimpinan perempuan; 5). Pemberian peluang khusus (affirmative action); 6). Pemerintah menyediaan data pilah gender. 7). Pemerintah diharapkan memberikan perhatian bidang pemberdayaan perempuan sejajar dengan bidang lain, untuk menyusun perencanaan.
PERAN GANDA PEREMPUAN
 
Menyoal peran perempuan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik, artinya yang perlu diurai paling awal adalah menggali hal-hal apa saja kiranya yang berkaitan dengan urusan perempuan. Sebagaimana yang terjadi seiringnya peradaban, maka perempuan adalah sosok yang memiliki peran ganda dalam kehidupan.
 
Dalam hubungannya dengan peran ganda tersebut, Mosser (1999) menyebutkan bahwa  perempuan tidak saja berperan ganda, akan tetapi memiliki triple role ;

  1. Peran reproduksi, yaitu peran yang berhubungan dengan peran tradisional disektor domestik (mengandung, melahirkan dan merawat anak),
  2. Peran produktif, yaitu peran ekonomis disektor publik ; dan
  3. Peran sosial, yaitu sebagai warga masyarakat.
PEREMPUAN DALAM ISLAM
 
Selain pandangan ilmiah dari para ilmuwan mengenai perempuan, maka sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa, maka perempuan pun harus dipandang dari hal yang paling mendasar dalam kehidupan, yaitu pada sisi spiritual atau religious.
 
Sebagai agama yang paling sempurna, Islam menentukan kedudukan perempuan dengan sangat jelas. Al Quran menegaskan bahwa kedudukan laki-laki (suami) adalah satu derajat lebih tinggi dari wanita dalam hal kepemimpinan dan tanggung jawab atas kemaslahatan rumah tangga, Allah telah menyatakan hal ini dalam firmannya surat an-Nisa 34:
 
 

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا (٣٤)
 
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. (An-Nisa: 34).
 
Hal ini bukan berarti Islam memandang perempuan sebagai kalangan kelas dua dalam kehidupan, melainkan sebaliknya. Islam sangat memuliakan perempuan.
 

PEREMPUAN DALAM ISU JENDER
 
Persoalannya, perkembangan jaman seringkali menggiring isu kesetaraan laki-laki dan perempuan sebagai sebuah hitung-hitungan yang saklek. Artinya, saat menelaah tentang peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, maka perempuan harus dipandang dari berbagai peran yang melekat padanya, tidak bisa hanya salah satunya saja.
 
Pada prakteknya, terdapat pandangan yang memaknai kesetaraan jender antara laki-laki dan perempuan sebagai sebuah kedudukan yang setara, equal dalam arti yang absolut.
 
Padahal kehidupan meliputi banyak dimensi. Artinya, bagaimanapun perempuan dan laki-laki diciptakan berbeda. dan perbedaan itu ada untuk mencapai keseimbangan dalam kehidupan. Bila perempuan menuntut hak
 
PEREMPUAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
 
Pentingnya peran perempuan dalam pengambilan kebijakan publik tidak terlepas dari dinamika kehidupan politik sebuah organisasi besar yang disebut sebagai sebuah negara.
 
Bagaimanapun munculnya berbagai regulasi yang memfasilitasi atau mewadahi perlunya peran perempuan secara lebih nyata tetap harus dipandang secara bijaksana. Karena apa ? Karena yaitu tadi, peran perempuan harus dilihat dari keberadaanya pada lingkungan keluarga (domestik), maupun keberadaannya dalam lingkungan masyarakat baik dalam kehidupan berpolitik, serta kegiatan produktif sebagai individu yang membutuhkan aktualisasi diri, layaknya laki-laki.
 
  1. Sebagai Nara sumber
Peran perempuan dalam pengambilan kebijakan publik menjadi penting karena pada akhirnya, hampir kebanyakan urusan hidup itu bermuara pada perempuan. Sebut saja, perilaku sex bebas, wabah narkoba, korupsi, pencemaran lingkungan, tawuran & kerusuhan, dsb.
 
Maka penting untuk dipahami bahwa, peran perempuan dalam konteks ini adalah lebih sebagai kesadaran pemimpin dalam berupaya secara maksimal untuk memperoleh alternatif solusi dari setiap permasalahan, langsung dari sumber yang memiliki kontribusi besar dalam kehidupan, yaitu perempuan. 
 
