Dalam rangka operasi lutut ini, maka Alhamdulillah banyak kawan datang berkunjung untuk besuk. Walaupun lelah ya, mesti berdiri seharian sejak pagi subuh sudah masak, gerak sana-sini, namanya juga terima tamu ya, open house, teman-teman yang datang banyak, tapi daku senang sekali. Lagipula kata dokternya waktu daku kabur dari rumah sakit untuk kuliah dan pulang pukul sebelas malam mpe tepar tingkat dewa, dokternya bilang, itu sudah therapy mandiri namanya. Jadi ya sudah, anggap saja ini sebagai therapy mandiri ....
KUNJUNGAN SAHABAT LAMA
Nah ... ini dia yang lucu .... Sekali lagi ya, namanya juga orang sakit, pasti tampangnya ya begitu itu (excuse banget ya), dekil sekali. Jadi ceritanya ada seorang sahabat di FB yang kami berteman cukup intensif. Rupanya dulu kami pernah satu SMA, tapi saya sudah lupa. Jadilah kita menyambung silaturahim kembali melalui jejaring sosial. Dan datanglah beliau berkunjung bersama istri dan seorang anaknya yang cantik jelita pujaan hati saya, Amira namanya.
Beliau berkunjung sejak pagi hingga bada ashar. Cukup lama ya, saya sungguh sangat menghargai kenyamanan beliau untuk berada di rumah saya seharian. Karena tidak semua orang bisa merasa nyaman berlama-lama di rumah orang lain kan ya ... ? Sementara beliau, sejak datang hingga saat makan siang memilih duduk di lantai terus. Makan pun ngariung bersama istrinya sepiring berdua. Dan kami menghabiskan waktu seharian bersama-sama sembari saya menemui tamu lain berganti2an. Alhamdulillah ....
"ITU MUKA PURE AMAT ?"
Selama para sahabat berkunjung, saya mengenakan gamis panjang warna dusty pink dan kerudung bergo pendek warna putih tulang. Pastinya, ya tidak dandan. Tapi sebelumnya saya sempat mematukan diri di cermin, sudah pantas belum ya tampang saya untuk nemuin tamu ? Saya pikir, cukup acceptable-lah (ukurannya apa, hahaha). Jadilah saya menemui tamu dengan penampakan yang seperti itu.
Seminggu berselang, saya kebetulan menghadiri pernikahan seorang saudara sepupu di mana saya bertugas sebagai penerima tamu. Maka setelah kuliah sejak pagi pukul 08:00 wib dan tiba di lokasi acara pukul 17:00 wib, tanpa mandi sore, saya pun dirias (karena mau mejeng). Saat dirias pun saya sudah minta rias yang seminimal mungkin, tanpa scot untuk menyiasati kelopak mata saya yang 'mongol' (sipit) banget,tanpa lipstick, dan tanpa didandani pakai kerudungnya. Jadilah saya memulas bibir dengan lip gloss punya ibu dan mengenakan kerudung model sederhana sendiri.
Nah ... kelar mejeng terima tamu, maka saya selfie - welfie dah, sama saudara-saudara. Hasilnya, seperti biasa, up load dunk di social media. Maksud hati saya mau nunjukkin, ternyata sipit mata saya itu asli sumpah ga nahanin ya ? Bukannya tidak bersyukur, tapi takjub aja, sesipit itu gitu loh .... Namun komentar yang didapat malah bukan matanya, tapi soal puja-puji yang intinya, penampakannya saya agak beres-lah ketimbang keseharian saya yang ternyata kalau menyimak komentar para sahabat itu, menyedihkan banget berarti dunk ya selama ini ? Termasuk, sahabat yang kemarin berkunjung. Beliau berkomentar pada wall FB saya, "Itu kemarin muka pure amat ya, apa karena sedang sakit ?" Hahahaha ... !!!!
Buset, ternyata sudah di rumah pun, tampang dekil saya ini memang bikin masalah ya ? Ibunda dan rekan kerja seorang karib juga sempat berkomentar hal yang sama, "Loh, ini Firlly kok mukanya mendingan ?" hahahahaha ... Masya Allah ... ampun Tuhaaan ....
MUKA IBU PUCAT
Asal tahu aja, menyoal muka saya yang dekil ini memang banyak ceritanya. Beberapa waktu lalu saat saya menutup periode mengajar mata kuliah manajemen humas selama satu semester di sebuah universitas swasta, saya meminta kepada lebih dari 50 mahasiswa saya untuk menyampaikan sedikitnya 5 kritikannya dalam selembar kertas perihal performansi saya selama ini saat mengajar.
Saya berharap para siswa saya akan memberikan masukan tentang materi atau metode saya dalam menyampaikan perkuliahan. Namun apa yang saya dapat ? Saat saya mengambil sampling 5 lembar hasil evaluasi (kritikan) mahasiswa terhadap saya dan saaya bacakan di depan kelas, yang saya dapati justru hal yang mengejutkan. Perihal penyampaian materi, mereka menghargai saya sebagai seorang yang menguasai materi dan sangat perfectionist (yes, I am). Tapi yang sangat mengejutkan, sebagian besar lembaran kritikan mereka adalah mengeluhkan penampakan saya yang tidak berdandan !!! Satu hal yang saya ingat dari catatan mereka adalah, "Ibu pucat saat di depan kelas karena tidak berdandan ..."
Buseeeeeett ...
GA SUKA DANDAN
Daku ga protes sih dikritik begitu, dan daku sampaikan bahwa kritikan mereka sangat konstruktif dan bermafaat bagi saya, karena faktanya saya memang tidak suka berdandan, sejak duluuuuuuuuu ... !!!
Jadi, sejak kecil, SD bila saya hendak pergi sekolah, sudah jalan kaki meninggalkan rumah, bisa loh, ibu saya panggil saya keras-keras suruh balik lagi ke kamar, dan meminta saya agar bedakan !!! Karena apa ? Katanya kalau tidak bedakan, muka saya meling-meling alias keeling banget karena hitaaaaaaam ... !!! Hicks ... !
Begitu pun saat 1997 saat saya operasi usus buntu, tepar di rumah sakit, ibu terus memaksa saya untuk dandan, bedakan selama diopname ! Gilingan ga tuuuh ... ?
Dan saya ogah banget bedakan sejak kecil itu, karena kalau bedakan pakai bedak ibu kan bau Wangi kan ya ... sayanya mabok. Ingat, saya ini tukang mabok sama wangi2an, sehingga sering bikin muntah. Maklum, orang kampung. Makanya, tiap kali naik mobi, semakin bagus dan mewah mobilnya, semakin mabok dan muntah2lah saya berkendara di dalamnya .... :)
"LAMBEMU KOYO NTES MANGAN BAYI"
Saya pernah berdandan medio Januari 1996 - Juli 1998 saat pertama kali bekerja formal di sebuah perusahaan besar di kota Kudus. Saat itu, saya bekerja sebagai sekretaris Direktur Marketing dan berakhir sebagai sekretaris Vice President Director yang notabene adalah juga anak pemilik pabrik berpekerja lebih dari 8.000 orang.
Euforia orang pertama kali kerja, wajarlah agak berdandan alias pakai lipstick. Ditambah lagi saat itu, bos saya itu masih muda, masih 33 tahun, good looking, tongkrongannya BMW keren warna merah. Karenanya, saya merasa perlu menyesuaikan diri dengan keberadaannya yang rapi. Sebab kalau bosnya keren, sekretarisnya dekil kan kasihan ya. Lagipula saya satu2nya sekretaris yang sarjana, kalau saya tidak lebih baik kerja dan penampakannya dari 3 sekretaris direktur lainnya, dan 2 sekretaris dirut, kan gimana ?
