Suatu kesempatan sebuah acara berkaiatan dengan studi dan profesi Public Relations (humas) beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan seorang senior di meja registrasi. Beliau adalah salah seorang praktisi kehumasan yang cukup terpandang dan sangat senior. Dan sudah lama tidak berjumpa. Terakhir bertemu mungkin sekitar bulan maret 2015 saat beliau menikahkan putra - putrinya dan saya memenuhi undangan tersebut.
Pertama kali bertemu sekitar 11 - 12 tahun lalu, sekitar 2004 pada sebuah perhelatan Konvensi Kehumasan di Padang Sumatera Barat. Saya berjumpa kedua sahabat ini. Maka Alhamdulillah persahabatan ini berlanjut hingga kini, yang konteksnya tidak hanya sekedar sebagai rekanan seprofesi, tapi saya lebih menganggapnya sebagai orang tua saya.
Maka sekali waktu insiden itu terjadi. Sekitar tahun 2009 atau 2010 saat tanpa sengaja saya berinisyatif untuk membuat lompatan bagi profesi ini. Ternayat ide saya bersambut pada orang yang kebetulan tidak lagi berkolaborasi dengan sesama para senior ini. Maka bila ada dua, tiga, empat, sepuluh gajah berseteru, pelanduk mati di tengah-tengah, itulah saya.
Saya pun disemprot kanan - kiri. Sebagai seorang yang dewasa dan berprinsip ksatria, saya memohon maaf kepada semuanya. Padahal, asal dipikir salah saya apa ya ? Kan suka-suka saya ya menentukan sikap ikut yang mana ? Namun, tidak ada manfaatnya bila saya bersikap seperti itu, lebih baik saya meminta maaf kepada semuanya.
Saktinya, pada saat insiden itu terjadi, bersamaan dengan sebuah event humas internasional yang dihelat di Indonesia. Maka semua praktisi dan ilmuwan komunikasi pun berkumpul di sana. Dan saya pun ingin pula hadir di sana. Perkaranya saya harus sanggup pasang badan menghadapi para senior yang sangat marah kepada saya.
Maka satu-satunya harapan saya adalah seorang senior almamater saya yang merupakan salah satu dari pasangan sahabat yang luar biasa ini. Kedua sahabat ini sangat luar biasa, sudah seperti soul mate, begitu. Di mana pun acara kehumasan, mereka selalu ada dan berdua. Dengan kehadiran saya, maka saya selalu menjadi orang ketiga di antara mereka. Hahaha ! Tapi memanglah demikian. Saya begitu akrab dengan keduanya. Maka segera setelah saya hadir di lokasi di malam gala dinner itu, saya langsung terlibat pembicaraan intensif dengan senior saya itu untuk klarifikasi hal yang selama ini hanya mampu dilakukan melalui telepon,
Maka clear-lah masalahnya. Perkaranya, bagaimana saya bisa men-clear-kan persoalan dengan pasangan sahabat yang satu lagi, yang nota bene saat itu tengah in charge sebagai chief organsisasi profesi yang saya ikuti itu. Maka wajarlah bila beliau tersinggung dan tidak berkenan dengan sikap saya, walaupun maksud saya baik. Sementara sejak hadir di lokasi malam itu, wajahnya begitu keras dan ditekuk luar biasa. Dan saya ingat betul, sang sahabat yang satu, yang jadi senior dan satu almamater dengan saya sempat berucap, "Kalau dia tidak mau maafkan juga, saya gampar nanti ... " (kurang lebih begitulah) Waduuuh ... ? Namun asli, sejak kejadian malam itu, keesokannya selama acara tersebut dihelat 3 hari berturut-turut, kami sudah kembali akur, akrab seperti semula, bahkan lebih akrab lagi hingga kini. Subhanallah, Alhamdulillah ....
Saya sungguh tidak akan pernah melupakan budi baik senior saya yang satu ini, yang kini tengah sakit, terbaring sudah berbulan2. Karena pertolongannya, tali silaturahim di antara kami senantiasa terjaga hingga kini, bahkan semakin erat lagi. Semoga selalu Allah merahmati beliau dan menaikkan derajatnya karena kesabarannya mengghadapi sakitnya ....
Maka pada pertemuan singkat di meja pendaftaran itu, sahabat yang kini tersendiri itu, menyapa saya dengan sopan seperti biasa. Katanya, "Gimana, jadi resign dan tinggal di rumah ? Hebat kamu ya ... ?" sambil mempok2 sebelah pipi saya, seperti seorang ayah kepada anaknya. Saya tertegun. Kenapa saya begitu sering di-pok2 ya? Terakhir saat saya sudah tergeletak di meja operasi, dokter ganteng saya pun menunjukkan bahasa tubuhnya yang sama, dengan mem-pok2 kaki saya, saat beliau memutuskan untuk general anastesi bagi saya .... Sesungguhnya di-pok2 itu memang menenangkan loh, nyaman, tenang dan damai di - pok2 itu .... :)
Kami memang tergolong intens berkomunikasi untuk ukuran berkomunikasi melalui social media. Begitulah, hingga beliau mengetahui persis keinginan saya untuk berdiam di rumah dan tidak lagi bekerja, yang memang tidak wajib bagi saya sebagai seorang muslimah, sebagaimana diatur dalam syariat.
Demikianlah, perjalanan hidup memang seringkali episodenya berganti begitu ekstrim dan mengejutkan. Namun sesungguhnya ada banyak hikmah yang dapat dipetik seandainya manusia mau berpikir. Allah tidak akan menyusahkan umatnya, Allah hanya menghendaki kemudahan bagi kita ....
Monday, 15 June 2015
Saturday, 13 June 2015
TANAMAN AJA LAYU, SETAN PUN NGUMPET
MELEPASKAN HAJAT
Melepaskan marah selalu jadi malapetaka bagi saya, sepanjang hidup saya. Perkaranya, saya kalau sudah marah membabi buta, sekata-katanya, terserah, benar-benar terserah. Saya selalu bilang, kalau saya marah, tanaman aja pada layu, setan2 pun ngumpet (sembunyi) gegara ga nahan dengar dan lihat kemarahan saya. Astaghfirullahalazdim ....
Asal tahu saja, saya ga' ingat kapan terakhir saya ngedamprat orang berjamaah seperti hari-hari terakhir seperti kemarin. Seingat saya, sejak saya ga' kerja, saya damai banget diem-diem di rumah. Ga ngapa2ain, apalagi ngedamprat orang. Dan jauh hari dari itu, daku juga ga inget kapan terakhir murka yang sedemikian dasyat ini. Artinya, saya sungguh sudah sangat lama ga' jadi manusia jahiliyah lagi, dengan kebiasaan saya yang suka ngedamprat orang gegara toleransi ma kesalahan asli pendek, sependek-pendeknya entah. Alhamdulillah ....
Bahkan kepincangan saya lebih dari sebulan terakhir ini pun saya hadapi dengan biasa-biasa saja, kalau ga dibilang 'hepi' karena menjadi sakit yang membawa berkah. Sakit pincang saya ini menjadikan saya bisa berdiam di rumah lebih awal dari jadwal yang saya rencanakan, ketemu dokter ganteng, and so on, and so on ....
SAYA GALAK, BUKAN JAHAT
Tapi anehnya (menurut saya), ternyata manusia lebih nyaman berurusan sama orang jahat, yang penting ga galak dan ga jutek, timbang berurusan sama orang yang ga jahat, tapi galaknya mana ampun dan juteknya naudzubillahimindalik, seperti sayaaaaaahhh ... Hahahaha ... (Apanya yang diketawain ? Punya kebiasaan buruk kok malah ketawa ?)
Tapi biar saja, suka-suka oranglah, ga mengganggu saya ini.
LIVE IT OR LEAVE IT !
Phrasa ini adalah phrasa yang saya kenal dari dokter spesialis ortopedik saya. Live it ? Come on ... ! Pastilah gw leave it ! Yang sudah-sudah kalau saya kelar berurusan ma yang brengsek2 begini seperti kejadian terakhir ini, biasanya saya akan ambil sikap pasang tembok setinggi entah dan ga mau urusan lagi ma tuh hal. Risikonya ? Oh banyak ! Kalau seandainya sewaktu2 daku butuh sesuatu dengan hal itu, maka daku harus sportif untuk tidak mengandalkan hal itu, dan ga boleh sampai kejadian ngemis2 dah ...
Susah ? Potentially sih iya, tapi saya adalah orang yang sportif. Apapun yang saya putuskan, saya biasanya konsekuen dengan keputusan saya. Prinsip saya, bukan orang lain yang menghancurkan hidup saya, tapi diri saya sendirilah yang mungkin telah melakukan kesalahan dalam hidup saya. Itulah sebabnya saya jadi pribadi yang sangat perfectionist. Makanya, manakala ada orang lain yang bikin masalah dan bikin saya susah, di situlah saya bisa begitu sangat murka dan maraaaaaaaaaahhhh ... luar biasa !
SAYA MAU MEMINTA MAAF
Saya bukan orang yang alergi terhadap kritikan. Saya juga tidak pernah malu mengakui ketidaktahuan saya. Saya pun tidak pernah malu untuk meminta maaf untuk hal yang saya lakukan, salah atau pun tidak, yang mungkin membuat orang lain tidak nyaman.
Saya selalu minta orang lain mengkritik saya, hal ini bahkan saya lakukan pada mahasiswa anak didik saya. Saya tidak pernah sok tahu tentang suatu perkara. Kalau saya tidak tahu, saya bilang tidak tahu bahkan menolak diberi pekerjaan atau bila diminta memberikan pandangan tentang sesuatu yang saya tidak tahu. Kalaupun terpaksa, saya akan bertanya pada yang jauh lebih tahu dan belajar semaksimal mungkin.
