Monday, 25 May 2015

DISSABLE ITU ....

Sejak menjadi disable, saya belajar banyak hal. Walaupun penyebab disability bias sangat beragam, karena cacat sejak lahir, cacat karena kecelakaan, atau proses pengobatan (seperti saya akibat cedera olah raga), namun sepertinya, sepertinya niii ... rasanya menjadi disable itu tetep sama, atau nyaris sama-lah .... 

DITABRAK ORANG DI AREA PUBLIK

Yang sering terjadi saat penyandang disable beraktivitas di area publik, yaitu ditabrak orang-orang yang lalu lalang yang memang abai dengan lingkungan sekitar kecuali sibuk dengan urusannya sendiri, seperti orang becanda, orang maenan telepon, ibu2 jalan sambil asik nonton etalase sehingga ga lihat ada si pincang bertongkat jalan di depannya.

Asal tahu aja ya, si pincang yang belum mahir jalan seperti saya, biasa berjalan - mengayun kedua tongkat sambil melihat ke bawah (lantai), bukan ke depan. Sehingga saat ketabrak orang lalu lalang nyaris tumbang akibat terganggu keseimbangan.

DIKASIHANI PETUGAS SEKURITI DI MANA AJA

Kelompok masyarakat umum yang paling perhatian kepada kaum disable adalah justru petugas sekuriti. Saat saya hendak naik kendaraan dengan susah payah di parkiran sebuah mall, seorang petugas pengamanan terus menguntit saya, membantu hingga ke mobil, dan tahu apa yang beliau katakana ? Katanya, "Tetap semangat, bu ..." Subhanallah ....

Saat di kampus, sejak masuk lobi yang pintunya memang bukan otomatis, seorang cleaning service dari kejauhan di belakang saya, berjarak 20 meter, lari-lari segera membantu saya mendorong membukakan pintu kaca yang besar dan beratnya minta ampun. Beliau terus berada di dekat saya saat menaiki 3 (tiga) anak tangga di dalam lobi. Tiba di receptionist, petugas sekuriti membuka pintu akses belakang meja kerja mereka sehingga saya tidak perlu melewati pintu akses umum berkartu yang ribet.

Tidak hanya itu, seorang petugas keamanan perempuan membantu membawakan tas sekolah saya hingga dalam kelas. Maklum, si penyandang disable yang berjalan dengan dua tongkat seperti saya, ga bisa bawa apa2 karena kedua tangan harus mengoperasikan tongkat.

Di rumah sakit, petugas keamanan membiarkan saya parkir di depan lobi, dan beliau membantu saya mengurus menebus obat hingga kelar, akibat saya terlupa, sudah bayar tapi resep belum ditebus di apotik rumah sakit.

BERJALAN MENGAYUN BERTUMPU PADA PERGELANGAN TANGAN, BUKAN PADA KETIAK

Mungkin banyak orang mengira, si penyandang disability yang berjalan dengan tongkat, menopang badannya melalui ketiak pada kedua tongkat. Bukan, salah besar. Karena pada ketiak terdapat banyak syaraf yang bila area tersebut menjadi tumpuan dan terjadi tekanan tubuh yang sangat besar dan intens, maka akan berisiko sangat besar.

Penyandang disability yang berjalan dengan tongkat, saat berjalan, mengandalkan kekuatan pergelangan tangan untuk menopang tubuhnya, bukan pada ketiaknya pada ujung tongkat. Itulah sebabnya, berjalan dengan tongkat sungguh sangat melelahkan.

Terlebih pada awal rehabilitasi, selain belum mahir berjalan, kaki yang cedera belum diperkenankan untuk menapak dan menumpu beban tubuh sama sekali. Artinya, penyandang disability harus berjalan dengan satu kaki. Dan berjalan dengan cara itu, sungguh sulit dan melelahkan ....

HANYA BERJALAN, TAK BISA MEMBAWA APAPUN

Penyandang disability yang berjalan dengan 2 tongkat, tidak bisa bawa barang apa (tas, dll.) kecuali tubuhnya sendiri. Kalaupun bisa, akan sangat repot dan berisiko jatuh karena jemari tangannya terlalu sibuk, antara memegang barang dan mengoperasikan tongkat.

Membawa tas di bahu, di punggung juga rasanya sangat mengganggu keseimbangan dan tidak nyaman. Paling memungkinkan dibawa bagi penyandang disability saaat berjalan dengan 2 tongkat adalah tas kecil yang diselempangkan di depan.