Jadilah saya tampil dengan high heels, rok super pendek (masa jahiliyah, masih 22 tahun), dan lipstick colour stay Revlon warna maroon, pink, atau fucia yang saat itu hits banget ! Segitu chic-nya penampakannya saya saat itu, sampai2 seorang rekan kerja komentar, "Mba, kowe macak ngono suwe2 dipek bojo karo Pak Rendy ..." (Mbak, kamu berdandan begitu lama-lama dijadikan istri sama Pak Rendy - bos saya) hahahaha .... Sementara perihal lipstick saya yang cetar membahana itu, teman-teman saya di prepress selalu bilang, "Lambemu koyo ntes mangan bayi ..." (Bibirmu seperti habis makan bayi) Hahahahaha ... segitu merah ntah kaya apaan tahu .... :p
Nah, sekali waktu bila saya menggunakan lipstick warna normal, seperti nude yang sedang hits saat ini, alias warna alami bibir, mereka akan bertanya, "Awakmu lara yo ? Kok pucet banget sih ?" (Kamu sakit ya, kok pucat amat sih ?) Hahahaha ... lucu yaaa ... ?
JARANG BANGET BELI LIPSTIK
Sejujurnya sejak dulu itu saya ya jarang banget beli perlengkapan make up. Saya hanya beli bedak dan pelembab dengan merek yang sama seperti yang digunakan tante saya. Saya menggunakan merek yang sama sejak tahun 1996 hingga 2008 - an, hampir 12 tahunan ! Sekarang saya menggunakan merek yang berbeda hingga saat ini.
Sejak semula saya juga tidak bernah membersihkan muka ! Saya baru tergerak membersikan muka setelah saya menginap di rumah seorang sahabat, teman kerja di Kudus, yang sangat tomboy, namun saat hendak berangkat tidur ternyata ia menyempatkan diri untuk membersihkan wajahnya. Saya sampai bengong dibuatnya. Lah yang lebih muda, lebih tomboy aja bersihkan muka, masa saya yang ga tomboy, ga bersihkan muka ? Maka sejak itulah saya mulai bersihkan muka dengan susu pembersih dan penyegar dan tidak berganti merek sejak 1996 hingga kini ....
Lipstik, aslinya juga jarang beli. Saya mengandalkan sampel pemberian adik saya yang kebetulan saat itu bekerja di perusahaan yang membuat casing alat-alat kecantikan, baik itu lipstick maupun bedak. Maka jadilah saya berdandan bermodalkan barang sampel (contoh) ga pernah beli.
Hingga saat ini, tiap kali akan pergi ke undangan, pasti saya akan bingung mencari-cari lipstick. Akhirnya, saya mampir ke mini market untuk beli ... lips gloss (lagi) dan bukan lipstick ! Hahaha, begitu deh kebiasaan hingga kini. Lebaran tahun lalu, saya minta ibu belikan saya lipstick 2 buah, karena segitu ogahnya saya beli berlengkapan dandaaaaaaaaannn ... Hohoho .. oh nooo .... !!! Hicks ....
Jadi ya gitu deh, sampai-sampai nih, dulu saat saya melintas berjalan kaki dari depan pabrik menuju ke ruang kerja saya, melewati ruang-ruang pabrik rotogravure, sejumlah buruh gaduh meneriaki saya, "Mbak ! Mbak tomboy ... !!!" Hicks ... segitunya ya saya kaya laki ... ?
KEKNYA HARUS MULAI MENEMPATKAN DIRI DEH
Keknya memang harus begitu kali yes ? Ga suka dandan sih hak azasi ya. Tapi plis agak lihat2 situasi. Jangan maksa banget ga dandan terus. Tapi muka digitu2in tuh rasanya ga enak banget. Apalagi sudah bertahun2 saya ga pernah lipstick-an lagi, bibir berasa monyong dan lengket kalau ada lipstick - nya.
Dibilang muka sakit terus jadi dekil, ga selalu juga sih ya. Seorang sahabat sempat komentari foto selfie saya saat opname di rumah sakit awal Mei lalu. Katanya, "Orang sakit kok mukanya sumringah ..." Yaaa ... kalau itu sih perkaranya lain. Lawong ben hari ketemu dokter gantengnya mana ampun bikin gelagepan ga bisa ngomong dan gagal pokus, ya muka daku sumringah teruslah selama di rumah sakit !
Asli, lututnya paska operasi ga seberapa sakit dibanding sakit di hati gegara nahan diri naksir dokternya tauk ... ?!?! Maaf ya dok, dirimu sungguh somfereeet ... Mbok ya kalau ganteng jangan jadi dokter ... ngumpet aja di rumah, timbang bikin pasien nambah sakitnya ...
Sejak insiden salah kostum selama berurusan dengan dokter yang bikin masalah akibat buruknya penampakan, saya pikir ini masalah sudah kelar. Asli, selama sepuluh hari di rumah sakit, saya hanya sehari pakai baju pasien. Selebihnya saya selalu berpakaian dan berkerudung rapi baik di kamar dan saat therapy. Saya pun tetap pakai daster panjang dan kerudung saat tidur. Tapi ternyata, di rumah juga harus gitu yeeesss ... ?
Yeileeeehh ... agak rempong yess jadi perempuan, dandan salah waktu dan tempat ga boleh. Membiasakan tidak dandan mpe dekil seperti daku juga sebaiknya ga juga. sebab menurut saya, dandan itu butuh extra effort, keknya maksa bgt, mau ada urusan aja harus pake pelembab, (kadang alas bedak juga), terus bedakan, lipstikan, blush on walu cuma simmer aja, pinsil alis, bla, bla, bla. Iiiihh ... ga banget !!!
Tapi ya sudahlah, yuk maree belajar dandan supaya penampakan agak termaafkan. Ga nyadar pa ya, muke item keeling gitu, jangan bikin polusi pemandangan nape ... ??? Hehehe ... :p
Bertahun-tahun lamanya saya memendam hasrat ini, ingin berhenti bekerja. Maka saya pun berniat hati berhenti bekerja dengan memulai menghabiskan jatah cuti besar 3 (tiga) bulan efektif 18 Mei 2015 lalu sebelum akhirnya benar-benar berhenti kerja in shaa Allah setelah lebaran nanti. Namun masih juga di hari2 terakhir April, hati rasanya sudah ga betah banget, pengen segera di rumah. Saya berpikir dalam hati, "Waduh, 2 minggu lagi menuju tanggal 18 Mei masih lama ya ?" Selama itu pula berarti dunk masih harus bolak-balik bintaro - karawang ? Masya Allah ....
Dan, demikianlah hikmahnya. Saat saya secara tidak sengaja meluangkan waktu untuk memeriksakan lutut saya yang sakit selama setahun terakhir, maka keputusannya kemudian adalah mengoperasinya. Hikmahnya adalah, saya sungguh-sungguh memulai masa cuti besar saya lebih awal karena istirahat paska operasi selama 2 minggu itu dengan surat dokter. Selebihnya, saya memasuki masa cuti besar saya sembari recovery lutut saya paska operasi yang memang butuh waktu 2 - 3 bulan lamanya. Subhanallah ... tidak ada yang kebetulan dengan ketentuan Allah, bukan ... ?
MAU NGAPAIN YA ?
Jauh hari sebelum menjadwalkan cuti besar, sesungguhnya saya sudah begitu antusias memikirkan kegiatan apa yang akan saya lakukan selama di rumah nanti ya ? Bingung antara kursus menjahit (salah satu hobi saya adalah mendisain baju), kursus bikin kue, les piano dan les vocal, mengajar lagi atau kerja lagi.