Saya selalu minta maaf kepada setiap pihak yang kelar saya damprat, walaupun kebanyakan maaf saya diterima tapi mereka sangat trauma pada saya (emang gw pikirin, yang penting gw dah minta maaf). Saya selalu ingatkan, jangan bikin masalah sama saya kalau tidak mau saya damprat, karena saya sangat perfesctionist dan sangat menghargai privasi orang lain. Maka bila ada orang lain yang tidak melakukan hal seperti yang sebagaimana saya lakukan kepada orang lain, maka saya akan damprat mereka tanpa ampun. Asli tanpa ampun .....
SAYA GA KENAL ABU-ABU
Bukan ngeles, tapi asli saya bukan pendendam, hanya saja saya berusaha mengambil hikmahnya, dan belajar dari pengalaman. Makanya, saya ogah dah mengulang kesalahan yang sama. Saya ga kenal abu-abu. Saya cuma tahu hitam dan putih. Saya tidak suka kompromi, apalagi untuk hal-hal yang keliru ! #sayamahorangnyabegitu
AND I DON'T CARE !
Dan daku, sungguh ga peduli orang mau bilang apa. I don't care ! Ga suka ma gw ya jauh2 dari muka gw, jangan deket2, enyah ! But do not ever tried to handle me, convince me, persuade me, to do bla, bla, bla ... ! I know what should I do. I just don't want to see your face. Don't you understand ? So, get out of my face !
I am not a good person, but if there is no body ugly & bad attitude like me, there would no body call you as a nice person, if you think that you do a better person than anyone else ....
Melepaskan marah selalu jadi malapetaka bagi saya, sepanjang hidup saya. Perkaranya, saya kalau sudah marah membabi buta, sekata-katanya, terserah, benar-benar terserah. Saya selalu bilang, kalau saya marah, tanaman aja pada layu, setan2 pun ngumpet (sembunyi) gegara ga nahan dengar dan lihat kemarahan saya. Astaghfirullahalazdim ....
Asal tahu saja, saya ga' ingat kapan terakhir saya ngedamprat orang berjamaah seperti hari-hari terakhir seperti kemarin. Seingat saya, sejak saya ga' kerja, saya damai banget diem-diem di rumah. Ga ngapa2ain, apalagi ngedamprat orang. Dan jauh hari dari itu, daku juga ga inget kapan terakhir murka yang sedemikian dasyat ini. Artinya, saya sungguh sudah sangat lama ga' jadi manusia jahiliyah lagi, dengan kebiasaan saya yang suka ngedamprat orang gegara toleransi ma kesalahan asli pendek, sependek-pendeknya entah. Alhamdulillah ....
Bahkan kepincangan saya lebih dari sebulan terakhir ini pun saya hadapi dengan biasa-biasa saja, kalau ga dibilang 'hepi' karena menjadi sakit yang membawa berkah. Sakit pincang saya ini menjadikan saya bisa berdiam di rumah lebih awal dari jadwal yang saya rencanakan, ketemu dokter ganteng, and so on, and so on ....
SAYA GALAK, BUKAN JAHAT
Tapi biar saja, suka-suka oranglah, ga mengganggu saya ini.
LIVE IT OR LEAVE IT !
Susah ? Potentially sih iya, tapi saya adalah orang yang sportif. Apapun yang saya putuskan, saya biasanya konsekuen dengan keputusan saya. Prinsip saya, bukan orang lain yang menghancurkan hidup saya, tapi diri saya sendirilah yang mungkin telah melakukan kesalahan dalam hidup saya. Itulah sebabnya saya jadi pribadi yang sangat perfectionist. Makanya, manakala ada orang lain yang bikin masalah dan bikin saya susah, di situlah saya bisa begitu sangat murka dan maraaaaaaaaaahhhh ... luar biasa !
SAYA MAU MEMINTA MAAF
Saya bukan orang yang alergi terhadap kritikan. Saya juga tidak pernah malu mengakui ketidaktahuan saya. Saya pun tidak pernah malu untuk meminta maaf untuk hal yang saya lakukan, salah atau pun tidak, yang mungkin membuat orang lain tidak nyaman.
Saya selalu minta orang lain mengkritik saya, hal ini bahkan saya lakukan pada mahasiswa anak didik saya. Saya tidak pernah sok tahu tentang suatu perkara. Kalau saya tidak tahu, saya bilang tidak tahu bahkan menolak diberi pekerjaan atau bila diminta memberikan pandangan tentang sesuatu yang saya tidak tahu. Kalaupun terpaksa, saya akan bertanya pada yang jauh lebih tahu dan belajar semaksimal mungkin.
SAYA GA KENAL ABU-ABU
Bukan ngeles, tapi asli saya bukan pendendam, hanya saja saya berusaha mengambil hikmahnya, dan belajar dari pengalaman. Makanya, saya ogah dah mengulang kesalahan yang sama. Saya ga kenal abu-abu. Saya cuma tahu hitam dan putih. Saya tidak suka kompromi, apalagi untuk hal-hal yang keliru ! #sayamahorangnyabegitu
AND I DON'T CARE !
Dan daku, sungguh ga peduli orang mau bilang apa. I don't care ! Ga suka ma gw ya jauh2 dari muka gw, jangan deket2, enyah ! But do not ever tried to handle me, convince me, persuade me, to do bla, bla, bla ... ! I know what should I do. I just don't want to see your face. Don't you understand ? So, get out of my face !
I am not a good person, but if there is no body ugly & bad attitude like me, there would no body call you as a nice person, if you think that you do a better person than anyone else ....
Thursday, 11 June 2015
Live it or leave it !
Trust me, this is very painful. Realizing that we actually have something amazing but we are not able to do anything at all with that thing, it is bloody hurt.
Hence, watching that thing becomes a poison that is starting killing yourself, at least makes you never ended crying. There is nothing you can do unless watching this beautiful panorama in bleeding. But at the same time, it is gnawing your heart all the time.
It has been ruining your life just like a disaster, but it is the most beautiful disaster that we can not deny. What a confusing and unforgiven moment ! Just like you said, "Live it or leave it !" I wish I could ....
Hence, watching that thing becomes a poison that is starting killing yourself, at least makes you never ended crying. There is nothing you can do unless watching this beautiful panorama in bleeding. But at the same time, it is gnawing your heart all the time.
It has been ruining your life just like a disaster, but it is the most beautiful disaster that we can not deny. What a confusing and unforgiven moment ! Just like you said, "Live it or leave it !" I wish I could ....
Wednesday, 10 June 2015
TIME WAS FLYING IN THE PAST, SLOW IN THE FUTURE
WHAT DID I DO ?
Waktu berlalu begitu cepat di masa lalu, terhambur-hambur tanpa hasil. Hal yang tidak bisa dikendalikan, dipaksakan untuk dihentikan karena adanya, fitrahnya memang begitu.
Kini yang terlihat di depan justru sebaliknya. Waktu seperti begitu lambat merayap bagi sebuah harapan yang saya miliki, namun tetap begitu cepat berlari, lagi-lagi tanpa bisa saya kendalikan apalagi saya hentikan. Saya bukan pemilik waktu. Jadi ujung-ujungnya, waktu tetap berlalu begitu cepat, sementara harapan saya tidak juga beranjak ....
Tidak pernah saya menghadapi sesuatu yang begitu tidak jelas seperti saat ini. Saya adalah orang sangat berpegang pada rencana dan berhitung dengan waktu. Namun adakalanya, hidup manusia bukanlah milik dirinya sendiri. Maka pada masa itu, ia tidak lagi dapat merencanakan dan mengupayakan apa pun yang diniatkannya sekehendak hati.
Bukan perkara, manusia berencana Tuhan yang menentukan. Bukan, bukan perkara itu. Manusia memang wajib berencana, berikhtiar, dan berusaha dalam hidupnya karena memang demikianlah fitrah hidup manusia, untuk beribadah kepada Sang Khalik. "Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu ..." Dan mengisi hidup dengan kebaikan adalah ibadah.
Persoalannya, pada kondisi yang tertentu itu, berencana pun saya tak lagi mampu. Tak bisa. Saya tak punya lagi ruang dan gerak untuk itu. Saya terjebak dalam pusaran waktu yang berjalan begitu cepat. Maka yang dapat saya lakukan adalah menyaksikan hari-hari saya berlalu, begitu saja, tanpa bisa saya upayakan untuk kebaikan yang saya pikir saya bisa untuk itu. Dan saya kehilangan segalanya, semuanya ...
Bukan karena apa ... tapi karena hidup saya dihentikan, sementara waktu di luar sana terus berjalan. Hingga pada satu titik itu saat saya keluar menemui dunia, saya tertinggal jauh di belakang. Astaghfirullahalazdim ....
WHAT DO I HAVE ?
Kini seakan waktu itu sudah habis. Tidak banyak lagi kesempatan bagi saya. Tidak banyak lagi pilihan yang saya miliki. Tidak banyak lagi jalan yang saya mengerti. Tidak banyak lagi hal yang ... entahlah ....
Masya Allah, sementara rahmat Allah begitu besar dan berlimpah. Namun mengapa saya harus merasa berputus asa seperti ini ? Karena sesungguhnya saya manusia biasa. Dan saya menyaksikan dan mencernanya dengan logika saya, bahwa memang itulah faktanya yang ada di hadapan saya saat ini. Saya tidak lagi punya banyak pilihan dan kesempatan. Saya telah menzalimi diri saya sendiri. Namun benarkah demikian ?
Alangkah bodohnya bila benar saya telah menzalimi diri saya sendiri ? Alangkah meruginya ! Tapi sungguh, demi Allah tak pernah sedikitpun saya berniat kufur atas rahmat Allah yang begitu luas dan berlimpah sepanjang hidup saya, dengan membiarkan saya menzalimi diri saya sendiri. Naudzubillahimindalik ....