TIDAK BISA BERJALAN JAUH

Berjalan dengan 2 tongkat, sungguh sangat melelahkan. Maka berjalan 100 meter, itu sudah sangat maksimal yang rasional dilakukan oleh penyandang disability yang tidak bisa berjalan. Mengapa ? Karena saat sudah lelah, konsentrasi sudah sangat terganggu, akibatnya keseimbangan tubuh saat mengayun tubuh dengan kedua tongkat sudah semakin tidak terjaga. Akibatnya, potensi untuk jatuh ke belakang. Itu yang sering saya alami.

BUTUH KURSI RODA DAN PENDORONG PROFESIONAL

Maka bila penyandang disability perlu melakukan mobilitas lebih, menggunakan wheel chair akan sangat membantu. Perkaranya, yakinlah, walaupun kelihatannya sepele dan mudah, namun tidak semua mengerti prosedur mendorong penyandang disability menggunakan wheel chair.

Umumnya, pendorong kursi roda mengangggap penyandang disability ini layaknya barang biasa atau troli. Artinya, mereka tidak memahami bahwa setiap manuver wheel chair bagi penyandang disability ini membutuhkan space sedikitnya setengah meter, khususnya di depan area kakinya.

Dalam hal ini kasus cedera pada kaki maupun patah tulang paska operasi, maka cara mendorong kursi roda secara benar itu sangatlah penting. Itulah sebabnya, petugas di rumah sakit selalu mengoperasikan kursi roda dengan lebih banyak menarik mundur saat bermanuver, untuk menghindari area kaki yang sakit bersentuhan dengan benda-benda di sekitarnya.

By the way, wheel chair untuk penyandang disability seperti saya, beda dengan wheel chair manula. Terutama, wheel chair yang sangat membantu bagi penyandang disability seperti saya, adalah wheel chair yang dilengkapi dengan penumpu betis, bukan hanya foot rest untuk telapak kaki saja. Sebab, saat telalu lama menekuk 90 derajat, kaki bisa cenut-cenut dan panas bukan main, makanya ia perlu diletakan dalam posisi rebah 180 derajat.

PARKIR KHUSUS DISABLE

Ini jangan ditiru. Walaupun saya disable, saya masih nyupir sendiri ke mana-mana yang dekat-dekat. I have no one that I can count on to travel me anytime anywhere. Jadilah setelah berdiskusi dengan dokter 'boleh' nyupir tapi tidak jauh2.

Maka nyupirlah saya sendiri sejak pulang rumah sakit, alias 10 hari paska operasi serta bolak-balik ke rumah sakit saat kontrol yang jaraknya hanya 3 - 5 km dari rumah, pokoknya deket banget deh. Selebihnya, naik taxi, walaupun mabok, mabok bayarnya, dan mabok pengin muntah karena sejak kecil saya memang mabokan kalau jadi penumpang.

Nah, sebagai penyandang disability, maka saya kini berhak dah parkir khusus disability yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari pintu lobi. Unexpected privilege sih sebenernya. 

BEING A DISABLE HAS CHANGED THE WHOLE MY LIFE

Although it would be temporary, but being a disable is not easy and has changed the whole my life. I was a very mobile person and so active, so independence. I get use to do anything, almost anything by myself.

I am a choleric person. I walk fast. I am doing anything time-orientedly. Now, when I am not able to walk as I used to, then I do need more time for everything I do. Hence, the world becomes so slow for me now.

The most difficult thing is, that I have to depend on anybody else even to fulfil my basic needs ! I was not able to take a bath by myself, even for pee ! Everything has been being done on my bed, helped by nurse ....

I did discus about this issue to the doctor before the surgery. I learnt, that I will face this difficult circumstances. But I have never thought that it would be so extreme like this. But that's life ....

Once we get trouble in life, hence we learn many thing from life ....

Have a great day, people ! Love you !
  



Wednesday, 20 May 2015

SUNTIK DULU


Hari ini, Rabu, 20 Mei 2015, persis hari ke-21 paska operasi lutut dan jadwalnya kontrol ke-2. Minggu lalu, kontrol pertama, buka jahitan (Baca "Ya ampun Firlly ..."). Ini kali, kontrol kedua, jadwalnya suntik cairan whatever-lah apa namanya.