Faktanya, recovery lutut saya paska operasi butuh waktu ya paling sedikit 2 - 3 bulan. Selama itu pula mobilisasi saya memang sangat terbatas. Maka saya pun lebih banyak di rumah. Menyesal ? Alhamdulillah tidak. Saya sungguh sangat menikmati keberdiaman diri saya di rumah. Alhamdulillah wa syukurillah, saya betah dan senang sekali berada di rumah seharian. Hahahaha ....
BYE BYE JERAWAT
Tahu hal apakah yang paling signifikan dengan keberdiaman diri saya di rumah selama ini ? Sejak saya tidak lagi bekerja 28 April 2015 lalu hingga kini, berangsur-angsur jerawat saya menghilang ! Sakti banget ya ? Gilingan sumpyah !
Masih berjerawat sih, bahkan beberapa waktu paska operasi jerawat aktif dan bekas jerawat item2 bertebaran di muka sudah kaya apaan tahu. Tapi sekarang, memasuki bulan kedua di rumah, jerawat itu semua sedikit demi sedikit menghilang. Keren ya hikmahnya ? Sedikit berkuranglah in shaa Allah krisis pede saya gegara jerawat stress ini. Hahaha ....
"GA BOSEN ? KAMU BUKAN ORANG RUMAHAN"
Beberapa orang dekat bahkan sahabat banyak yang surprise dengan nawaitu saya untuk berhenti bekerja. Menurut mereka, saya bukan tipe perempuan rumahan. Wah, mereka salah besar.
Saat mereka bertanya planning saya apa dalam waktu dekat, asli daku belum terpikir lagi mau apa. Dulu, saya sempat membuat beberapa rencana A, B dan C. Namun begitu saya memasuki masa indah ini di rumah, saya sekarang ga kepikiran apa-apa lagi. Saya benar-benar menikmati masa keberdiaman diri saya di rumah. Saya happy banget diem-diem aja di rumah, walaupun sendirian, ga ada anak yang diurus, kecuali anak2 kucing sepuluh ekor.
NGAPAIN DI RUMAH ?
Kini saya bisa bangun jauh lebih pagi, sebelum subuh semua pintu sudah saya buka baik pintu depan maupun pintu belakang supaya udara pagi bisa masuk. Menjelang pukul 06:00 saya sudah duduk atau berdiri di teras bermodal kedua tongkat ajaib, mengamati orang-orang dan mobil lalu lalang yang sudah mulai beraktivitas. Aaaah ... masa saya sudah lewat, tergopoh2 di pagi hari gelap gulita berangkat kerja mengejar dunia.
Masih butuh dunia sih pastinya, karena masih hidup di dunia. Tapi tak usahlah dikejar sedemikian itu. Lagi pula saya perempuan, saya bekerja bila keadaan darurat saja. Saya tidak wajib mencari nafkah.
Aktivitas saya kini ya, sekolah di akhir pekan, Jumat sore dan Sabtu seharian. Saya juga bisa kembali menyibukkan diri dengan hobi saya nguplek di dapur. Yang tak kalah seru, menikmati hasil panen buah2an dari halaman rumah, ada jambu Jamaica, papaya California dan mangga Indramayu, harum manis juga lali jiwo. Senangnya .... Alhamdulillah !
Kemarin saya juga sudah daftar les piano lagi, hal yang saya idam2kan sejak saya kecil dan baru kesampean setelah tua. Lah, baru mampu bayar lesnya sekarang setelah kerja, itu pun sempat terhenti karena les piano tapi tidak punya pianonya. Sekarang Alhamdulillah sudah ada piano sederhana di rumah, jadi sudah bisa daftar les piano lagi. Kebayang kan sekepengen apa saya bisa main piano ?
Dulu saat di Kudus, saat hasrat melukis sedemikian besar dan tidak tertahan, saya melukis bermodal cat minyak dan Vaseline body lotion, karena di Kudus agak sulit mencari minyak untuk melukis kanvas. Saat saya hijrah ke Jakarta di tahun 1998, sekitar sepuluh kanvas hasil lukisan saya yang hampir kesemuanya berukuran besar 1 m x 1 m, saya tinggal dan saya bagi2kan kepada teman-teman di Kudus. Hahahaha ... ! Sok pelukis ngetop aja lagaknya ya ... ?
Kini saya juga mulai aktif ngeblog lagi, walaupun belum kembali ngeblog serius perkara ilmiah. Bertahun-tahun tidak produktif dan otak idle membuat saya agak lemot saat ngeblog tahun-tahun belakangan ini. Saya pikir saya perlu kasih kesempatan otak untuk kembali beraktivitas normal. Teringat ucapan dokter saya yang ganteng itu, "Kasih kesempatan kakinya untuk sembuh ..." katanya mensupport daku yang sesenggukan saat beliau visit di suatu siang.
2nd PATH OF MY LIFE
Ya beginilah, kini saya memasuki fase itu rupanya. Padahal tajir juga ngga ya, tapi kok saya sudah cape ya. Needs saya bukan lagi soal itu. Masih pengen sih beli high heels atau sepatu boot, tapi beda aja. Ga gimana-gimana gitu.
Asli, ada sedikit kekhawatiran dalam hati, bila saya tidak bekerja, tidak punya uang sendiri lagi, maka bila kualitas hidup saya akan menurun, maka apakah saya mampu ? Tapi sementara Allah menjanjikan rahmat dan karunia yang teramat besar bagi diri kita ? Jadi tidak seharusnya saya mengkhawatirkan hal itu ya ... ?
Semoga istiqomah ya. Ga kebayang kalau punya bayi atau anak di rumah. Makin betah mungkin saya ya diem-diem di rumah ? Tapi ya itu, Allah paling tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita mau. Karena tidak ada yang kebetulan segala hal di dunia ini. Begitupun dengan apa yang saya alami. Semuanya begitu pas, perfect, tanpa ada yang dipaksakan gitu, mengalir begitu saja, berjalan di atas relnya, subhanallah !
Semoga Allah ridho dengan nawaitu saya. Semoga saya dimudahkan segala urusan. Semoga saya tetap dilindungi dan senantiasa lurus dalam niat. Semoga saya selamat dunia dan akherat. Semoga saya selamat dari fitnah dan kehinaan dunia dan akherat. Aamiin ... aamiin ... aamiin ... yaa rabbal alamin ....
LATE IN RESPONSE IS A NOISE IN COMMUNICATION
Ceritanya, sejak insiden suntik yang traumatic 20 Mei 2015 lalu, saya memang jadi bermasalah banget berurusan dengan rumah sakit. Saya jadi berhenti terapi bahkan mundurin jadwal ketemu dokter untuk kontrol dan ga pengen lihat mukanya lagi ! Tapi begitu obatnya habis, tidak ada cara lain, saya pun harus menemui si dokter ganteng itu. Dan Jumat, 29 Mei 2015 saya datang kontrol dengan hati tidak karua-karuan serta pulang dengan tidak hepi lantaran sejumlah pertanyaan tak terjawab menggantung di kepala.
Waktu yang sangat terbatas saat kontrol, keberadaan suster hingga 2 orang di dalam ruang periksa ditambah seorang suster batak yang galaknya minta ampun, bikin saya sungguh ga nyaman dan ga punya privacy untuk bertanya berbagai hal menyoal lutut saya. Dan itu bikin saya bete, ga hepi. Sebab untuk bisa bertanya lagi, saya kudu menunggu pertemuan berikutnya, sementara aktivitas saya kan tetap berlanjut. Saya tidak mau kesalahan gegara tidak cukup informasi donts dan do's selama proses penyembuhan.