2. Sebagai problem solver
 
Kontribusi perempuan dalam proses pengambilan kebijakan publik menjadi sangat dibutuhkan, karena perempuanlah elemen yang memiliki potensi paling besar untuk menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat, secara efektif, langsung dari tingkatan yang paling mendasar, yaitu keluarga. Mengapa, karena fitrah perempuan adalah sebagai madrasah pertama dan yang paling utama bagi anak-anaknya
 
Bahkan pada banyak persoalan, bisa jadi pemicunya bukanlah perempuan, namun pada akhirnya perempuanlah yang  menjadi tumpuan dalam mengeksekusi, meminimalisir, menyelesaikan persoalan tersebut. Karena keistimewaan dan lintas fungsi yang mampu dilakukan oleh perempuan.
 
3. Sebagai penyeimbang secara demografis
 
Faktanya, jumlah perempuan dalam peradaban semakin bertambaha banyak, dan komposisinya melampaui jumlah laki-laki. Karenanya wajar, bila perempuan diberi porsi yang sesuai dalam pengambilan kebijakan publik untuk memenuhi keterwakilannya sebagai sebuah bagian dalam proses demokrasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
 
Dalam konteksi ini, maka upaya penyelesaian berbagai persoalan masyarakat dikembalikan kepada keluarga, Artinya, keluarga berperan melakukan fungsi pencegahan (preventif) sekaligus korektif bagi setiap anggota keluarga denan cara menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupan. 
 
BATASAN PERAN PEREMPUAN
 
Perkaranya kini, menyoal peran perempuan dalam pengambilan kebijakan publik sangat kental dengan perspektif politik yang notabene fitrah atau kodrat perempuan secara sepenuhnya bukan untuk berada di sana.
 
Sebaliknya, dalam konteks ini sangat penting bagi setiap perempuan untuk menyadari bahwa menyoal perannya dalam pengambilan kebijakan publik, maka perempuan tetap harus berpegang pada tuntunan dan tidak melampaui batas.
 
 
 
 


 
 
 
 
 


Seiring dengan

Thursday, 7 May 2015

GOOD FRIENDS

Seringkali saya merasa takjub dengan hal-hal atau situasi yang jarang saya temui tapi meninggalkan kesan gimana ... gitu. Termasuk salah satunya, soal pertemanan.

Saya selama ini mengukur, diri saya agak introvert ya. Jadi, saya tuh jarang banget cerita-cerita tentang urusan hidup saya dengan orang lain. Jangankan orang lain, ma orang rumah aja purba banget, apalagi sama orang lain. Masa sekolah dulu, saya paling ga pernah ngerumpi soal cowo. Maklum, ga PD tingkat dewa dah, sebab selain agak2 o'on semasa sekolah dulu, saya juga item no excuse kan ... ? Makanya saya paling ga pernah tuh gossip-gossipan, rahasia-rahasia-an ma teman-teman.

Saya juga ga punya teman dekat perempuan. Teman saya laki semua. Saya keknya paling payah kalo berteman kolektif deh. Cucah setel programnya supaya ga jadi trouble maker. Kudu konsentrasi tinggi. Hahaha ...

Termasuk, ini tulisan baru publish sedetik, langsung dikomen sahabat tersayang, senasib sepenanggungan soal ... "itu deh" yang fully support kegeblegan saya belakangan ini yang sedang cakitnya tuh di cini gegara accidentally berurusan ma dokter ganteng yang super duper somfereeeet ... ! Dikomplen gegara poto cantiknya ga ada di sini, ya sudah, yuk mari kita up date lagi. Hahahahaha ... !

Baruntung saja sekarang sudah ada media semacam blog ini yang membuat saya jadi bisa sharing leluasa tapi ga terlalu pengumuman gitu, karena selain tidak semua suka baca blog, saya pun masih bisa hiding semua kisah dari aslinya. Hahahaha ... teteup ... 

DICARI ATAU MENCARI ?

Pagi ini seorang kawan dekat saat smp tiba-tiba meninggalkan pesan pada inbox di akun salah satu jejaring sosial saya. Tumben, tanya saya. Ternyata ia ingin berbagi kebahagiaan bahwa tgl 12 Mei 2015 ini ia akan segera sidang pengukuhan sebagai Doktor di sebuah universitas di Yogyakarta. Lalu kami pun beberapa saat mengobrol melalui inbox.