Setelah minggu lalu kontrol dan mendapati reaksi sang dokter begitu kaget lihat daku yang careless abis itu, asli since that time, daku ga pernah lepas lagi dari tongkat ajaibku. Ke mana-mana asli ngandalin itu tongkat, bahkan di kamar tidur dan kamar mandi yang sempit pun, aku mobilisasi mengandalkan tongkat.

DRAMA ITU

Jadilah, setelah menunggu hampir setengah jam, barulah si ganteng nongol. Itu pun masih diselakin kakek-kakek. Tiba giliranku, ekspresi si ganteng ga lagi seperti minggu lalu yang bengong bin kaget gegara daku datang melenggang tanpa tongkat. Kali ini senyumnya lebar melihat daku datang bertongkat.

Beliaulah yang membuka pembicaraan, menanyakan gimana insiden missed position knee brace hari sabtu lalu. Lalu berceritalah daku panjang lebar tentang nyokap bokap yang datang jumat malam dan daku terpaksa acting tidur. Daku ceritain juga drama baru terjadi esok paginya, katanya, "Lagian kenapa ga boleh orang tuanya tahu sih ?"

Kelar cerita ngalor - ngidul, barulah si ganteng tanya,
dr  : "Gimana, sudah siap disuntik ?
Gw : "Kayanya ga deh, dok"
dr  : "Ya udah, kalau gitu terapi dulu aja lagi, setelah itu minggu depan baru suntik."

Intinya sih setiap kali ada perkara yang perlu diputuskan, daku selalu sampaikan pada si ganteng apa yang ada dalam pikiranku, apa mauku. Tapi, aku juga selalu mengembalikan kepada si ganteng untuk memutuskan, sebab beliau lebih tahu, beliau dokternya, saya cuma pasien, nurut aja, beliau lebih tahu yang terbaik untuk saya. Itu yang beliau minta sejak awal, supaya saya nurut sama dia selama proses pengobatan ini. Jadi ya ... gitu deh, nurut aja.

Maka berdiskusilah kita seperti biasa tentang alternative 1 dan 2. Ah, seperti biasanya dah, si ganteng ngomong apa, seringkali daku ga bisa nyimak banget gegara gagal fokus. Pokoknya akhirnya ....

dr  : "Dah tidur ..."
Gw : Rebahan dan mulai nutup muka pakai kerudungku yang panjang itu.
dr  : "Hei, kamu kenapa ?"
Gw : "Takut"

Ternyata si ganteng masih menyiapkan jarum suntik ma suster. Cari ukuran yang kecil, siapkan 3 suntikan, dst. Alhasil daku bangun lagi, duduk liatin si dokter ganteng nyiapin 3 jarum suntik itu tadi. Ga lama ...

dr  : "Dah tidur ..."
Gw : Rebahan, "Bissmillahirahmanirrahim dulu dok ..."
dr  : "Bissmilahirrahmanirrahim ..."
Gw : "Bissmillahirrahmanirrahim dulu dok ... ' (lagi)
dr  : "Bissmillahirrahmanirrahim ...'

Cuuuuusss ... dan menjeritlah daku, seberisik-berisiknya entah. Daku sudah istighfar terus-terusan, takbir, teriak2 "Udah dok, udah dok, sakit .." Sementara tanganku grementin tangan itu dokter udah kaya apaan tahu. Dan tangisan gw, massya Allah .... Nangisnya orang stress pilu banget dah, air mata bercucuran dari balik kaca mata, udah ga bisa liat apa-apa gegara mata penuh dengan air mata.

Makin dalam itu jarum masuk ke lutut menyedot cairan yang membuat bengkak lututku, makin sesenggukan dan kaku kejerlah seluruh kaki dan badanku. Sementara tanganku, entah makin kenceng gremetin itu bisep si dokter. Ga kalah stress, suster pun sibuk tarik tanganku kanan kiri. Selagi aku udah cengkeram tangan si dokter, mau apa lagi, mana bisa dia tarik tanganku sementara aku jejeritan begitu.

Tahu apa yang dikerjain ma tuh dokter ? Dia tetap masukin jarum suntik ke lutut, sedot cairan penyebab bengkak, sementara suaranya yang tenang itu terus sebutin namaku, "Firlly ..., firlly ..., firlly ... sabar, sedikit lagi ..." Sementara gw sudah kesakitan luar biasa. Asli itu kejadian tadi siang kejadian paling norak yang pernah kualami sama orang lain, yang bukan siapa-siapaku, tp terpaksa jadi satu2nya orang yg jadi tumpuanku.