Iya, bertanya melalui whatsapp atau email bisa saja. Tapi menurut saya cara itu sangat mengganggu privacy dan takes time (email). Saya jadi serba salah. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk menyampaikan sejumlah pertanyaan melalui email. Konsekuensinya, ya itu, email dijawab 3 (tiga) hari kemudian.
Lamanya dokter dalam menjawab email saya membuat saya memutuskan untuk menemui dokter lain. Maka Senin, 1 Juni 2015 saya pun menemui kolega dokter ganteng yang antriannya, masya Allah ! Masalahnya kedua dokter ini praktek di waktu yang bersamaan dan ruang prakteknya pun bersebelahan hanya bersela sebuah ruang suster untuk mengukur tensi dan berat badan. Hingga saya pun merasa perlu pindah duduk 3x agar terhindar dari pandangan suster dan dokter kalau2 mereka melintas di sepan muka saya.
Benar saja ! Sesaat setelah saya pindah dan mencari kursi agak tersembunyi di balik pilar besar, tak sengaja saya melepaskan padangan dari gadget, saya dapati si ganteng baru saja meninggalkan ruang suster sambil membaca BB-nya, berjalan menuju ruang periksa. Ops ! Nyaris saja ! Sebab semula saya duduk persis di depan pintu ruang suster, lalu pindah di depan pintu ruang praktek dokter, lalu pindah lagi mundur ke belakang. BTW, saya tidak tahu kapan itu dokter masuk ruang suster ! Jangan2 beliau masuk saat saya masih duduk persis di depan ruang suster ya ?
Akhirnya, setelah menunggu hanya sekitar setengah jam, tiba giliran saya menemui dokter ini. Sesungguhnya, saya pernah bertemu beliau saat operasi. Sebab saat sebelum operasi saya sempat bertanya pada dokter ganteng saya itu, "This is not your first surgery, kan ya Doc ?" Lalu beliau memastikan bahwa ini bukan pertama kalinya mengoperasi lutut dan beliau akan didampingi oleh dokter orthopaedic lain yang juga spesialisasi dalam hal lutut. Nah, dokter inilah yang sempat diperkenalkan si dokter ganteng pada saya sesaat setelah saya memasuki ruang tunggu/transisi di area ruang operasi.
"WAIT, WAIT, WAIT !"
Maka saat saya memasuki ruang periksa dan menyampaikan salam, beliau menjawab salam saya dengan tenang dan lengkap sembari memandangi saya agak gimana gitu. Begitu obrolan dimulai dan saya menjelaskan duduk perkara saya dan hal-hal yang ingin saya ketahui, beliau mulai bingung. "Wait, wait, wait ...What's your name ?" tanyanya. "Firlly, Doc" jawab saya. Walaupun bahasa inggris saya belepotan, saya selalu berkomunikasi in English dengan si ganteng, begitu pun dengan yang dokter yang satu ini.
Setelah beliau cek profil pasien di komputernya, akhirnya beliau terdiam, membaca sebentar, baru komentar. "Oh, pantesan. Saya tidak operasi kamu (langsung), tapi kok tiba-tiba datang kontrol ? Ternyata kamu dioperasi oleh dokter *****," beliau menyebut nama si ganteng. "Iya, Doc" jawab saya pendek dan membiarkan beliau membaca detil rekam medis saya dari catatan si ganteng selama ini.
"Oh, ya now I remember. I met you on that day," katanya. "Yup" kata saya. "But you don't know me," katanya lagi. "I know you, Doc. Cos' he (si ganteng) told me that there would be another doctor who will accompany him during the operation and he introduce you to me at the operation theater before the operation was done," saya mencoba menjelaskan. Hahaha, clear, akhirnya kami masing-masing sama-sama mengerti dan menyadari sudah saling bertemu.
Begitulah, diskusi siang itu dengan dokter ini sangat menyenangkan. Beliau usianya mungkin sedikit di atas saya, bukan brondong seperti si ganteng. Kenyamanan yang saya rasakan berurusan dengan dokter ini beda dengan saat berurusan dengan si ganteng. Tidak ada pembatas gitu ya. Saya merasa tidak perlu terlalu berhati-hati menjaga sikap saya gitu, normal saja sebab beliau orangnya hangat dan caring. Entah apa bedanya dengan si ganteng, tapi beda saja, saya bisa lepas.
Sementara dengan si ganteng, serasa ada tembok besar di antara saya dengan beliau. Selain mungkin sayanya kepincut cos' first love at the first sight ditambah dengan personal character-nya yang sangat humble, beliau juga bersikap sangat berhati-hati dan sangat menghargai saya. Tentu hal itu membuat saya semakin harus membatasi diri dan mengerti posisi saya kan ya. Jadilah, walaupun beliau begitu baik dan tak kalah caring, tapi saya jadi berasa sejuta jengah berada dekat beliau karena saya sungguh respect kepadanya.
Kembali ke dokter yang satu ini, beliau lalu memulai semua penjelasan dari awal dan saya sudah diminta bersiap di kasur periksa. "Ada fotonya ?" tanyanya. "Yup, in my bag" jawab saya. Beliau beringsut dari kursinya menuju kursi saya dan mengambil foto dari dalam tas besar rumah sakit yang berisi semua rekam medis, surat-surat, obat, keperluan injeksi dll, yang selalu saya tenteng setiap kali kontrol.
"Sudah tahu ?" tanyanya. "No, I don't," jawab saya. "Katanya sudah dijelaskan ?" tanyanya lagi. "Yeah, but I don't really understand, Doc" jawab saya. "Okay ..." katanya dan beliau memulai menggambar dan menjelaskan lagi, mengedukasi saya in English. Lalu beliau mulai memeriksa lutut saya, saya pun menyampaikan keluhan saya, soal suntikan yang sakit, soal nyupir, naik tangga, jalan jauh, insiden sering mau jatuh, bla, bla, bla. Diskusi pun berjalan lancar. Saya pun pulang dengan hepi.
Yang tak kalah menyenangkan, berada di ruang periksa dokter yang ini, hanya ada 1 suster, sementara di ruang periksa si ganteng, saya ditongkrongin 2 orang suster, dan ditutup dengan seorang suster batak yang galak, total ada 3 orang suster yang nongkrongin saya saat periksa ! Nyebelin kan ?
SORRY FOR DELAYED RESPONSE
Tiba-tiba bada maghrib, sebuah email dari si dokter ganteng masuk. Saya membacanya. Email yang cukup panjang untuk seorang dokter spesialis dan saya tahu takes time untuk menjawabnya. Gimana tidak panjang, pertanyaan saya saja bererot, tapi asli beliau menjawab semua pertanyaan saya dengan detil.
Saya tertegun bacanya. Sebab email itu sangat positif dan penuh motivasi. Agak bingung juga saya, menyadari bahwa saya merasa kondisi saya bbrp minggu belakangan ini bukan kondisi saya yang terbaik. Namun beliau justru menyampaikan banyak hal positif berkaitan dengan kemajuan kondisi lutut saya.
Di akhir emailnya, inilah yang beliau tuliskan "Kamu harus tetap semangat dan yakin bahwa bisa pulih kembali ... tetap semangat ! tetap yakin ! tetap latihan ! tetap positive thinking ya !" How touching ya, sangat personal touch sekali untuk yang lagi ... yah begini deh rasanya jadi orang disable ternyata. Dan saya sangat menghargai perhatian beliau ini.