Namun kenyataannya, saya sungguh terjebak dalam situasi itu. Situasi yang kesabaran pun rupanya menjadi keliru. Sesungguhnya, "Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu ..." Namun tampaknya bukan untuk hal yang satu ini. Bila ini saya lakukan terus, maka bisa jadi, saya akan menzalimi diri saya sendiri hingga akhir hayat saya, astaghfirullahalazdim ....
Sesungguhnya, kebodohan manusia tanpa disadari seringkali menyebabkan orang lain menanggung akibatnya. Maka berilmulah, wahai para pemimpin. Demi Allah berilmulah, sehingga keberadaanmu tidak menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain, karena kebodohan dan sedikitnya ilmumu.
Kelelahan itu, sungguh luar biasa menguras energi. Terengah-engah dengan kesabaran namun yakinkah manfaatnya lebih besar ataukan kemudharatan yang saya dapati ?
WHAT SHOULD I DO ?
Keimanan dan ketaqwaan adalah keniscayaan. Apapun itu perkaranya. Kembalilah ke titik nol. Berimanlah, bertaqwalah, bersabarlah, berserahlah. Namun hal apa yang patut disabarkan ? Hal mana yang harus ditinggalkan ?
Maka berhijrahlah, lillahita'ala karena Allah. Sungguh bersabar atas taqdir Allah itu sangat berat. Maka berserahlah, sepenuhnya, bersabarlah agar kau tidak gila, tidak hilang ingatan, tidak berputus asa, tidak kufur, tetap istiqomah beribadah, tetap kaffah, tetap qonaah, tetap tawadhu. Masya Allah ....
Maka "Mintalah pertolongan KepadaKu, karena sesungguhnya pertolonganKu sangat dekat, bahkan jauh lebih dekat dari urat nadimu ..."
Kini yang terlihat di depan justru sebaliknya. Waktu seperti begitu lambat merayap bagi sebuah harapan yang saya miliki, namun tetap begitu cepat berlari, lagi-lagi tanpa bisa saya kendalikan apalagi saya hentikan. Saya bukan pemilik waktu. Jadi ujung-ujungnya, waktu tetap berlalu begitu cepat, sementara harapan saya tidak juga beranjak ....
Bukan perkara, manusia berencana Tuhan yang menentukan. Bukan, bukan perkara itu. Manusia memang wajib berencana, berikhtiar, dan berusaha dalam hidupnya karena memang demikianlah fitrah hidup manusia, untuk beribadah kepada Sang Khalik. "Tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu ..." Dan mengisi hidup dengan kebaikan adalah ibadah.
Persoalannya, pada kondisi yang tertentu itu, berencana pun saya tak lagi mampu. Tak bisa. Saya tak punya lagi ruang dan gerak untuk itu. Saya terjebak dalam pusaran waktu yang berjalan begitu cepat. Maka yang dapat saya lakukan adalah menyaksikan hari-hari saya berlalu, begitu saja, tanpa bisa saya upayakan untuk kebaikan yang saya pikir saya bisa untuk itu. Dan saya kehilangan segalanya, semuanya ...
Bukan karena apa ... tapi karena hidup saya dihentikan, sementara waktu di luar sana terus berjalan. Hingga pada satu titik itu saat saya keluar menemui dunia, saya tertinggal jauh di belakang. Astaghfirullahalazdim ....
WHAT DO I HAVE ?
Kini seakan waktu itu sudah habis. Tidak banyak lagi kesempatan bagi saya. Tidak banyak lagi pilihan yang saya miliki. Tidak banyak lagi jalan yang saya mengerti. Tidak banyak lagi hal yang ... entahlah ....
Masya Allah, sementara rahmat Allah begitu besar dan berlimpah. Namun mengapa saya harus merasa berputus asa seperti ini ? Karena sesungguhnya saya manusia biasa. Dan saya menyaksikan dan mencernanya dengan logika saya, bahwa memang itulah faktanya yang ada di hadapan saya saat ini. Saya tidak lagi punya banyak pilihan dan kesempatan. Saya telah menzalimi diri saya sendiri. Namun benarkah demikian ?
Alangkah bodohnya bila benar saya telah menzalimi diri saya sendiri ? Alangkah meruginya ! Tapi sungguh, demi Allah tak pernah sedikitpun saya berniat kufur atas rahmat Allah yang begitu luas dan berlimpah sepanjang hidup saya, dengan membiarkan saya menzalimi diri saya sendiri. Naudzubillahimindalik ....
Namun kenyataannya, saya sungguh terjebak dalam situasi itu. Situasi yang kesabaran pun rupanya menjadi keliru. Sesungguhnya, "Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu ..." Namun tampaknya bukan untuk hal yang satu ini. Bila ini saya lakukan terus, maka bisa jadi, saya akan menzalimi diri saya sendiri hingga akhir hayat saya, astaghfirullahalazdim ....
Sesungguhnya, kebodohan manusia tanpa disadari seringkali menyebabkan orang lain menanggung akibatnya. Maka berilmulah, wahai para pemimpin. Demi Allah berilmulah, sehingga keberadaanmu tidak menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain, karena kebodohan dan sedikitnya ilmumu.
Kelelahan itu, sungguh luar biasa menguras energi. Terengah-engah dengan kesabaran namun yakinkah manfaatnya lebih besar ataukan kemudharatan yang saya dapati ?
WHAT SHOULD I DO ?
Keimanan dan ketaqwaan adalah keniscayaan. Apapun itu perkaranya. Kembalilah ke titik nol. Berimanlah, bertaqwalah, bersabarlah, berserahlah. Namun hal apa yang patut disabarkan ? Hal mana yang harus ditinggalkan ?
Maka berhijrahlah, lillahita'ala karena Allah. Sungguh bersabar atas taqdir Allah itu sangat berat. Maka berserahlah, sepenuhnya, bersabarlah agar kau tidak gila, tidak hilang ingatan, tidak berputus asa, tidak kufur, tetap istiqomah beribadah, tetap kaffah, tetap qonaah, tetap tawadhu. Masya Allah ....
Maka "Mintalah pertolongan KepadaKu, karena sesungguhnya pertolonganKu sangat dekat, bahkan jauh lebih dekat dari urat nadimu ..."
Tuesday, 9 June 2015
SEKALI LAGI, MASALAH TAMPANG CULUN
Dalam rangka operasi lutut ini, maka Alhamdulillah banyak kawan datang berkunjung untuk besuk. Walaupun lelah ya, mesti berdiri seharian sejak pagi subuh sudah masak, gerak sana-sini, namanya juga terima tamu ya, open house, teman-teman yang datang banyak, tapi daku senang sekali. Lagipula kata dokternya waktu daku kabur dari rumah sakit untuk kuliah dan pulang pukul sebelas malam mpe tepar tingkat dewa, dokternya bilang, itu sudah therapy mandiri namanya. Jadi ya sudah, anggap saja ini sebagai therapy mandiri ....
KUNJUNGAN SAHABAT LAMA
Nah ... ini dia yang lucu .... Sekali lagi ya, namanya juga orang sakit, pasti tampangnya ya begitu itu (excuse banget ya), dekil sekali. Jadi ceritanya ada seorang sahabat di FB yang kami berteman cukup intensif. Rupanya dulu kami pernah satu SMA, tapi saya sudah lupa. Jadilah kita menyambung silaturahim kembali melalui jejaring sosial. Dan datanglah beliau berkunjung bersama istri dan seorang anaknya yang cantik jelita pujaan hati saya, Amira namanya.
Beliau berkunjung sejak pagi hingga bada ashar. Cukup lama ya, saya sungguh sangat menghargai kenyamanan beliau untuk berada di rumah saya seharian. Karena tidak semua orang bisa merasa nyaman berlama-lama di rumah orang lain kan ya ... ? Sementara beliau, sejak datang hingga saat makan siang memilih duduk di lantai terus. Makan pun ngariung bersama istrinya sepiring berdua. Dan kami menghabiskan waktu seharian bersama-sama sembari saya menemui tamu lain berganti2an. Alhamdulillah ....
"ITU MUKA PURE AMAT ?"
Selama para sahabat berkunjung, saya mengenakan gamis panjang warna dusty pink dan kerudung bergo pendek warna putih tulang. Pastinya, ya tidak dandan. Tapi sebelumnya saya sempat mematukan diri di cermin, sudah pantas belum ya tampang saya untuk nemuin tamu ? Saya pikir, cukup acceptable-lah (ukurannya apa, hahaha). Jadilah saya menemui tamu dengan penampakan yang seperti itu.
Seminggu berselang, saya kebetulan menghadiri pernikahan seorang saudara sepupu di mana saya bertugas sebagai penerima tamu. Maka setelah kuliah sejak pagi pukul 08:00 wib dan tiba di lokasi acara pukul 17:00 wib, tanpa mandi sore, saya pun dirias (karena mau mejeng). Saat dirias pun saya sudah minta rias yang seminimal mungkin, tanpa scot untuk menyiasati kelopak mata saya yang 'mongol' (sipit) banget,tanpa lipstick, dan tanpa didandani pakai kerudungnya. Jadilah saya memulas bibir dengan lip gloss punya ibu dan mengenakan kerudung model sederhana sendiri.
Nah ... kelar mejeng terima tamu, maka saya selfie - welfie dah, sama saudara-saudara. Hasilnya, seperti biasa, up load dunk di social media. Maksud hati saya mau nunjukkin, ternyata sipit mata saya itu asli sumpah ga nahanin ya ? Bukannya tidak bersyukur, tapi takjub aja, sesipit itu gitu loh .... Namun komentar yang didapat malah bukan matanya, tapi soal puja-puji yang intinya, penampakannya saya agak beres-lah ketimbang keseharian saya yang ternyata kalau menyimak komentar para sahabat itu, menyedihkan banget berarti dunk ya selama ini ? Termasuk, sahabat yang kemarin berkunjung. Beliau berkomentar pada wall FB saya, "Itu kemarin muka pure amat ya, apa karena sedang sakit ?" Hahahaha ... !!!!