Daku sudah nangis jejeritan, menghiba-hiba gitu memohon, "Sudah dulu dok, sudah ..., berhenti dok ..., sakit .." Si dokter lagi2, kalem berusaha menenangkan aku, "Firlly ..., yang tenang, yang rilex, kalau kamu tegang nanti saya susah suntiknya." Daku pun berusaha bekerja sama dan merilekskan tubuh. Masalahnya, saat daku rilex, si ganteng kan jadi lebih mudah kerja kan ya, tapi perkaranya jadi makin masuk itu jarum dan sakitnya bukan main, ya makin mengejan kaku seluruh badanku ini. Sambil nangis sesenggukan daku terus jejeritan, minta udah, "Udah dok ..., udah ... sakit ... " Sekali lagi, si ganteng nenangin aku, "Firlly ..., Firlly ..., Firlly ..., sabar, rileks, atur nafasnya, sedikit lagi sayang ..." katanya dengan sangat sabar menghibur gw yang udah nangis bego.

Sayang sih sayang dok ... tapi sakitnya itu siapa yang nahaaaaan ... ? Bikin gw klepek-klepek 2x nih ...

SUNTIKAN KEDUA

Insiden tadi, adalah suntikan pertama yang bertujuan mengeluarkan carian yang menyebabkan bengkak di lututku. Nah, sekarang disuntiklah aku yang kedua, katanya itu pereda rasa nyeri. Tapi siapa yang percayaaaaa ... ?

Saat si ganteng mo nyuntikin pain killer itu, daku sudah jerit-jerit ga mau, udah aja. Si ganteng bilang gini, "Firlly, lihat saya, ini untuk penghilang rasa nyeri, percaya sama saya," Si dokter ganteng nyodorin muka tampan rupawannya ke arah mukaku yang stress dan bercucuran air mata. Akhirnya, meredalah tangisanku itu. Dan cuuus ... disuntik lagi deh, aku pasrah ga berdaya.

"Nah, sekarang apa rasanya ? Lebih baik kan ?" tanyanya meyakinkan aku. Barulah beliau melanjutkan menyuntik yang ketiga, suntikan obat yang sesungguhnya. Masya Allah ...

Kelar itu aku masih sesenggukan, sementara si ganteng kudengar sih sudah mulai ngetik di mejanya. Tapi mulutnya tetap, "Firlly ... ayo atur nafasnya, atur nafasnya ..." Sampai akhirnya aku bener-bener ga nangis lagi, tapi asli kena sawan bengong gitu. Abis tenaga karena meronta ketahan gitu, reseh banget dah tuh suster ....

BUNGKUS BAND & KNEE BRACE LAGI

Kelar ngetik2, si ganteng kembali lagi ke kasurku. Si ganteng selalu memasang sendiri band yang melilit lututku dan memasang kembali knee brace, dan tidak pernah membiarkan suster mengerjakan itu untuk aku.  Tapi gw sudah ill feel ... Bukan ilang feeling, tapi berasa sakit beneran ...

Alhasil, begitu mo pulang, gw bilang gw ga mau suntik satu dus sisanya lagi, "Obatnya tinggal sini aja," kata gw merajuk. Tapi si ganteng bilang bawa aja obatnya, "Siapa tahu minggu depan kamu berubah pikiran ..." gitu katanya.

Jadilah daku pulang, tanpa salam untuk yang kedua kalinya nih, gegara stress masih menggantung di hati dan kepala ....

JADI YA ....

Bagaimanapun daku bersyukur dan beruntung punya dokter yang baik, sabar, menguasai juga bidangnya dengan baik. But most of which, I am so impressed with his personal character. Having a good doctor that we have a good chemistry, itu penting bgt buat healing process. Yang udah2 sih gw kalo sembuh sakit ya karena gw klik banget ma dokternya. Maksudnya, daku bis percaya dan ngandalin ini dokter baik secara keilmuan maupun secara interaksi sosial.

Termasuk, urusan dengkul yang satu ini. Usia beliau yang masih sangat muda (dokter ganteng gw ini high quality brondong, limited edition dan masterpiece series deh) ternyata ga berarti beliau ga bisa professional ya, baik pada ilmunya maupun pada interaksi dengan pasiennya. Gw bersyukur bangetlah, berjodoh dengan dokter yang baik hati untuk mengurusi dengkulku ini. Semoga si dokter gantengku ini senantiasa dalam lindungan Allah dan mendapatkan kemuliaan ya, karena sudah sedemikian baik dan sabar menolong aku. Aamiin ... aamin ... aamiin ....