Beliau juga say sorry for delayed response. Masalahnya, saya sudah terlanjur nyupir jauh ke mana-mana, padahal beliau anjurkan tidak berkendara terlalu jauh. Ya sudah, besok2 ngampus atau pergi jauh naik taksi lagi dah. Sebelumnya, beliau juga pernah say sorry karena memundurkan jadwal operasi satu hari, dari rabu ke kamis, tidak seperti yang kita sepakati bersama sebelumnya.
MISS UNDERSTANDING
Gitu deh kalau komunikasi ga lancar. Sementara kebutuhan akan informasi mendesak namun supply informasi yang dibutuhkan tidak ada. Akhirnya saya pun memutuskan melakukan plan B. Walaupun ternyata akhirnya informasi terpenuhi juga, tapi sudah tidak punya news value lagi, karena sudah lewat kebutuhannya.
Masalahnya saya berkomunikasi dengan dokter bukan dengan wartawan. Jadi, bargaining position beliau lebih tinggi ya, dan saya tidak bisa memaksa. Lagi pula hal-hal lain pun berkontribusi membuat komunikasi saya dengan si dokter ganteng agak tidak lancar. Yang bisa saya lakukan ya pergi ke dokter lain.
Namun yang terpenting, urusan miss understanding ini sudah clear. Saya sempat mengira ada yang salah dengan sikap saya sehingga beliau tidak merespon email saya. Ternyata tidak begitu. Ya saya pun merasa perlu mohon maaf lahir batin sama si ganteng dalam balasan email saya semalam, yang entah kapan lagi dijawabnya. Hahahaha ....
Setelah kencan terakhir ma si ganteng Rabu, 20 Mei 2015 lalu, asli daku sejak saat itu mendadak ga pengen ke rumah sakit gegara trauma insiden suntik sakit itu. Walhasil, Rabu berikutnya yang seharusnya daku kontrol, daku ga pergi. Jumat yang seharusnya daku terapi, daku ga terapi (daku masih punya jadwal 5x terapi lagi).
Perkaranya, setelah Rabu disuntik itu, Sabtu daku kuliah seharian sejak pagi dan pulang mpe rumah jam sembilan malam, ini kaki nekuk mulu, rupanya bikin sakit luar biasa yes ? Apalagi, Minggunya daku open house untuk teman2 komunitas si ciprat, sejak pagi sudah masak dan terima tamu hingga pukul 5 sore, serta banyak bergerak seharian, alhasil ini kaki makin rame rasanya.
Giliran ketemu Rabu lagi, daku ogah banget pergi ke rumah sakit. Aku takut ketemu dokternya, aku ga nyaman sama suasana rumah sakitnya. Asli. Padahal biasanya mo sakit model apa daku ga pernah alergi datang ke rumah sakit ini, karena memang selain nyaman, hampir seluruh petugas rumah sakit itu ramah, sehingga kita akan berasa nyaman selama berada di sana. Segitu nyamannya ini rumah sakit, sampai-sampai saya cukup sering juga datang ke sini cuma untuk hang out di kopi ijo yang mahal itu, atau makan pisang bakar ma sop buntut kesukaan di MM Juice.
Tapi insiden suntik kemarin itu, asli bikin daku ogah banget untuk datang ke rumah sakit even untuk nemuin si ganteng itu, la wong beliau yang bikin gw trauma begini. Ga pengen banget !!! Dan itu berasa sampai ini hari !
Setelah bikin janji kontrol 2x melalui telpon dan batal mulu karena daku ogah datang, akhirnya aku putusin untuk kontrol hari ini. Sembari deg-degan, daku menunggu giliran bada Jumatan. Tiba giliran, saat di pintu ruang periksa daku segera minta air putih sama suster, mukaku sudah kecut banget, sementara si ganteng, teteeep ... dengan muka tampan rupawannya memandang dengan senyum sambil kedua tangannya terlipat.
"TARGET SAYA 4 MINGGU LEPAS TONGKAT !"
Mengenakan hem hitam dan celana abu2 gelap, duduk di kursinya agak keluar dari balik meja, beliau menyambut dengan ramah. Saya masuk dan memberi salam "Assalamualaikum ..." dan beliau menjawab salam saya.
Dr : "Gimana ?"
Gw : "I'm so afraid to meet you, doc ..." saya setengah berbisik nyaris ga ada suaranya.
Dr : "Duduk dulu. Sudah terapi ?" tanyanya dengan matanya yang jenaka itu sedikit menyelidik karena beliau tahu saya tidak terapi sebagaimana saya infokan kepada beliau melalui pesan singkat beberapa hari lalu.
Gw : "Ga ..."
Dr : bla, bla, bla ...
#tahu ngomong apa'an, daku minum air putih sambil gemeteran.
Dr : "Yuk sekarang jalan tidak pakai tongkat. Karena target saya 4 minggu sudah lepas tongkat."
OMG, sementara sejak Rabu disuntik yang traumatis itu lalu ketemu sabtu kuliah seharian mpe malam ketemu minggu open house seharian mpe sore, ini dengkul sumpah lagi ga enak-ga enaknya rasa. Sementara baru kemarin daku beli kursi roda supaya daku bisa duduk di kursi roda dan ga perlu mengayun tongkat ke mana-mana ...
Si ganteng berdiri, daku pun terpaksa berdiri ikutin perintahnya. Kedua tangan si ganteng sudah disodorin menawarkan bantuan sekiranya daku tidak yakin bisa jalan. Tapi daku tidak menyambut niat baiknya, jengah ya.
Berjalan setengah menghentak sambil kedua tangan tergenggam di depan dada, si ganteng mengingatkan agar saya tidak berjalan dengan cara seperti itu dan bertumpu pada satu kaki (kiri). "Kalau kamu tidak mencoba untuk berjalan dengan bertumpu pada dua kaki, nanti sakitnya bukan lagi pada kaki, tapi pada diri kamu (psikologis-nya mungkin kali ya maksudnya)" katanya. Mencoba mengikuti arahannya, dua kali bolak balik x 1,5 meter, berjalan di sisi meja kerjanya, akhirnya si ganteng suruh aku duduk di kasur periksa.
Beliau meminta saya duduk di bibir kasur periksa, lalu mengangkat kaki membentuk sudut tertentu. Lalu dengan tangannya beliau mulai menggerakan kaki saya untuk memastikan sudah mengalami kemajuan sejauh apa.
Nothing special, aku disuruh rebah, beliau kembali memintaku untuk menekuk sembari tidur, mengangkat kaki, dst. Terapi itu baik untuk mengembalikan fungsi otot di area paha atas dan bawah yang selama ini kendor karena tidak banyak beraktivitas.
"Oke sekarang saya lihat lututnya," katanya. Beliau lalu membuka knee brace, diikuti dengan membuka band. "Kamu sudah lihat kondisi terakhir ? Bagus, agak besar (bengkak) sedikit di sebelah sini (sisi dalam sebelah kiri), tidak apa-apa, nanti membaik. Bekas suntik kemarin juga bagus. Sekarang tidak perlu pakai band lagi. Lagi pula knee brace-nya cukup nyaman pelindung dalamnya" beliau menjelaskan. Beliau menyodorkan tangan kirinya supaya saya bisa bangun dari rebah untuk melihat kondisi lutut.
Daku lebih banyak diam, less respon. Mendokumentasi cuma 2x jepretan, selebihnya suster menawarkan diri untuk memotret, ya sudah. Sementara beliau sibuk mengencangkan ikatan knee brace. Sedikitnya aktivitas pada kaki kanan selama sebulan terakhir membuat ukuran lingkar paha hingga betis saya mengecil, tidak sama seperti kaki kiri. Itulah sebabnya, keempat kaitan knee brace perlu diperketat supaya knee brace tidak melorot saat dipakai. Berjalan tanpa tongkat, maka penyokong kaki saya kini adalah dibantu dengan knee brace ini.