Aneh saja, kami berteman sangat dekat masa smp itu, artinya itu sudah lebih dari 25 tahun lalu. Tapi tiba-tiba ia merasa perlu untuk berbagi kebahagiaannya kepada saya, itu amaze sekali. Saya takjub dengan persabahatan yang bisa saya peroleh ini. Subhanallah rasanya. Sebab kesehariannya, kami sangat jarang chit-chat lah. Tapi asli, saya sangat bersyukur dan ikut merasa sangat senang dan bangga atas keberhasilannya.

Di kesempatan yang lain, suatu pagi seorang sahabat yang telah menjadi teman saya sejak kami sama-sama berumur 4 tahun, bayangkan, 4 tahun ! Tiba-tiba meninggalkan pertanyaan di wa pada gadget saya, menanyakan hal-ihwal kerjaan. Persoalannya, saya bukan ahli soal itu, hanya pernah berurusan dengan hal itu, hamper 20 tahun lalu. Jadi tiba-tiba sekarang ada yang bertanya soal itu, ya jawaban saya hanya based on experience saja dan bertanya kepada sarjana baru lulus di meja sebelah.

Belum lama, seorang teman kuliah, yaah .. lebih dari lima belas tahun lalu la ya, pun tiba-tiba meninggalkan pesan, inbox di salah satu jejaring sosial saya. Kami saling bercerita dan bertukar pikiran. Niat baiknya untuk berbagi cerita pada saya, sungguh sangat saya hargai. Why me ? Karena dalam keseharian di antara kami sangat jarang bersilaturahim. Namun manakala keinginan itu ada dan mereka memilih berbicara pada saya, saya merasa sangat amaze !

Hahaha, sekali lagi saya sangat bersyukur dengan keajaiban-keajaiban kecil ini. Cukuplah bagi saya hal remeh-temeh yang seperti ini menjadi keajaiban sederhana yang membuat saya takjub dan merasa sangat senang.

DIBAGI ATAU MEMBAGI ?

Seorang sahabat baru, sekaligus adik, beberapa hari ini marah berat pada saya lantaran saya dianggap berbohong padanya. Saya ga mau cerita apa-apa soal hidup saya (maksudnya hal-hal keseharian) pada dia katanya. Menurutnya, saya lebih suka berbagi pada brondong jagung di kelas. Padahal temenan ma brondongs itu kan untuk lucu-lucuan aja ya. Intinya dia marah, karena saya ga tahu kalo dia sayang bener sama saya. Sementara ia khawatir pada saya, sayanya tetap tidak kunjung cerita apa-apa, sedihlah ia, merasa tidak dihargai. Saya pun untuk kesekian kalinya dibuat takjub dan bingung.



Sebab soal ga mau cerita, itu memang kebiasaan saya sejak kecil. Saya nyaris ga pernah tuh heart to heart sharing with my mom, apalagi dad, apalagi the one and only my little sister, ga pernah. Kalaupun ada ya sifatnya hanya nice to know aja, sekali, udah.

Nah, kembali ke si adik baru ini, ya ... akhirnya daku dengan besar hati minta maaf la ya, karena membuat ia merasa tidak nyaman dengan kebiasaan buruk saya yang ga' banget kali ya untuk ukuran temenan, sahabatan.

Lain lagi dengan seorang sahabat baru saya, seorang penjaja kelontong elektronik kaki lima tak jauh dari kantor. Saya bersahabat dengannya karena dipertemukan oleh kebiasaan yang sama, bertemu di rumah Allah saat waktu sholat. Hidupnya yang tidak mudah membuat ia sedikit lebih tua dari usianya yang sebenarnya, yang berada jauh di bawah saya.

Yang menarik, dengannya, ia selalu tahu setiap kesusahan yang saya alami. Bukan tahu dalam arti yang sebenarnya. Tapi setiap kali saya tengah mengalami masa-masa sulit, saat itu pulalah seringkali ia menghubungi saya melalui telepon. Subhanallah ! Walau hingga menutup telpon, saya seperti biasanya tetap tidak cerita apapun tentang kondisi atau persaoalan saya padanya, tapi kontak batinnya yang luar biasa, cukuplah sebagai sesuatu yang sangat mengobati dan sangat saya syukuri.