Buset, ternyata sudah di rumah pun, tampang dekil saya ini memang bikin masalah ya ? Ibunda dan rekan kerja seorang karib juga sempat berkomentar hal yang sama, "Loh, ini Firlly kok mukanya mendingan ?" hahahahaha ... Masya Allah ... ampun Tuhaaan ....
MUKA IBU PUCAT
Asal tahu aja, menyoal muka saya yang dekil ini memang banyak ceritanya. Beberapa waktu lalu saat saya menutup periode mengajar mata kuliah manajemen humas selama satu semester di sebuah universitas swasta, saya meminta kepada lebih dari 50 mahasiswa saya untuk menyampaikan sedikitnya 5 kritikannya dalam selembar kertas perihal performansi saya selama ini saat mengajar.
Saya berharap para siswa saya akan memberikan masukan tentang materi atau metode saya dalam menyampaikan perkuliahan. Namun apa yang saya dapat ? Saat saya mengambil sampling 5 lembar hasil evaluasi (kritikan) mahasiswa terhadap saya dan saaya bacakan di depan kelas, yang saya dapati justru hal yang mengejutkan. Perihal penyampaian materi, mereka menghargai saya sebagai seorang yang menguasai materi dan sangat perfectionist (yes, I am). Tapi yang sangat mengejutkan, sebagian besar lembaran kritikan mereka adalah mengeluhkan penampakan saya yang tidak berdandan !!! Satu hal yang saya ingat dari catatan mereka adalah, "Ibu pucat saat di depan kelas karena tidak berdandan ..."
Buseeeeeett ...
GA SUKA DANDAN
Daku ga protes sih dikritik begitu, dan daku sampaikan bahwa kritikan mereka sangat konstruktif dan bermafaat bagi saya, karena faktanya saya memang tidak suka berdandan, sejak duluuuuuuuuu ... !!!
Jadi, sejak kecil, SD bila saya hendak pergi sekolah, sudah jalan kaki meninggalkan rumah, bisa loh, ibu saya panggil saya keras-keras suruh balik lagi ke kamar, dan meminta saya agar bedakan !!! Karena apa ? Katanya kalau tidak bedakan, muka saya meling-meling alias keeling banget karena hitaaaaaaam ... !!! Hicks ... !
Begitu pun saat 1997 saat saya operasi usus buntu, tepar di rumah sakit, ibu terus memaksa saya untuk dandan, bedakan selama diopname ! Gilingan ga tuuuh ... ?
Dan saya ogah banget bedakan sejak kecil itu, karena kalau bedakan pakai bedak ibu kan bau Wangi kan ya ... sayanya mabok. Ingat, saya ini tukang mabok sama wangi2an, sehingga sering bikin muntah. Maklum, orang kampung. Makanya, tiap kali naik mobi, semakin bagus dan mewah mobilnya, semakin mabok dan muntah2lah saya berkendara di dalamnya .... :)
"LAMBEMU KOYO NTES MANGAN BAYI"
Saya pernah berdandan medio Januari 1996 - Juli 1998 saat pertama kali bekerja formal di sebuah perusahaan besar di kota Kudus. Saat itu, saya bekerja sebagai sekretaris Direktur Marketing dan berakhir sebagai sekretaris Vice President Director yang notabene adalah juga anak pemilik pabrik berpekerja lebih dari 8.000 orang.
Euforia orang pertama kali kerja, wajarlah agak berdandan alias pakai lipstick. Ditambah lagi saat itu, bos saya itu masih muda, masih 33 tahun, good looking, tongkrongannya BMW keren warna merah. Karenanya, saya merasa perlu menyesuaikan diri dengan keberadaannya yang rapi. Sebab kalau bosnya keren, sekretarisnya dekil kan kasihan ya. Lagipula saya satu2nya sekretaris yang sarjana, kalau saya tidak lebih baik kerja dan penampakannya dari 3 sekretaris direktur lainnya, dan 2 sekretaris dirut, kan gimana ?
Jadilah saya tampil dengan high heels, rok super pendek (masa jahiliyah, masih 22 tahun), dan lipstick colour stay Revlon warna maroon, pink, atau fucia yang saat itu hits banget ! Segitu chic-nya penampakannya saya saat itu, sampai2 seorang rekan kerja komentar, "Mba, kowe macak ngono suwe2 dipek bojo karo Pak Rendy ..." (Mbak, kamu berdandan begitu lama-lama dijadikan istri sama Pak Rendy - bos saya) hahahaha .... Sementara perihal lipstick saya yang cetar membahana itu, teman-teman saya di prepress selalu bilang, "Lambemu koyo ntes mangan bayi ..." (Bibirmu seperti habis makan bayi) Hahahahaha ... segitu merah ntah kaya apaan tahu .... :p
Nah, sekali waktu bila saya menggunakan lipstick warna normal, seperti nude yang sedang hits saat ini, alias warna alami bibir, mereka akan bertanya, "Awakmu lara yo ? Kok pucet banget sih ?" (Kamu sakit ya, kok pucat amat sih ?) Hahahaha ... lucu yaaa ... ?
JARANG BANGET BELI LIPSTIK
Sejujurnya sejak dulu itu saya ya jarang banget beli perlengkapan make up. Saya hanya beli bedak dan pelembab dengan merek yang sama seperti yang digunakan tante saya. Saya menggunakan merek yang sama sejak tahun 1996 hingga 2008 - an, hampir 12 tahunan ! Sekarang saya menggunakan merek yang berbeda hingga saat ini.
Sejak semula saya juga tidak bernah membersihkan muka ! Saya baru tergerak membersikan muka setelah saya menginap di rumah seorang sahabat, teman kerja di Kudus, yang sangat tomboy, namun saat hendak berangkat tidur ternyata ia menyempatkan diri untuk membersihkan wajahnya. Saya sampai bengong dibuatnya. Lah yang lebih muda, lebih tomboy aja bersihkan muka, masa saya yang ga tomboy, ga bersihkan muka ? Maka sejak itulah saya mulai bersihkan muka dengan susu pembersih dan penyegar dan tidak berganti merek sejak 1996 hingga kini ....
Lipstik, aslinya juga jarang beli. Saya mengandalkan sampel pemberian adik saya yang kebetulan saat itu bekerja di perusahaan yang membuat casing alat-alat kecantikan, baik itu lipstick maupun bedak. Maka jadilah saya berdandan bermodalkan barang sampel (contoh) ga pernah beli.
Hingga saat ini, tiap kali akan pergi ke undangan, pasti saya akan bingung mencari-cari lipstick. Akhirnya, saya mampir ke mini market untuk beli ... lips gloss (lagi) dan bukan lipstick ! Hahaha, begitu deh kebiasaan hingga kini. Lebaran tahun lalu, saya minta ibu belikan saya lipstick 2 buah, karena segitu ogahnya saya beli berlengkapan dandaaaaaaaaannn ... Hohoho .. oh nooo .... !!! Hicks ....
Jadi ya gitu deh, sampai-sampai nih, dulu saat saya melintas berjalan kaki dari depan pabrik menuju ke ruang kerja saya, melewati ruang-ruang pabrik rotogravure, sejumlah buruh gaduh meneriaki saya, "Mbak ! Mbak tomboy ... !!!" Hicks ... segitunya ya saya kaya laki ... ?
KEKNYA HARUS MULAI MENEMPATKAN DIRI DEH
Keknya memang harus begitu kali yes ? Ga suka dandan sih hak azasi ya. Tapi plis agak lihat2 situasi. Jangan maksa banget ga dandan terus. Tapi muka digitu2in tuh rasanya ga enak banget. Apalagi sudah bertahun2 saya ga pernah lipstick-an lagi, bibir berasa monyong dan lengket kalau ada lipstick - nya.
Dibilang muka sakit terus jadi dekil, ga selalu juga sih ya. Seorang sahabat sempat komentari foto selfie saya saat opname di rumah sakit awal Mei lalu. Katanya, "Orang sakit kok mukanya sumringah ..." Yaaa ... kalau itu sih perkaranya lain. Lawong ben hari ketemu dokter gantengnya mana ampun bikin gelagepan ga bisa ngomong dan gagal pokus, ya muka daku sumringah teruslah selama di rumah sakit !
Asli, lututnya paska operasi ga seberapa sakit dibanding sakit di hati gegara nahan diri naksir dokternya tauk ... ?!?! Maaf ya dok, dirimu sungguh somfereeet ... Mbok ya kalau ganteng jangan jadi dokter ... ngumpet aja di rumah, timbang bikin pasien nambah sakitnya ...
Sejak insiden salah kostum selama berurusan dengan dokter yang bikin masalah akibat buruknya penampakan, saya pikir ini masalah sudah kelar. Asli, selama sepuluh hari di rumah sakit, saya hanya sehari pakai baju pasien. Selebihnya saya selalu berpakaian dan berkerudung rapi baik di kamar dan saat therapy. Saya pun tetap pakai daster panjang dan kerudung saat tidur. Tapi ternyata, di rumah juga harus gitu yeeesss ... ?
Yeileeeehh ... agak rempong yess jadi perempuan, dandan salah waktu dan tempat ga boleh. Membiasakan tidak dandan mpe dekil seperti daku juga sebaiknya ga juga. sebab menurut saya, dandan itu butuh extra effort, keknya maksa bgt, mau ada urusan aja harus pake pelembab, (kadang alas bedak juga), terus bedakan, lipstikan, blush on walu cuma simmer aja, pinsil alis, bla, bla, bla. Iiiihh ... ga banget !!!