Kelar dengan itu semua, kembali ke meja, diskusi 2 pertanyaan, sudah, kelar, pulang. Ga ada obat, ga tahu juga kapan suruh kontrol balik. Blank. Tiga orang suster yang nongkrongin saya selama kontrol bikin saya ill feel sumpah dan ga punya privacy sama sekali. Bukan apa-apa, kadang attitude suster ini seperti assisten rumah tangga yang kurang well mannered. Jadi mantengin yang gimana gitu. Apalagi suster terakhir yang orang sumatera, sepertinya batak, bukan rasis sumpah, tapi caranya ga pas banget sama daku yang biar seperempat menado tapi jawirnya kentel abis. Jadi rada-rada alus nih saringan, agak sensitif sama sikap suster yang tegas dan galak. Lah dokternya aja ga bawel, dianya galak bener !
Sejak minggu kemaren gw diomel2in mulu ma nih suster. Baik sih, kelar kontrol suster ini selalu antar daku ke kasir, bawain tas, ambilin nomor, dst. Tapi selama itu pula dia omel2in gw ! Sebel kan ? Dari puluhan suster yang ngerawat gw selama di rumah sakit, ga ada yg gw komplen kecuali satu yang ini. Batak banget, ga pas aja rasanya ! Dia ga tahu sih rasanya jadi orang pincang dan disuntik segitu sakitnya, traumanya, dst ! Orang kan perlu waktu untuk bisa 'ok' lagi. Sebel !
"TERUS OBATNYA MAU DIAPAIN ?"
Si ganteng sempet tanya perihal obat yang sedianya bakal disuntikin lagi. "Terus obatnya mau diapain kalau kamu ga suntik lagi ? Jadi ga mau suntik lagi ?" tanyanya. Daku cuma ngegelengin kepala. "Oh ya sudah, terserah kamu. Saya biasanya setelah operasi akan menyuntik obat itu 2x. Tapi kalau kamu ga mau ya sudah," katanya. Daku lebih banyak diam dan ga tanya apa-apa lagi.
Alhasil, kelar kontrol daku pulang ya gitu aja deh, ga hepi, dan ga terapi juga. Males. Lagi males ada di rumah sakit, lihat rumah sakit juga ogah. Honestly, banyak hal yang ingin daku tanyakan, tapi situasinya ga enak banget, suster-suster ini bikin saat periksa seperti terburu-buru dan ga nyaman. Seolah-olah sudah ngusir alus gitu. Ya sudah, pulang aja.
Sejak semula perkara mo nanya-nanya nih memang perkara susah. Waktu visit yang singkat, bikin ga sempat tanya banyak hal penting yang sebenarnya ingin saya ketahui. Belum lagi gw nya yang suka kena sawan bego saat kontrol bikin lola mikir. Buat dokternya kali sepele yes, tapi buat yang sakit kan penting. Mo' tanya directly, gw tahu banget itu mengganggu privacy, karena daku jg begitu orangnya. Ga suka ditembak langsung gitu. Asli bikin bingung. Kalaupun diem aja ga tanya, khawatir salah juga. Makanya, jangan sakiit ... jadi ga ketemu urusan yang beginian .... !!!
Met wiken ya everybody !!!
Ceritanya ....
Catatan kali ini adalah
berkisah tentang pengalaman saya, suka duka saya saat berobat ke dokter di
sebuah rumah sakit bereputasi baik, dekat rumah. Apapun kejadiannya, semua
cerita ini bukan komplen, bukan juga marah, apalagi seriusan segala sesuatunya.
Asli semua ceritanya bukan settingan, tapi ga usah diambil serius maksudnya.
Rekaman kejadian-kejadian ini lebih sebagai pengalaman saja bagi saya agar
memperbaiki diri. Kalau lucu dan menghibur buat yang baca ya
Alhamdulillah. Kalau nyebelin dan lebay, ya mohon maaf yaaa ....
JADI ....
Ceritanya daku pergi berobat
Jumat, 24 April 2015, menemui spesialis tulang (orthopaedic).
Persoalannya, saat pergi berobat itu, aslinya daku sedang tidak enak badan
akibat mriang sejak kamis sore. Akibatnya, Jumat pagi pun ga bisa bangun karena
badan menggigil sepanjang malam, dan kepala sakit hingga pagi
hari. Lantas, sakitnya meriang kenapa perginya ke orthopaedic ... ?
Nah ... berawal sejak
lebaran tahun lalu, daku kan diopname tuh di Tegal, gegara tiba-tiba badan
meriang, badan ngilu seluruh engselnya dan buku-buku jari tangan, kaki,
pergelangan tangan & kaki lemes semua. Anehnya, kelar
opname, hampir 3 (tiga) bulan setelahnya lutut kaki sebelah kanan tuh
berasa sakit luar biasa. Alhasil, selama berbulan-bulan itu pula daku jadi
susah sholat, susah jalan. Sholat dilakukan sembari selonjoran kaki, dan
bangun dari sholat pun harus dibantu orang.
Sekarang, beberapa
minggu menjelang ramadhan, daku pun jadi sedikit gusar. Pasalnya ini
kaki sakitnya belum kelar juga sudah hampir setahun berjalan. Maka mumpung
'libur' (tepatnya sih karena meriang) itulah saya menyempatkan diri ke
dokter spesialis tulang untuk cari tahu sakitnya apa'an ....
NORMALNYA ORANG
SAKIT
Normalnya sakit ala saya itu,
kalo sedang sakit ya penampakan seada-adanya. Biasanya saya rapi kalau ngantor
doank, selebihnya, bakal seada-adanya, ke mall ya ga dandan yang gimana gitu.
Nah, terburuk ya penampilan saya saat sakit.
Dulu, saat saya sakit
kepala gara-gara sinusitis, saya pernah dilecehin dokter specialis THT dan
dianggap ga mampu bayar biaya berobat, lantaran ya itu, saya menduga penampilan
saya saat ke dokter super duper dekil banget. Laaaaah ... giliran ini kali ke
dokter lagi, hal ini terulang lagi. Bukan dilecehinnya, tapi penampilan super
duper dekilnya itu yang tak termaafkan ....
MATI GUE,
SALTUM !
Singkat cerita, saya
disaranin oleh klinik kantor untuk menemui orthopedist alias dokter spesialis
tulang, sebut saja Dr. Fulan yang katanya praktek di rumah sakit dekat rumah.
Nah, saat Jumat, 24 April saya datang mencari dokter yang dimaksud, ternyata
dokter tersebut ga ada. si petugas pendaftaran bilang, adanya "Dokter
Fulani". Oke deh, itu juga ga apa, jawab saya enteng. Siapapun deh
dokternya, ga penting juga, lawong saya ga tahu dan ga punya referensi apa-apa
tentang dunia perdokteran ....
Maka menunggu
giliranlah saya untuk dipanggil. Tiba giliran saya dipanggil masuk ruang
periksa, "Oh, noooooo ... ! Mati gue, gue saltum !" Sementara di
hadapan saya ada seorang dokter ganteng, muda, dan asli bikin saya mati gaya.
Sialnya, siang itu saya cuma pakai baju seadanya, baju jersey korea warna
coklat, bukan warna gw banget, ma kerudung bodo warna gold dengan payet kampung
beli di pasar (kebayang donk), plus sandal japit biru merek bata Rp. 99.000,-
! Itu pun masih ditambah dengan kebiasaan saya yang ga pernah dandan,
kecuali kondangan ! Sempurna ... lengkaplah sudah !