Wednesday, 13 May 2015

"YA AMPUN FIRLLY ... !"

"YA AMPUN FIRLLY ... !"

Hari ini jadwalnya daku rendevouze ma si ganteng. Acaranya, buka jahitan. Sejak awal daku sudah bingung, datang pake walker stick ga ya. Sebab bakal rempong bawa tas kanan kiri sambil jalan bertongkat. Akhirnya begitu on loc, kuputusin jalan tanpa tongkat. Itu pun daku bukan langsung nemuin si ganteng, malah antar kue untuk suster dan terapis di lantai 2 dulu, ke cendra ma ke rehab, lanjut lantai 3, terus baru turun ke poli.

Tiba di poli duduk sebentar, nunggu giliran. Begitu tiba giliran, masuklah daku dengan terpincang-pincang. Sementara di ujung ruang, si ganteng duduk di kursinya, bergeser ke luar dari balik meja, memandang daku dengan kaget sambil memgang kepala seraya setengah berteriak, "Ya ampun Firlly ... ! Kenapa ga pakai tongkat ?" teriaknya keheranan. Tinggallah daku langsung ciut hati, feeling guilty tingkat dewa, menyesal.

"Aku ga mau terlalu drama. Dilihatin orang-orang ..." respon saya menjelaskan. "Iya saya tahu, kamu reluctant. Itu kan namanya diperhatikan. Tapi itu untuk kebaikan kamu. Supaya repair hasil operasi baik secara sempurna ..." jelasnya. Saya pun terdiam. 

PINK SEMUA

"Ayo naik (kasur periksa)," katanya. Daku pun beringsut ke kasur. Begitu on position, komentarnya, "Pink semua sukanya , sampai-sampai kameranya pun warna pink ..." Hari itu aku pake rok dusty pink kesukaan model ala princess gitu ma blus krem kombinasi pink dan kerudung brokat juga warna pink. Hahaha ... ga penting yeees, tapi berarti dia notice dunk, sejak insiden ketemu pertama kali yang ga banget itu, pertemuan2 berikutnya daku selalu pake baju yang ga jauh-jauh dari warna favoritku itu, pink ... mulu !

Si ganteng komentar begitu sebab saat selonjoran di kasur kan kaki ketutup ma rok panjang princess ku warna dusty pink itu. Si ganteng juga lihat sepatu ku warna fucia atau shocking pink ngegeletak di bawah kasur. Saat si ganteng mulai menyingkap rok dan membuka perban, daku pun mengingatkan pembicaraan terdahulu, "Kan saya sudah bilang dok, minta benang warna pink ..." komen saya. "Belum diproduksi benang operasi warna pink, tapi kalau semacam gips ada warna pink. Lebih bagus dari gips lagi, karena bukan berbentuk bubuk dan cepat mengeras ..." jelasnya. Ooooh ...

Maka mulailah si ganteng membuka jahitan bekas operasi di lulutku. Sedikit jerit-jerit, akhirnya kelar jugalah jahitan sebelah kanan dilepas. Giliran sebelah kiri wuidih, sakitnya agak lebih yess. Jadi mulailah saya berisik. "Ntar, ntar, ntar dok. Bissmillah donk dok ..." pinta saya. "Iya, Bissmillahirrahmaniraahim ..." katanya. Tapi tetep saya komplen, "Bentar dunk dok, berhenti dulu." Akhirnya si ganteng menjauhkan kursinya sebentar, sementara saya cengar-cengir menahan ngilu. Katanya kemudian, "Sampun ?" sambil beringsut mendekat lagi. Dan tahu2 dia sudah uplek lagi di lutut saya sampai kelar, sementara saya jejeritan dan sibuk kipas2 lutut. Alhasil kamera di tangan pun ga jadi dipakai deh, sakit aja proses buka jahitannya. "Dah," katanya .... fuiiih ....

"DEAL ?"


"Nah, minggu depan kita suntik kakinya ya," jelas si Ganteng. "Atau mau sekarang aja ?" tanyanya. "What ? You keeding me, doc !" respon saya. "Ya kali aja mau sekarang. Ya udah minggu depan kalo gitu ya ? Deal ?" tanyanya. Daku dan si ganteng tiap kali mo mutusin perkara ini kaki, selalu gitu, "Deal ?" Kali ini saya jawab, "Ok, kali ini saya deal, doc."