Biasanya saat ia telepon itu, saya dan dia akan saling bertanya kabar kami masing-masing, dan pembicaraan berakhir dengan pesan dari di antara kami untuk saling menguatkan dan menjaga diri. Pasalnya, kami bertemu pun sangat jarang, sebab saya lebih sering berada di Karawang timbang di Jakarta. Karenanya, sungguh saya merasa sangat bingung dengan hubungan batin yang begitu istimewa ini.

Seorang sahabat yang lain, semasa kuliah lanjutan pada tujuh belas tahun lalu itu, pun tak kalah luar biasa. Pertemuan pertama yang tak lazim karena ia bertanya, mengajak kenalan dengan cara berteriak dari kejauhan di pinggiran danau kampus UI Depok menjelang ujian penerimaan, ternyata membawa kami kepada persahabatan yang sangat luar biasa hingga kini. 

Dengannya, saya bisa menghabiskan waktu hingga bego dan melakukan hal-hal yang gila bersama-sama. Asal dipikir, padahal kita dua orang yang sangat jauh beda. Ia sangat kasual dan adventurer, sementara saya ... seorang yang sama sekali ga suka begituan. Dengannyalah saya jauh lebih bisa banyak bicara (bercerita). Sepertinya ia satu-satunya sahabat yang sedikit lebih tua usianya dari saya. Hampir seluruh penderitaan hidup saya, saya tumpahkan blek padanya. Ia juga, satu-satunya orang lain yang bisa berkali-kali menangis sesenggukan untuk saya, demi mengetahui betapa beratnya hidup saya.

Dengannya pun saya sangat jarang bertemu sejak lulus kuliah itu. Tapi kapanpun saya membutuhkan dia, dia selalu ready on call 24 hours ! Dan setiap kali kami berkomunikasi lagi setelah sekian lama waktu tak berjumpa, serasa segala sesuatunya langsung on saja frekuensinya. Tak ada lagi yang perlu disetel untuk menyesuaikan kecanggungan akibat lama tidak bertemu. Subhanallah ... !

Demikianlah. Kadang manusia seringkali lupa ya bahwa dikelilingi dan memiliki orang-orang yang tepat dalam hidup kita adalah hal yang patut disyukuri. Dan yang sangat menggetarkan hati saya adalah, tak jarang di antara sahabat-sahabat teristimewa saya itu  adalah orang-orang yang sangat jauh beda dalam banyak hal dengan saya, baik akidah, ras, status sosial, dst. Semuanya itu semakin membuat saya sangat takjub dan semakin bersyukur !

Selain itu, bersama siapa kita berkawan, sungguh sangat menentukan jalan hidup kita. Tentu, orang-orang yang baiklah yang akan mendatangkan kebaikan pula bagi kita. Karenanya tak salah bila tombo ati, atau obat hati salah satunya adalah orang sholeh kumpulono, berkawanlah dengan orang-orang yang berilmu agama yang baik sehingga mereka mendatangkan pula banyak ilmu yang bermanfaat bagi diri kita. Barakallah ya temans ... !