Dan,
dimulailah tanya-jawab itu, keluhan saya apa, penyebabnya apa, kapan
kejadiannya, olah raga saya apa, hingga periksa fisik, kondisi lutut saya. Dan
selama tanya-jawab itu, saya pun beberapa kali gelagepan ga bisa jawab lantaran
gagal fokus gegara terganggu wajah gantengnya. Gini deh rekamannya ....
Dokter ganteng
: "Boleh
saya lihat lututnya, Bu ?" (Buseeeet, gue dipanggil
"Bu")
Saya
: "Waduh, kaki
saya isinya cakaran kucing, dok ..." jawab saya bego.
Dokter ganteng :
"Ga pa-pa, Bu,
saya cuma mau lihat lututnya kok, bukan mau lihat kulitnya..."
Pohon toge mana pohon toge, gue mending bunuh diri
deh daripada malu begini. Asal tahu aja ya, daku nih kan item asli ya, jadi
kebayang dunk kakiku tuh itemnya no excuse
deh. Sementara itu dokter putihnya seperti pualam. Jangan tanya halusnya itu
telapak tangannya ! Daku masih bias rasakan kelembutan tangannya seperti
bantalan tangan bayi ! Dan kini, daku terpaksa dengan suka rela mengangkat
rok hingga di atas lutut untuk memberi kesempatan jari-jari tangan dingin
si ganteng itu mengobservasi area lutut saya. Sementara itu, mata saya pun
memandang tembok, hopeless
tak berdaya ....
"KALO
KAMU ..."
Senin, 26 April 2015,
pukul 13:00 wib, berbekal hasil rongten dan MRI, saya pun kembali duduk manis
menunggu giliran konsul hasil foto. Hah ... hari itu tak mau mengulangi
kesalahan yang sama, daku datang agak rapihan lah. Aslinya senin tuh pakai
seragam putih item. Tapi seperti biasa, saya ga pernah tuh pakai putih item,
standar adalah blus putih dan rok pink, titik. Maka hari itu, saya pilih kebaya
encim putih bordir baby pink berkamisol plus kain batik dililit disertai
kerudung warna senada, baby pink, plus high heels stiletto kesayangan.
Dan siang itu pun, beliau menyapa saya dengan "kamu" ... bukan
"ibu" lagi. Hahahaha ....
Kesimpulannya,
saya disarankan melakukan operasi pada selaput ligament di lutut sebab
bila tidak potensi pada pengeroposan tulang secara dini. Lalu kami pun berembug
soal jadwal operasi. Sementara saya terdiam beberapa saat bingung mikirin
jadwal kuliah dan mobilisasi pasca operasi, saya cuma mikirin perlu
operasi secepatnya, minimal Rabu, 28 April 2015. Tiba-tiba sang dokter
mengusulkan, "Gimana
kalau hari Rabu ?"
Tuing, tuiiiing ... "Asli dok, dari tadi saya juga
mikirin hari yang sama karena saya mesti pertimbangkan jadwal kuliah"
jawab saya hepi gitu. Jadilah kami sepakat operasi hari Rabu, 28 April 2015
sekitar pukul 13:00 wib.
KLEPEK-KLEPEK
Alhasil, sang dokter
minta maaf karena memundurkan jadwal operasi ke hari Kamis, 29 April 2015 pukul
14:00 wib. Hikmahnya, Selasa saya masih bisa ngantor, sounding ma petugas
admin kantor perihal rencana operasi saya, dan di hari Rabu saya bisa ngacir
cari second
opinion.
Maka di hari operasi
itu, request
saya, minta sebisa mungkin paramedis di ruang operasi adalah perempuan, dan
minta tidak pakai kateter. Dan si ganteng bener-bener komitmen loh, penuhi requestku itu. Daku
juga minta selama operasi tetap memakai pakaian dalam ! Ini dokter sungguh
super sabar dan penuh pengertian ! Bukan cuma itu, daku masuk ruang operasi
tetap memakai kerudung (bukan topi operasi), membawa pashmina untuk
menutupi tanganku (selain selimut) dan gadget !
Jam 09:00 pagi saya pun masih di rumah dan
paramedis ruang operasi sudah telpon saya bolak-balik sementara urusan rumah
belum rapi. Akhirnya, persis pukul 10:00 wib saya pun tiba di meja
pendaftaran rawat inap.
Seorang diri, saya
masuk kamar, beberes dan mandi (lagi). Persis jam 13:00 wib, di atas kasur saya
pun didorong memasuki ruang operasi, juga seorang diri, ga ada yang antar.
Transit di area tunggu operasi, saya menahan kantuk sebenarnya, sehingga sempat
nyaris tertidur.
Saat terkantuk-kantuk
itulah, si dokter ganteng nan baek hati itu tahu-tahu sudah berdiri di
samping tempat tidur.
Dokter : Bla, bla, bla ...
(menjelaskan soal operasi, seperti biasa saya gagal fokus, abai)
Saya
: "Kok
ngos-ngosan, dok ? Dari mana ?"
Dokter : "Hm ... Tadi dari klinik
..." sambil badannya gerak-gerak khas orang ngos-ngosan.
(Klinik adanya di lantai 1 sisi kanan tengah RS, sementara ruang operasi lantai
2 sisi kiri depan).
Saya
: "Lari, dok ?"
Dokter : "Iya ... "
Klepek-klepek deh gue
keGRan ... meleleh seperti coklat .... hahahahaha ....
"YOU
DECIDE ..."
Di ruang operasi,
berbaju operasi warna hijau botol dan topi operasi warna biru muda plus masker,
gantengnya nih dokter tetep ya kelihatan dari balik kacamata beningnya. Bulu
matanya lentik bingits !
Beberapa saat
menjelang operasi, sudah di atas meja operasi, kami belum juga sepakat soal
anastesi. Pasalnya, saya ga mau pakai kateter. Maka amannya ya bius total. Tapi
saya mau tetap lihat proses operasi melalui layar tv, sebagaimana yang
diceritakan sang dokter di awal, "Kita
bisa nonton bareng ... " Emang tanding bola, nobar ?
Akhirnya ....
Saya
: "You decide,
doc ..."
Dokter : "Me ? Decide ?
Saya
: "Yup"
Dokter " "Okay, GA ..."
katanya sambil instruksi ke dokter anastesi. "Bobo aja ya ? Nti hasilnya tetep saya ceritakan ke
kamu. Deal ?" tanyanya sambil give me five, kasih lima jari tangan
kanannya tanda setuju ....
Saya
: "No
..."
Dokter : "No ? Why ?"
Saya
: "Because I
will not be able to see your (beautiful) face, doc. Let's make it in spinal
(bius local pinggang ke bawah), doc ..."
Dokter : "Okay, spinal, ga usah pakai
kateter, conditional aja ..." instruksinya ke dokter anastesi
dan suster.
Dan, dokter anastesi pun
menghampiri dan saya mulai memiringkan badan ke kanan untuk disuntik
anastesi. Sementara itu, saya sibuk panggil-panggil lagi itu dokter,
"Doc, where are
you ?" Tangan saya memberi tanda agar beliau berdiri di depan
saya, agar saya berasa aman. Dan beliaupun duduk di antara kedua (maaf) paha
saya selama 2 (dua) jam operasi berlangsung. Dan selama operasi itu pula,
sesekali tangan kanannya sibuk di lutut, sementara tangan kirinya di telapak
kaki saya sibuk menggerak-gerakan untuk mendapat celah yang pas di area lutut
agar beliau dapat melakukan reparasi pada bantalan, selaput ligament, (whatever) lutut saya dengan
sempurna.