Tapi ya sudahlah, yuk maree belajar dandan supaya penampakan agak termaafkan. Ga nyadar pa ya, muke item keeling gitu, jangan bikin polusi pemandangan nape ... ??? Hehehe ... :p
KUNJUNGAN SAHABAT LAMA
Beliau berkunjung sejak pagi hingga bada ashar. Cukup lama ya, saya sungguh sangat menghargai kenyamanan beliau untuk berada di rumah saya seharian. Karena tidak semua orang bisa merasa nyaman berlama-lama di rumah orang lain kan ya ... ? Sementara beliau, sejak datang hingga saat makan siang memilih duduk di lantai terus. Makan pun ngariung bersama istrinya sepiring berdua. Dan kami menghabiskan waktu seharian bersama-sama sembari saya menemui tamu lain berganti2an. Alhamdulillah ....
"ITU MUKA PURE AMAT ?"
Selama para sahabat berkunjung, saya mengenakan gamis panjang warna dusty pink dan kerudung bergo pendek warna putih tulang. Pastinya, ya tidak dandan. Tapi sebelumnya saya sempat mematukan diri di cermin, sudah pantas belum ya tampang saya untuk nemuin tamu ? Saya pikir, cukup acceptable-lah (ukurannya apa, hahaha). Jadilah saya menemui tamu dengan penampakan yang seperti itu.
Seminggu berselang, saya kebetulan menghadiri pernikahan seorang saudara sepupu di mana saya bertugas sebagai penerima tamu. Maka setelah kuliah sejak pagi pukul 08:00 wib dan tiba di lokasi acara pukul 17:00 wib, tanpa mandi sore, saya pun dirias (karena mau mejeng). Saat dirias pun saya sudah minta rias yang seminimal mungkin, tanpa scot untuk menyiasati kelopak mata saya yang 'mongol' (sipit) banget,tanpa lipstick, dan tanpa didandani pakai kerudungnya. Jadilah saya memulas bibir dengan lip gloss punya ibu dan mengenakan kerudung model sederhana sendiri.
Buset, ternyata sudah di rumah pun, tampang dekil saya ini memang bikin masalah ya ? Ibunda dan rekan kerja seorang karib juga sempat berkomentar hal yang sama, "Loh, ini Firlly kok mukanya mendingan ?" hahahahaha ... Masya Allah ... ampun Tuhaaan ....
MUKA IBU PUCAT
Saya berharap para siswa saya akan memberikan masukan tentang materi atau metode saya dalam menyampaikan perkuliahan. Namun apa yang saya dapat ? Saat saya mengambil sampling 5 lembar hasil evaluasi (kritikan) mahasiswa terhadap saya dan saaya bacakan di depan kelas, yang saya dapati justru hal yang mengejutkan. Perihal penyampaian materi, mereka menghargai saya sebagai seorang yang menguasai materi dan sangat perfectionist (yes, I am). Tapi yang sangat mengejutkan, sebagian besar lembaran kritikan mereka adalah mengeluhkan penampakan saya yang tidak berdandan !!! Satu hal yang saya ingat dari catatan mereka adalah, "Ibu pucat saat di depan kelas karena tidak berdandan ..."
Buseeeeeett ...
GA SUKA DANDAN
Jadi, sejak kecil, SD bila saya hendak pergi sekolah, sudah jalan kaki meninggalkan rumah, bisa loh, ibu saya panggil saya keras-keras suruh balik lagi ke kamar, dan meminta saya agar bedakan !!! Karena apa ? Katanya kalau tidak bedakan, muka saya meling-meling alias keeling banget karena hitaaaaaaam ... !!! Hicks ... !
Dan saya ogah banget bedakan sejak kecil itu, karena kalau bedakan pakai bedak ibu kan bau Wangi kan ya ... sayanya mabok. Ingat, saya ini tukang mabok sama wangi2an, sehingga sering bikin muntah. Maklum, orang kampung. Makanya, tiap kali naik mobi, semakin bagus dan mewah mobilnya, semakin mabok dan muntah2lah saya berkendara di dalamnya .... :)
"LAMBEMU KOYO NTES MANGAN BAYI"
Euforia orang pertama kali kerja, wajarlah agak berdandan alias pakai lipstick. Ditambah lagi saat itu, bos saya itu masih muda, masih 33 tahun, good looking, tongkrongannya BMW keren warna merah. Karenanya, saya merasa perlu menyesuaikan diri dengan keberadaannya yang rapi. Sebab kalau bosnya keren, sekretarisnya dekil kan kasihan ya. Lagipula saya satu2nya sekretaris yang sarjana, kalau saya tidak lebih baik kerja dan penampakannya dari 3 sekretaris direktur lainnya, dan 2 sekretaris dirut, kan gimana ?
Nah, sekali waktu bila saya menggunakan lipstick warna normal, seperti nude yang sedang hits saat ini, alias warna alami bibir, mereka akan bertanya, "Awakmu lara yo ? Kok pucet banget sih ?" (Kamu sakit ya, kok pucat amat sih ?) Hahahaha ... lucu yaaa ... ?
JARANG BANGET BELI LIPSTIK
Sejak semula saya juga tidak bernah membersihkan muka ! Saya baru tergerak membersikan muka setelah saya menginap di rumah seorang sahabat, teman kerja di Kudus, yang sangat tomboy, namun saat hendak berangkat tidur ternyata ia menyempatkan diri untuk membersihkan wajahnya. Saya sampai bengong dibuatnya. Lah yang lebih muda, lebih tomboy aja bersihkan muka, masa saya yang ga tomboy, ga bersihkan muka ? Maka sejak itulah saya mulai bersihkan muka dengan susu pembersih dan penyegar dan tidak berganti merek sejak 1996 hingga kini ....
Hingga saat ini, tiap kali akan pergi ke undangan, pasti saya akan bingung mencari-cari lipstick. Akhirnya, saya mampir ke mini market untuk beli ... lips gloss (lagi) dan bukan lipstick ! Hahaha, begitu deh kebiasaan hingga kini. Lebaran tahun lalu, saya minta ibu belikan saya lipstick 2 buah, karena segitu ogahnya saya beli berlengkapan dandaaaaaaaaannn ... Hohoho .. oh nooo .... !!! Hicks ....
Jadi ya gitu deh, sampai-sampai nih, dulu saat saya melintas berjalan kaki dari depan pabrik menuju ke ruang kerja saya, melewati ruang-ruang pabrik rotogravure, sejumlah buruh gaduh meneriaki saya, "Mbak ! Mbak tomboy ... !!!" Hicks ... segitunya ya saya kaya laki ... ?
KEKNYA HARUS MULAI MENEMPATKAN DIRI DEH
Keknya memang harus begitu kali yes ? Ga suka dandan sih hak azasi ya. Tapi plis agak lihat2 situasi. Jangan maksa banget ga dandan terus. Tapi muka digitu2in tuh rasanya ga enak banget. Apalagi sudah bertahun2 saya ga pernah lipstick-an lagi, bibir berasa monyong dan lengket kalau ada lipstick - nya.
Dibilang muka sakit terus jadi dekil, ga selalu juga sih ya. Seorang sahabat sempat komentari foto selfie saya saat opname di rumah sakit awal Mei lalu. Katanya, "Orang sakit kok mukanya sumringah ..." Yaaa ... kalau itu sih perkaranya lain. Lawong ben hari ketemu dokter gantengnya mana ampun bikin gelagepan ga bisa ngomong dan gagal pokus, ya muka daku sumringah teruslah selama di rumah sakit !
Asli, lututnya paska operasi ga seberapa sakit dibanding sakit di hati gegara nahan diri naksir dokternya tauk ... ?!?! Maaf ya dok, dirimu sungguh somfereeet ... Mbok ya kalau ganteng jangan jadi dokter ... ngumpet aja di rumah, timbang bikin pasien nambah sakitnya ...
Yeileeeehh ... agak rempong yess jadi perempuan, dandan salah waktu dan tempat ga boleh. Membiasakan tidak dandan mpe dekil seperti daku juga sebaiknya ga juga. sebab menurut saya, dandan itu butuh extra effort, keknya maksa bgt, mau ada urusan aja harus pake pelembab, (kadang alas bedak juga), terus bedakan, lipstikan, blush on walu cuma simmer aja, pinsil alis, bla, bla, bla. Iiiihh ... ga banget !!!
Tapi ya sudahlah, yuk maree belajar dandan supaya penampakan agak termaafkan. Ga nyadar pa ya, muke item keeling gitu, jangan bikin polusi pemandangan nape ... ??? Hehehe ... :p
Tuesday, 2 June 2015
TIDAK ADA YANG KEBETULAN
Bertahun-tahun lamanya saya memendam hasrat ini, ingin berhenti bekerja. Maka saya pun berniat hati berhenti bekerja dengan memulai menghabiskan jatah cuti besar 3 (tiga) bulan efektif 18 Mei 2015 lalu sebelum akhirnya benar-benar berhenti kerja in shaa Allah setelah lebaran nanti. Namun masih juga di hari2 terakhir April, hati rasanya sudah ga betah banget, pengen segera di rumah. Saya berpikir dalam hati, "Waduh, 2 minggu lagi menuju tanggal 18 Mei masih lama ya ?" Selama itu pula berarti dunk masih harus bolak-balik bintaro - karawang ? Masya Allah ....
Dan, demikianlah hikmahnya. Saat saya secara tidak sengaja meluangkan waktu untuk memeriksakan lutut saya yang sakit selama setahun terakhir, maka keputusannya kemudian adalah mengoperasinya. Hikmahnya adalah, saya sungguh-sungguh memulai masa cuti besar saya lebih awal karena istirahat paska operasi selama 2 minggu itu dengan surat dokter. Selebihnya, saya memasuki masa cuti besar saya sembari recovery lutut saya paska operasi yang memang butuh waktu 2 - 3 bulan lamanya. Subhanallah ... tidak ada yang kebetulan dengan ketentuan Allah, bukan ... ?
MAU NGAPAIN YA ?