Tuesday, 31 December 2013

Anak Alay

Suatu ketika seorang teman datang berkunjung membawa anak lelakinya yg berusia sekitar 9 tahun. Membawa sebuah sabak besar merk terkenal, sesaat memasuki rumah, itu anak langsung sibuk dengan gadgetnya. Berawal duduk di kursi, kemudian mulai turun ke lantai dan sudah mulai ngglosor, tiduran, main gadget hingga pulang setelah bertamu lebih dr 3 jam.
Saya teringat, sekitar tahin 1999, saat telpon seluler mulai mewabah murah dg tampilan warna-warni, saya menggunakan ponsel dengan layar kapasitas 3 baris tak berwarna (itu sdh tergolong canggih). Suatu kesempatan, saya ditegor paman, "Mendingan ngaji Wing, timbang sms-an begitu" katanya naif. Yang ada kini, anaknya yg cuma seorang pun tak kalah sibuk dg gadget shg abai dengan lingkungan sosialnya.
Saat ini, makin banyak terlihat, anak-anak alay yg semakin sibuk dg gadget. Seorang kawan di kantor mengeluhkan, saat ia sibuk merapikan rumah, menyapu & mengepel lantai, sang anak tetap asik duduk di kursi ruang keluarga bermain gadget.
Belum lama, saya menyaksikan sendiri bagaimana acuhnya anak2 alay ini kepada orang tuanya krn sibuk bermain gadget. Sedih rasanya ....
Orang tua itu kendali. Seyogyanya orang tua mengarahkan anak dan mampu membuat aturan yg jelas ttg hidup serta membekali anak2 dg norma2 hidup.
Saya merasa saya sudah puol nakal, ga tahu aturan, bandel, dst. Tp ternyata, anak2 alay itu lebih dr saya. Saya ga kepengen mereka jd spt saya.
Bayangkan ada anak sepanjang hari hanya gadget yg diurusnya. Jadi ada orang di sebelahnya pun tak peduli dia. Kiranya, orang tua bisa lebih bijaksana soal penggunaan gadget ini, misalnya ...
1. Pertimbangkan batas usia minimal anak boleh memiliki gadget sendiri. Umur 15 mungkin bisa dipertimbangkan anak boleh memiliki gadget;
2. Buat aturan maen waktu penggunaan gadget. Jam bebas gadget (tidak boleh menggunakan gadget) mulai pukul 13:00 (misalnya) penting utk mengembalikan kebiasaan interaksi langsung dlm keluarga;
3. Berikan pemahaman : ponsel hanya utk komunikasi, interaksi media sosial hanya di personal computer atau laptop yg diletakkan di ruang keluarga dan terpantau oleh orang dewasa;
4. Sepakati pasword bersama, agar orang tua bisa memantau interaksi yg dilakukan anak pada media sosial;
5. Buat option : smartphone atau sabak. Bukan keduanya. Itupun masih dg waktu penggunaan yg sesuai aturan yg telah ditetapkan sebelumnya;
Jaman memang sudah berubah. Kemajuan teknologi komunikasi tak bisa dihindari menjadi hal yg sangat nyata mempengaruhi pola interaksi dan kehidupan sosial umat manusia. Pun segala keburukan yg diakibatkannya yg membuat manusia mjd begitu hedonis, selfis, dan kering tanpa nilai2 hidup fitrahnya sbg manusia.
Sekali lagi, orang tua adalah kendali. Tali silaturahim pun bisa terputus kala orang tua tidak mendorong anak2 nya utk terus berinteraksi dg sanak saudara. Kelihatannya sepele, tp anak tak mungkin beritikad mengunjungi kerabat bila tdk diinisiatifi oleh orang tua, anak pun tak punya ongkos, anak tak tahu jalan, anak tak kenal kerabat, dst.
Mendidik anak sesuai ajaran agama pun menjadi terkesan kuno bahkan kampungan. Padahal di jaman menjelang kiamat kini, segala sesuatu yg jamak bukanlah lagi sebuah ukuran yg benar. Di saat seluruh umat telah bergeser jauh keimanan dan norma2 hidup yg dianutnya, maka dg sendirinya kejamakan yg ada pun mjd kejamakan yg tak bernilai agama. Naudzubillahimindalik. Maka berhati2lah, bertawakalah. Nah, di atas itu semua ....
1. Bekali anak dengan pendidikan anak sebanyak mungkin;
2. Bekali anak dengan tauladan orang tua dalam beribadah dan bertingkah laku bukan diperintah;
3. Biasakan anak utk dapat berkomunikasi dg wajar, menyampaikan pemikirannya & perasaannya;
4. Biasakan anak mendengar pujian yg inspiratif & motivatif, bukan amarah yg merendahkan;
5. Ajarkan anak untuk membaca tanda-tanda alam, karena sesungguhnya Allah menunjukkan kebesarannya dg petunjuk alam, waktu sholat, waktu kiamat, dst.
Menjadi orang tua adalah belajar. Belajar sepanjang hayat yg akan dimintaiertanggungjawabannya. Ingat, menjadi anak adalah given, mereka tak bisa memilih siapa orang tuanya. Sebaliknya, orang tua bisa memilih, membuang bahkan membunuh anak yg tidak dikehendakinya sejak sebelum mereka dilahirkan.
Sesungguhnya setiap anak yg dilahirkan adalah suci. Orang tuanyalah yang menjadikannya seorang nasrani, majusi atau seorang muslim ....