Di awal tayangan live
operasi itu, saya sempat ga berani lihat ya, sebab banyak darah di tv nya. Jadi
saya balik ke tab saya, melanjutkan membaca Ar Rahman. Lalu beliau mulai cerita
ini apa, itu apa, sekarang sedang diapain, dan seterusnya, hingga kelar. "Alhamdulillah, well done, good
job, doc. Thank you ..." saya berterima kasih.
HP
KETINGGALAN
Sedihnya, dioperasi
Kamis, sementara Jumatnya libur Mayday kan sesuatu banget. Asli, saat
menentukan jadwal operasi saya tidak memperhitungkan tanggalan merah. Yang
saya pikirin cuma jadwal kuliah, gimana pergi ke kampus pasca operasi dan
gimana ngantornya ke karawang. Alhasil, mendapati kenyataan bahwa Jumat
libur, pastinya dokter ga visit, ya sedih banget, karena ini badan rasanya ga
karu-karuan. Bukan lututnya yang sakit, tapi kepala dan perutnya ....
Tiba di kamar rawat
inap kelar operasi kemarin, saya sempat muntah-muntah karena saking pusing dan
mualnya. Sejak di kamar operasi saya sudah berasa langit - langit ruang operasi
berputar-putar. Badan saya bahkan sampai berguncang-guncang dan gigi gemrutuk
karena menggigil kedinginan. Maka saat muntah-muntah di kasur, air mata
bercucuran, saya pun sesenggukan ....
Sang dokter ditelpon
pun tak bisa sebab ternyata HP beliau tertinggal di ruang operasi. OMG ! Nasib
gue ....
Tiba-tiba, menjelang
sholat Jumat beliau muncul di kamar membawa semacam deker panjang untuk di
kaki. Terburu-buru, beliau mengukur deker sebelum dipasang dari paha
hingga betis saya. Tak lama, beliau pergi tanpa menanyakan kondisi saya
lebih detil. Iyalah, libur ....
"MAY I
... ?"
Sabtu masih pagi saat itu
sekitar pukul 10:00 beliau datang. Seperti biasa, beliau selalu membiarkan
perawat masuk kamar saya terlebih dulu, memberi tahu saya bahwa dokter akan
visit, lalu suster keluar, barulah sang dokter masuk dengan memberi salam,
"Assalamualaikum ..."
Pagi itu beliau
membuka perban di lutut, membersihkan area lutut paska operasi, dan menunjukkan
hasil operasi yang ternyata sangat baik dan rapi. Dua titik dengan benang
menyembul warna biru telihat di sana. "I
prefer to have the pink one, doc ..." ujar saya. Dan beliau
pun merespon sambil tertawa, yang seperti biasa tidak saya ingat ngomong apa
....
Lalu beliau mulai
mengganti plester, menutupi lutut saya lagi dengan perban, memasang deker
hingga selesai. Dan sepanjang proses itu ....
Saya : "May I take a picture of you,
doc ?"
Dr
: "Why
?"
Saya : "Because you are good looking
..."
Dr
: "Ha, ha, ha
..." I think he was confused, mad, whatever, but I keep taking pictures of
his beautiful face. Amazing ... !
"BUKANNYA
INI MINGGU, DOK ?"
Terbiasa bangun
sebelum subuh, membuat saya pun terbangun sejak pukul 03:45 wib pagi walaupun
lagi tepar begini. Saya pun mandi, ganti pakaian dan sudah wangi baby cologne
sajak pukul 08:00 pagi.
Hampir copot jantung
saya, saat tiba-tiba sekitar pukul 09:00 saya mendengar suara bass sang dokter
mendekat dan memasuki kamar saya. Dengan setelan hem biru lengan pendek agak
kotak2 kecil2 dan celana abu2 gelap, tahu-tahu beliau sudah ada di depan saya.
Dan saya, seperti biasa gelagepan, terkaget-kaget, ga siap.
Spontan ....
Saya : "Bukannya ini hari minggu, Dok ?"
Dr :
"Iya, saya ada
operasi pagi ..."
Lucunya, beliau selalu
jawab ya, pertanyaan-pertanyaan saya yang ga penting itu ? Tapi asli itu
pertanyaan memang pengen tahu, bukan mengada-ada ....
Beliau lalu
memperagakan cara memakai tongkat, berjalan beberapa langkah, dan saya malah
sibuk memperhatikan dan memandangi wajah ganteng dan mata indahnya.
Somfereeeeeeettt ... !!!
Seperti biasa, beliau
selalu bertanya, "Ada
lagi yang mau ditanyakan ?" Saya cuma bilang, lutut saya
baik-baik saja. Tapi tampaknya saya mulai stress karena sakit maag mulai muncul
intensif. "Oooh
... ya sudah nanti dikasih obat ya ?" katanya. Sementara saya
memilih menghindari minum obat. "Yakin
ga mau saya kasih obat ?" tanyanya lagi. "Iya dok, ga pa, nanti kalau
saya perlu, saya akan minta ..."
KESIMPULANNYA
Begitu deh ... Dua
kali mengalami insiden yang tak terlupakan berurusan dengan dokter di rumah
sakit yang sama. Pertama dilecehin karena super dekil penampilannya saat datang
berobat. Kedua, ga pede sendiri, gegara lagi-lagi karena penampilan saat datang
berobat seperti biasanya seada-adanya.
Hikmahnya, mulai
sekarang, pergi ke mana saja tetap harus rapi. Rapi itu bukan mahal. Tapi rapi,
bersih, tetap menarik, ga dekil. Karena bagaimana kita merepresentasikan diri
kita, maka begitulah orang lain akan menghargai dan memperlakukan kita.
Tapi kasus dengan ini
dokter terakhir, agak beda. Menurut saya beliau tergolong sangat sopan dan
tidak under estimate
pasiennya walaupun penampakannya sangat dekil. Beda dengan dokter pertama yang
saya temui, dokter THT. Saat saya datang lagi untuk periksa sudah dalam keadaan
sehat, beliau sudah tidak mengenali saya lagi. Karena memang sayanya sudah
berpakaian jauh lebih rapi, pulang kantor, bersepatu tinggi.
Biasa mobilitas
tinggi, jalan tidak pernah pelan, (saya choleric
melancolic sejati), ngapa-ngapain mandiri, jadi begitu tidak
berdaya seperti ini rasanya sungguh numb.
Setiap kali melakukan therapy adalah satu-satunya kesempatan saya bisa
tipu-tipu hati dengan becanda dengan para therapist, atau penolong yang
antar-jemput saya ke kamar - ruang rehab. Sembari ngayal saya bilang kepada
mereka, "Kalau
saya mau sembuh optionnya cuma 2 (dua), dokter ganteng itu ikut saya, atau saya
ikut dokter ..." Hahaha ... kami pun tertawa sama-sama.
Menertawakan kebegoan saya pastinya. Kamfreeeeeett .... :p
Jadi ya intinya,
jangan dipelihara deh kebiasaan tampil dekil, jangan juga diulangi pergi ke
dokter dengan penampilan dekil. Sebab ga semua dokter baik dan memperlakukan
kita dengan pantas dan maklum kan ... ? Lagian, tidak semua di antara kita
seberuntung saya, ga milih-milih dokter, tahu-tahu dapatnya dokter ganteng dan
baik hati, beyond my
expection. Memang ga expect
apa-apa sih aslinya, lawong cuma mo berobat aja yaaa ....
But for sure, he
is such as an adorable doctor, anyway. On the contrary, he is absolutely a bad
doctor for me for particular reason. His gentle attitude and beautiful
face makes me on worse condition, actually. He is just too good to be true !
Hahahaha ... :p
Well, have a great
day everyone !