Jauh hari sebelum menjadwalkan cuti besar, sesungguhnya saya sudah begitu antusias memikirkan kegiatan apa yang akan saya lakukan selama di rumah nanti ya ? Bingung antara kursus menjahit (salah satu hobi saya adalah mendisain baju), kursus bikin kue, les piano dan les vocal, mengajar lagi atau kerja lagi.
Faktanya, recovery lutut saya paska operasi butuh waktu ya paling sedikit 2 - 3 bulan. Selama itu pula mobilisasi saya memang sangat terbatas. Maka saya pun lebih banyak di rumah. Menyesal ? Alhamdulillah tidak. Saya sungguh sangat menikmati keberdiaman diri saya di rumah. Alhamdulillah wa syukurillah, saya betah dan senang sekali berada di rumah seharian. Hahahaha ....
BYE BYE JERAWAT
Tahu hal apakah yang paling signifikan dengan keberdiaman diri saya di rumah selama ini ? Sejak saya tidak lagi bekerja 28 April 2015 lalu hingga kini, berangsur-angsur jerawat saya menghilang ! Sakti banget ya ? Gilingan sumpyah !
Masih berjerawat sih, bahkan beberapa waktu paska operasi jerawat aktif dan bekas jerawat item2 bertebaran di muka sudah kaya apaan tahu. Tapi sekarang, memasuki bulan kedua di rumah, jerawat itu semua sedikit demi sedikit menghilang. Keren ya hikmahnya ? Sedikit berkuranglah in shaa Allah krisis pede saya gegara jerawat stress ini. Hahaha ....
"GA BOSEN ? KAMU BUKAN ORANG RUMAHAN"
Beberapa orang dekat bahkan sahabat banyak yang surprise dengan nawaitu saya untuk berhenti bekerja. Menurut mereka, saya bukan tipe perempuan rumahan. Wah, mereka salah besar.
Saat mereka bertanya planning saya apa dalam waktu dekat, asli daku belum terpikir lagi mau apa. Dulu, saya sempat membuat beberapa rencana A, B dan C. Namun begitu saya memasuki masa indah ini di rumah, saya sekarang ga kepikiran apa-apa lagi. Saya benar-benar menikmati masa keberdiaman diri saya di rumah. Saya happy banget diem-diem aja di rumah, walaupun sendirian, ga ada anak yang diurus, kecuali anak2 kucing sepuluh ekor.
NGAPAIN DI RUMAH ?
Kini saya bisa bangun jauh lebih pagi, sebelum subuh semua pintu sudah saya buka baik pintu depan maupun pintu belakang supaya udara pagi bisa masuk. Menjelang pukul 06:00 saya sudah duduk atau berdiri di teras bermodal kedua tongkat ajaib, mengamati orang-orang dan mobil lalu lalang yang sudah mulai beraktivitas. Aaaah ... masa saya sudah lewat, tergopoh2 di pagi hari gelap gulita berangkat kerja mengejar dunia.
Masih butuh dunia sih pastinya, karena masih hidup di dunia. Tapi tak usahlah dikejar sedemikian itu. Lagi pula saya perempuan, saya bekerja bila keadaan darurat saja. Saya tidak wajib mencari nafkah.
Aktivitas saya kini ya, sekolah di akhir pekan, Jumat sore dan Sabtu seharian. Saya juga bisa kembali menyibukkan diri dengan hobi saya nguplek di dapur. Yang tak kalah seru, menikmati hasil panen buah2an dari halaman rumah, ada jambu Jamaica, papaya California dan mangga Indramayu, harum manis juga lali jiwo. Senangnya .... Alhamdulillah !
Kemarin saya juga sudah daftar les piano lagi, hal yang saya idam2kan sejak saya kecil dan baru kesampean setelah tua. Lah, baru mampu bayar lesnya sekarang setelah kerja, itu pun sempat terhenti karena les piano tapi tidak punya pianonya. Sekarang Alhamdulillah sudah ada piano sederhana di rumah, jadi sudah bisa daftar les piano lagi. Kebayang kan sekepengen apa saya bisa main piano ?
Dulu saat di Kudus, saat hasrat melukis sedemikian besar dan tidak tertahan, saya melukis bermodal cat minyak dan Vaseline body lotion, karena di Kudus agak sulit mencari minyak untuk melukis kanvas. Saat saya hijrah ke Jakarta di tahun 1998, sekitar sepuluh kanvas hasil lukisan saya yang hampir kesemuanya berukuran besar 1 m x 1 m, saya tinggal dan saya bagi2kan kepada teman-teman di Kudus. Hahahaha ... ! Sok pelukis ngetop aja lagaknya ya ... ?
Kini saya juga mulai aktif ngeblog lagi, walaupun belum kembali ngeblog serius perkara ilmiah. Bertahun-tahun tidak produktif dan otak idle membuat saya agak lemot saat ngeblog tahun-tahun belakangan ini. Saya pikir saya perlu kasih kesempatan otak untuk kembali beraktivitas normal. Teringat ucapan dokter saya yang ganteng itu, "Kasih kesempatan kakinya untuk sembuh ..." katanya mensupport daku yang sesenggukan saat beliau visit di suatu siang.
2nd PATH OF MY LIFE
Ya beginilah, kini saya memasuki fase itu rupanya. Padahal tajir juga ngga ya, tapi kok saya sudah cape ya. Needs saya bukan lagi soal itu. Masih pengen sih beli high heels atau sepatu boot, tapi beda aja. Ga gimana-gimana gitu.
Asli, ada sedikit kekhawatiran dalam hati, bila saya tidak bekerja, tidak punya uang sendiri lagi, maka bila kualitas hidup saya akan menurun, maka apakah saya mampu ? Tapi sementara Allah menjanjikan rahmat dan karunia yang teramat besar bagi diri kita ? Jadi tidak seharusnya saya mengkhawatirkan hal itu ya ... ?
Semoga istiqomah ya. Ga kebayang kalau punya bayi atau anak di rumah. Makin betah mungkin saya ya diem-diem di rumah ? Tapi ya itu, Allah paling tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita mau. Karena tidak ada yang kebetulan segala hal di dunia ini. Begitupun dengan apa yang saya alami. Semuanya begitu pas, perfect, tanpa ada yang dipaksakan gitu, mengalir begitu saja, berjalan di atas relnya, subhanallah !
Semoga Allah ridho dengan nawaitu saya. Semoga saya dimudahkan segala urusan. Semoga saya tetap dilindungi dan senantiasa lurus dalam niat. Semoga saya selamat dunia dan akherat. Semoga saya selamat dari fitnah dan kehinaan dunia dan akherat. Aamiin ... aamiin ... aamiin ... yaa rabbal alamin ....
Dan, demikianlah hikmahnya. Saat saya secara tidak sengaja meluangkan waktu untuk memeriksakan lutut saya yang sakit selama setahun terakhir, maka keputusannya kemudian adalah mengoperasinya. Hikmahnya adalah, saya sungguh-sungguh memulai masa cuti besar saya lebih awal karena istirahat paska operasi selama 2 minggu itu dengan surat dokter. Selebihnya, saya memasuki masa cuti besar saya sembari recovery lutut saya paska operasi yang memang butuh waktu 2 - 3 bulan lamanya. Subhanallah ... tidak ada yang kebetulan dengan ketentuan Allah, bukan ... ?MAU NGAPAIN YA ?
Faktanya, recovery lutut saya paska operasi butuh waktu ya paling sedikit 2 - 3 bulan. Selama itu pula mobilisasi saya memang sangat terbatas. Maka saya pun lebih banyak di rumah. Menyesal ? Alhamdulillah tidak. Saya sungguh sangat menikmati keberdiaman diri saya di rumah. Alhamdulillah wa syukurillah, saya betah dan senang sekali berada di rumah seharian. Hahahaha ....
BYE BYE JERAWAT
"GA BOSEN ? KAMU BUKAN ORANG RUMAHAN"
Beberapa orang dekat bahkan sahabat banyak yang surprise dengan nawaitu saya untuk berhenti bekerja. Menurut mereka, saya bukan tipe perempuan rumahan. Wah, mereka salah besar.Saat mereka bertanya planning saya apa dalam waktu dekat, asli daku belum terpikir lagi mau apa. Dulu, saya sempat membuat beberapa rencana A, B dan C. Namun begitu saya memasuki masa indah ini di rumah, saya sekarang ga kepikiran apa-apa lagi. Saya benar-benar menikmati masa keberdiaman diri saya di rumah. Saya happy banget diem-diem aja di rumah, walaupun sendirian, ga ada anak yang diurus, kecuali anak2 kucing sepuluh ekor.
NGAPAIN DI RUMAH ?
Kini saya bisa bangun jauh lebih pagi, sebelum subuh semua pintu sudah saya buka baik pintu depan maupun pintu belakang supaya udara pagi bisa masuk. Menjelang pukul 06:00 saya sudah duduk atau berdiri di teras bermodal kedua tongkat ajaib, mengamati orang-orang dan mobil lalu lalang yang sudah mulai beraktivitas. Aaaah ... masa saya sudah lewat, tergopoh2 di pagi hari gelap gulita berangkat kerja mengejar dunia.
Masih butuh dunia sih pastinya, karena masih hidup di dunia. Tapi tak usahlah dikejar sedemikian itu. Lagi pula saya perempuan, saya bekerja bila keadaan darurat saja. Saya tidak wajib mencari nafkah.Aktivitas saya kini ya, sekolah di akhir pekan, Jumat sore dan Sabtu seharian. Saya juga bisa kembali menyibukkan diri dengan hobi saya nguplek di dapur. Yang tak kalah seru, menikmati hasil panen buah2an dari halaman rumah, ada jambu Jamaica, papaya California dan mangga Indramayu, harum manis juga lali jiwo. Senangnya .... Alhamdulillah !
2nd PATH OF MY LIFE
Ya beginilah, kini saya memasuki fase itu rupanya. Padahal tajir juga ngga ya, tapi kok saya sudah cape ya. Needs saya bukan lagi soal itu. Masih pengen sih beli high heels atau sepatu boot, tapi beda aja. Ga gimana-gimana gitu.
Asli, ada sedikit kekhawatiran dalam hati, bila saya tidak bekerja, tidak punya uang sendiri lagi, maka bila kualitas hidup saya akan menurun, maka apakah saya mampu ? Tapi sementara Allah menjanjikan rahmat dan karunia yang teramat besar bagi diri kita ? Jadi tidak seharusnya saya mengkhawatirkan hal itu ya ... ?
Semoga Allah ridho dengan nawaitu saya. Semoga saya dimudahkan segala urusan. Semoga saya tetap dilindungi dan senantiasa lurus dalam niat. Semoga saya selamat dunia dan akherat. Semoga saya selamat dari fitnah dan kehinaan dunia dan akherat. Aamiin ... aamiin ... aamiin ... yaa rabbal alamin ....
Monday, 1 June 2015
TETAP SEMANGAT ! TETAP YAKIN ! TETAP LATIHAN ! TETAP POSITIVE THINKING YA !
LATE IN RESPONSE IS A NOISE IN COMMUNICATION
Ceritanya, sejak insiden suntik yang traumatic 20 Mei 2015 lalu, saya memang jadi bermasalah banget berurusan dengan rumah sakit. Saya jadi berhenti terapi bahkan mundurin jadwal ketemu dokter untuk kontrol dan ga pengen lihat mukanya lagi ! Tapi begitu obatnya habis, tidak ada cara lain, saya pun harus menemui si dokter ganteng itu. Dan Jumat, 29 Mei 2015 saya datang kontrol dengan hati tidak karua-karuan serta pulang dengan tidak hepi lantaran sejumlah pertanyaan tak terjawab menggantung di kepala.
Waktu yang sangat terbatas saat kontrol, keberadaan suster hingga 2 orang di dalam ruang periksa ditambah seorang suster batak yang galaknya minta ampun, bikin saya sungguh ga nyaman dan ga punya privacy untuk bertanya berbagai hal menyoal lutut saya. Dan itu bikin saya bete, ga hepi. Sebab untuk bisa bertanya lagi, saya kudu menunggu pertemuan berikutnya, sementara aktivitas saya kan tetap berlanjut. Saya tidak mau kesalahan gegara tidak cukup informasi donts dan do's selama proses penyembuhan.
Iya, bertanya melalui whatsapp atau email bisa saja. Tapi menurut saya cara itu sangat mengganggu privacy dan takes time (email). Saya jadi serba salah. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk menyampaikan sejumlah pertanyaan melalui email. Konsekuensinya, ya itu, email dijawab 3 (tiga) hari kemudian.
Lamanya dokter dalam menjawab email saya membuat saya memutuskan untuk menemui dokter lain. Maka Senin, 1 Juni 2015 saya pun menemui kolega dokter ganteng yang antriannya, masya Allah ! Masalahnya kedua dokter ini praktek di waktu yang bersamaan dan ruang prakteknya pun bersebelahan hanya bersela sebuah ruang suster untuk mengukur tensi dan berat badan. Hingga saya pun merasa perlu pindah duduk 3x agar terhindar dari pandangan suster dan dokter kalau2 mereka melintas di sepan muka saya.
Benar saja ! Sesaat setelah saya pindah dan mencari kursi agak tersembunyi di balik pilar besar, tak sengaja saya melepaskan padangan dari gadget, saya dapati si ganteng baru saja meninggalkan ruang suster sambil membaca BB-nya, berjalan menuju ruang periksa. Ops ! Nyaris saja ! Sebab semula saya duduk persis di depan pintu ruang suster, lalu pindah di depan pintu ruang praktek dokter, lalu pindah lagi mundur ke belakang. BTW, saya tidak tahu kapan itu dokter masuk ruang suster ! Jangan2 beliau masuk saat saya masih duduk persis di depan ruang suster ya ?
Akhirnya, setelah menunggu hanya sekitar setengah jam, tiba giliran saya menemui dokter ini. Sesungguhnya, saya pernah bertemu beliau saat operasi. Sebab saat sebelum operasi saya sempat bertanya pada dokter ganteng saya itu, "This is not your first surgery, kan ya Doc ?" Lalu beliau memastikan bahwa ini bukan pertama kalinya mengoperasi lutut dan beliau akan didampingi oleh dokter orthopaedic lain yang juga spesialisasi dalam hal lutut. Nah, dokter inilah yang sempat diperkenalkan si dokter ganteng pada saya sesaat setelah saya memasuki ruang tunggu/transisi di area ruang operasi.
"WAIT, WAIT, WAIT !"
Maka saat saya memasuki ruang periksa dan menyampaikan salam, beliau menjawab salam saya dengan tenang dan lengkap sembari memandangi saya agak gimana gitu. Begitu obrolan dimulai dan saya menjelaskan duduk perkara saya dan hal-hal yang ingin saya ketahui, beliau mulai bingung. "Wait, wait, wait ...What's your name ?" tanyanya. "Firlly, Doc" jawab saya. Walaupun bahasa inggris saya belepotan, saya selalu berkomunikasi in English dengan si ganteng, begitu pun dengan yang dokter yang satu ini.
Setelah beliau cek profil pasien di komputernya, akhirnya beliau terdiam, membaca sebentar, baru komentar. "Oh, pantesan. Saya tidak operasi kamu (langsung), tapi kok tiba-tiba datang kontrol ? Ternyata kamu dioperasi oleh dokter *****," beliau menyebut nama si ganteng. "Iya, Doc" jawab saya pendek dan membiarkan beliau membaca detil rekam medis saya dari catatan si ganteng selama ini.
"Oh, ya now I remember. I met you on that day," katanya. "Yup" kata saya. "But you don't know me," katanya lagi. "I know you, Doc. Cos' he (si ganteng) told me that there would be another doctor who will accompany him during the operation and he introduce you to me at the operation theater before the operation was done," saya mencoba menjelaskan. Hahaha, clear, akhirnya kami masing-masing sama-sama mengerti dan menyadari sudah saling bertemu.
Begitulah, diskusi siang itu dengan dokter ini sangat menyenangkan. Beliau usianya mungkin sedikit di atas saya, bukan brondong seperti si ganteng. Kenyamanan yang saya rasakan berurusan dengan dokter ini beda dengan saat berurusan dengan si ganteng. Tidak ada pembatas gitu ya. Saya merasa tidak perlu terlalu berhati-hati menjaga sikap saya gitu, normal saja sebab beliau orangnya hangat dan caring. Entah apa bedanya dengan si ganteng, tapi beda saja, saya bisa lepas.
Sementara dengan si ganteng, serasa ada tembok besar di antara saya dengan beliau. Selain mungkin sayanya kepincut cos' first love at the first sight ditambah dengan personal character-nya yang sangat humble, beliau juga bersikap sangat berhati-hati dan sangat menghargai saya. Tentu hal itu membuat saya semakin harus membatasi diri dan mengerti posisi saya kan ya. Jadilah, walaupun beliau begitu baik dan tak kalah caring, tapi saya jadi berasa sejuta jengah berada dekat beliau karena saya sungguh respect kepadanya.
Kembali ke dokter yang satu ini, beliau lalu memulai semua penjelasan dari awal dan saya sudah diminta bersiap di kasur periksa. "Ada fotonya ?" tanyanya. "Yup, in my bag" jawab saya. Beliau beringsut dari kursinya menuju kursi saya dan mengambil foto dari dalam tas besar rumah sakit yang berisi semua rekam medis, surat-surat, obat, keperluan injeksi dll, yang selalu saya tenteng setiap kali kontrol.
"Sudah tahu ?" tanyanya. "No, I don't," jawab saya. "Katanya sudah dijelaskan ?" tanyanya lagi. "Yeah, but I don't really understand, Doc" jawab saya. "Okay ..." katanya dan beliau memulai menggambar dan menjelaskan lagi, mengedukasi saya in English. Lalu beliau mulai memeriksa lutut saya, saya pun menyampaikan keluhan saya, soal suntikan yang sakit, soal nyupir, naik tangga, jalan jauh, insiden sering mau jatuh, bla, bla, bla. Diskusi pun berjalan lancar. Saya pun pulang dengan hepi.
Yang tak kalah menyenangkan, berada di ruang periksa dokter yang ini, hanya ada 1 suster, sementara di ruang periksa si ganteng, saya ditongkrongin 2 orang suster, dan ditutup dengan seorang suster batak yang galak, total ada 3 orang suster yang nongkrongin saya saat periksa ! Nyebelin kan ?
SORRY FOR DELAYED RESPONSE
Tiba-tiba bada maghrib, sebuah email dari si dokter ganteng masuk. Saya membacanya. Email yang cukup panjang untuk seorang dokter spesialis dan saya tahu takes time untuk menjawabnya. Gimana tidak panjang, pertanyaan saya saja bererot, tapi asli beliau menjawab semua pertanyaan saya dengan detil.
Saya tertegun bacanya. Sebab email itu sangat positif dan penuh motivasi. Agak bingung juga saya, menyadari bahwa saya merasa kondisi saya bbrp minggu belakangan ini bukan kondisi saya yang terbaik. Namun beliau justru menyampaikan banyak hal positif berkaitan dengan kemajuan kondisi lutut saya.
Di akhir emailnya, inilah yang beliau tuliskan "Kamu harus tetap semangat dan yakin bahwa bisa pulih kembali ... tetap semangat ! tetap yakin ! tetap latihan ! tetap positive thinking ya !" How touching ya, sangat personal touch sekali untuk yang lagi ... yah begini deh rasanya jadi orang disable ternyata. Dan saya sangat menghargai perhatian beliau ini.
Beliau juga say sorry for delayed response. Masalahnya, saya sudah terlanjur nyupir jauh ke mana-mana, padahal beliau anjurkan tidak berkendara terlalu jauh. Ya sudah, besok2 ngampus atau pergi jauh naik taksi lagi dah. Sebelumnya, beliau juga pernah say sorry karena memundurkan jadwal operasi satu hari, dari rabu ke kamis, tidak seperti yang kita sepakati bersama sebelumnya.
MISS UNDERSTANDING
Gitu deh kalau komunikasi ga lancar. Sementara kebutuhan akan informasi mendesak namun supply informasi yang dibutuhkan tidak ada. Akhirnya saya pun memutuskan melakukan plan B. Walaupun ternyata akhirnya informasi terpenuhi juga, tapi sudah tidak punya news value lagi, karena sudah lewat kebutuhannya.
Masalahnya saya berkomunikasi dengan dokter bukan dengan wartawan. Jadi, bargaining position beliau lebih tinggi ya, dan saya tidak bisa memaksa. Lagi pula hal-hal lain pun berkontribusi membuat komunikasi saya dengan si dokter ganteng agak tidak lancar. Yang bisa saya lakukan ya pergi ke dokter lain.
Namun yang terpenting, urusan miss understanding ini sudah clear. Saya sempat mengira ada yang salah dengan sikap saya sehingga beliau tidak merespon email saya. Ternyata tidak begitu. Ya saya pun merasa perlu mohon maaf lahir batin sama si ganteng dalam balasan email saya semalam, yang entah kapan lagi dijawabnya. Hahahaha ....
Waktu yang sangat terbatas saat kontrol, keberadaan suster hingga 2 orang di dalam ruang periksa ditambah seorang suster batak yang galaknya minta ampun, bikin saya sungguh ga nyaman dan ga punya privacy untuk bertanya berbagai hal menyoal lutut saya. Dan itu bikin saya bete, ga hepi. Sebab untuk bisa bertanya lagi, saya kudu menunggu pertemuan berikutnya, sementara aktivitas saya kan tetap berlanjut. Saya tidak mau kesalahan gegara tidak cukup informasi donts dan do's selama proses penyembuhan.
Lamanya dokter dalam menjawab email saya membuat saya memutuskan untuk menemui dokter lain. Maka Senin, 1 Juni 2015 saya pun menemui kolega dokter ganteng yang antriannya, masya Allah ! Masalahnya kedua dokter ini praktek di waktu yang bersamaan dan ruang prakteknya pun bersebelahan hanya bersela sebuah ruang suster untuk mengukur tensi dan berat badan. Hingga saya pun merasa perlu pindah duduk 3x agar terhindar dari pandangan suster dan dokter kalau2 mereka melintas di sepan muka saya.
Benar saja ! Sesaat setelah saya pindah dan mencari kursi agak tersembunyi di balik pilar besar, tak sengaja saya melepaskan padangan dari gadget, saya dapati si ganteng baru saja meninggalkan ruang suster sambil membaca BB-nya, berjalan menuju ruang periksa. Ops ! Nyaris saja ! Sebab semula saya duduk persis di depan pintu ruang suster, lalu pindah di depan pintu ruang praktek dokter, lalu pindah lagi mundur ke belakang. BTW, saya tidak tahu kapan itu dokter masuk ruang suster ! Jangan2 beliau masuk saat saya masih duduk persis di depan ruang suster ya ?
Akhirnya, setelah menunggu hanya sekitar setengah jam, tiba giliran saya menemui dokter ini. Sesungguhnya, saya pernah bertemu beliau saat operasi. Sebab saat sebelum operasi saya sempat bertanya pada dokter ganteng saya itu, "This is not your first surgery, kan ya Doc ?" Lalu beliau memastikan bahwa ini bukan pertama kalinya mengoperasi lutut dan beliau akan didampingi oleh dokter orthopaedic lain yang juga spesialisasi dalam hal lutut. Nah, dokter inilah yang sempat diperkenalkan si dokter ganteng pada saya sesaat setelah saya memasuki ruang tunggu/transisi di area ruang operasi.
"WAIT, WAIT, WAIT !"
Maka saat saya memasuki ruang periksa dan menyampaikan salam, beliau menjawab salam saya dengan tenang dan lengkap sembari memandangi saya agak gimana gitu. Begitu obrolan dimulai dan saya menjelaskan duduk perkara saya dan hal-hal yang ingin saya ketahui, beliau mulai bingung. "Wait, wait, wait ...What's your name ?" tanyanya. "Firlly, Doc" jawab saya. Walaupun bahasa inggris saya belepotan, saya selalu berkomunikasi in English dengan si ganteng, begitu pun dengan yang dokter yang satu ini.
Setelah beliau cek profil pasien di komputernya, akhirnya beliau terdiam, membaca sebentar, baru komentar. "Oh, pantesan. Saya tidak operasi kamu (langsung), tapi kok tiba-tiba datang kontrol ? Ternyata kamu dioperasi oleh dokter *****," beliau menyebut nama si ganteng. "Iya, Doc" jawab saya pendek dan membiarkan beliau membaca detil rekam medis saya dari catatan si ganteng selama ini.
"Oh, ya now I remember. I met you on that day," katanya. "Yup" kata saya. "But you don't know me," katanya lagi. "I know you, Doc. Cos' he (si ganteng) told me that there would be another doctor who will accompany him during the operation and he introduce you to me at the operation theater before the operation was done," saya mencoba menjelaskan. Hahaha, clear, akhirnya kami masing-masing sama-sama mengerti dan menyadari sudah saling bertemu.Begitulah, diskusi siang itu dengan dokter ini sangat menyenangkan. Beliau usianya mungkin sedikit di atas saya, bukan brondong seperti si ganteng. Kenyamanan yang saya rasakan berurusan dengan dokter ini beda dengan saat berurusan dengan si ganteng. Tidak ada pembatas gitu ya. Saya merasa tidak perlu terlalu berhati-hati menjaga sikap saya gitu, normal saja sebab beliau orangnya hangat dan caring. Entah apa bedanya dengan si ganteng, tapi beda saja, saya bisa lepas.
Sementara dengan si ganteng, serasa ada tembok besar di antara saya dengan beliau. Selain mungkin sayanya kepincut cos' first love at the first sight ditambah dengan personal character-nya yang sangat humble, beliau juga bersikap sangat berhati-hati dan sangat menghargai saya. Tentu hal itu membuat saya semakin harus membatasi diri dan mengerti posisi saya kan ya. Jadilah, walaupun beliau begitu baik dan tak kalah caring, tapi saya jadi berasa sejuta jengah berada dekat beliau karena saya sungguh respect kepadanya.
Kembali ke dokter yang satu ini, beliau lalu memulai semua penjelasan dari awal dan saya sudah diminta bersiap di kasur periksa. "Ada fotonya ?" tanyanya. "Yup, in my bag" jawab saya. Beliau beringsut dari kursinya menuju kursi saya dan mengambil foto dari dalam tas besar rumah sakit yang berisi semua rekam medis, surat-surat, obat, keperluan injeksi dll, yang selalu saya tenteng setiap kali kontrol.
Yang tak kalah menyenangkan, berada di ruang periksa dokter yang ini, hanya ada 1 suster, sementara di ruang periksa si ganteng, saya ditongkrongin 2 orang suster, dan ditutup dengan seorang suster batak yang galak, total ada 3 orang suster yang nongkrongin saya saat periksa ! Nyebelin kan ?
SORRY FOR DELAYED RESPONSE
Saya tertegun bacanya. Sebab email itu sangat positif dan penuh motivasi. Agak bingung juga saya, menyadari bahwa saya merasa kondisi saya bbrp minggu belakangan ini bukan kondisi saya yang terbaik. Namun beliau justru menyampaikan banyak hal positif berkaitan dengan kemajuan kondisi lutut saya.
Di akhir emailnya, inilah yang beliau tuliskan "Kamu harus tetap semangat dan yakin bahwa bisa pulih kembali ... tetap semangat ! tetap yakin ! tetap latihan ! tetap positive thinking ya !" How touching ya, sangat personal touch sekali untuk yang lagi ... yah begini deh rasanya jadi orang disable ternyata. Dan saya sangat menghargai perhatian beliau ini.
Beliau juga say sorry for delayed response. Masalahnya, saya sudah terlanjur nyupir jauh ke mana-mana, padahal beliau anjurkan tidak berkendara terlalu jauh. Ya sudah, besok2 ngampus atau pergi jauh naik taksi lagi dah. Sebelumnya, beliau juga pernah say sorry karena memundurkan jadwal operasi satu hari, dari rabu ke kamis, tidak seperti yang kita sepakati bersama sebelumnya.
MISS UNDERSTANDING
Gitu deh kalau komunikasi ga lancar. Sementara kebutuhan akan informasi mendesak namun supply informasi yang dibutuhkan tidak ada. Akhirnya saya pun memutuskan melakukan plan B. Walaupun ternyata akhirnya informasi terpenuhi juga, tapi sudah tidak punya news value lagi, karena sudah lewat kebutuhannya.
Masalahnya saya berkomunikasi dengan dokter bukan dengan wartawan. Jadi, bargaining position beliau lebih tinggi ya, dan saya tidak bisa memaksa. Lagi pula hal-hal lain pun berkontribusi membuat komunikasi saya dengan si dokter ganteng agak tidak lancar. Yang bisa saya lakukan ya pergi ke dokter lain.
Namun yang terpenting, urusan miss understanding ini sudah clear. Saya sempat mengira ada yang salah dengan sikap saya sehingga beliau tidak merespon email saya. Ternyata tidak begitu. Ya saya pun merasa perlu mohon maaf lahir batin sama si ganteng dalam balasan email saya semalam, yang entah kapan lagi dijawabnya. Hahahaha ....
Subscribe to:
Posts (Atom)