Balik ke meja, saya tanya foto-foro selama proses operasi, diskusi obat - yang saya ga ngerti (saya sama sekali ga ngerti obat, boro2 hafal). Si ganteng senyum-senyum tiap kali saya bilang saya ga ingat saat ditanya hal ihwal tentang berapa kali obat anti nyeri tulang yang saya minum tiap harinya. Daku juga bilang daku lupa minum antibiotiknya, gegara banyak syaratnya, ada yang sebelum makanlah, ada yang ga boleh barenganlah, ada vitamin, dst. Ga ngerti. "Ga pa-pa, yang penting habiskan, " katanya.

Si ganteng lalu tanya soal kuliah, daku bilang kan kuliahnya jumat sabtu. "Bawa mobil ?" tanyanya. "Gaklah," jawab saya. "Terlalu jauh, terlalu berisiko, belum berani, naik taksi saja," tambah saya lagi. Si ganteng manggut-manggut setuju, "Bagus" katanya.

Jadi ya ... "Dipake tongkatnya ya. Paling tidak 'kan 6 minggu. Sedikitnya 3 minggu deh," si ganteng mengingatkan.  "Kan janjinya memang 6 minggu nurut ya (itu permintaan si ganteng sejak awal dulu sebelum operasi."Pokoknya kamu nurut saya dulu deh selama 6 minggu," gitu katanya). Minggu ke-7 ga harus nurut lagi kan, dok ?" tanya saya. Cepat dia merespon, "Apa ?" tanyanya. Buru-buru saya jawab, "Ga ..." lalu terdiam. Kwkwkwkwk ....

Terakhir saya cerita kalau saya suka lupa naik dan turun tangga. Lalu si ganteng kasih tips, "Go up to heaven, down go to the hell" Maksudnya, naik pakai kaki sehat, turun dahulukan kaki yang sakit. Okay, dok !

Begitulah, akhirnya siang itu saya pulang dengan lega tapi sekaligus menyesal karena sudah mengecewakannya. Bukan apa-apa. Saya tipe orang yang perfectionist dan percaya ma kemampuan diri saya. Sebaliknya, bila saya tidak menguasai suatu perkara, saya akan mengikuti instruksi atau rekomendasi ahli atau orang yang saya percaya. Termasuk perkara kaki ini. Saya menyesal, khawatir proses pemulihan saya tidak berlangsung sebagaimana yang diharapkan sang dokter, akibat kecerobohan saya. Selain itu, tentulah saya akan rugi bila saya ga patuhi perintah dia. Jadi ya, pulang dari ketemuan ma si ganteng ini, maka ke mana-mana pun saya mulai istiqomah mengenakan tongkat, bahkan di dalam kamar saat menuju tempat tidur.



DOKTER IDAMAN

Sejak kecil, saya hanya punya satu dokter gigi, yaitu Drg. Rudi yang saya kenal sejak saya kelas 1 SD ! Sementara untuk dokter umum, saya pun punya satu dokter yang sangat special yang saya kenal sejak umur 8 tahun saat kelas 3 SD, yaitu Dr. Fx. Hermanto. Beliau bisa tahu saya sakit badan apa sakit pikiran. Bahkan hingga saat ini, kalau saya sakit dan urusan ga kelar-kelar dengan dokter di Jakarta, saya akan minta ibu telepon Dr. Fx. Hermanto dan minta resep untuk saya ! Hahahaha ....

Di bintaro sekarang, saya biasa menemui Dr. Bahder, specialist internist untuk sakit maag saya. Tapi sejak ada Dr. Ayu, spesialis yang sama, saya memilih berobat ke dokter perempuan ini. Saat saya pertama kali mo berobat ke dokter spesialis orthopaedic pun, sesungguhnya saya prefer untuk mendapatkan dokter perempuan. Tapi setelah membaca brosur dokternya yang ada laki semua, ya sudah. Seadanya sajalah, tahu-tahu ketemunya malah ma si dokter ganteng ini. Bukannya tambah sembuh, eh ni dokter malah bikin nambah sakit saya saja. Hahaha ....

GAGAL FOKUS

Tahu ga sejak insiden pertama kali saya menemui si ganteng yang ga banget situasinya saat itu gegara saya saltum, hingga kemarin ketemu terakhir, saya selalu saja gagal focus dan gelagepan setiap kali ketemu dia (baca "Balada berobat salah kostum" di www.firlly.blogspot.com). 

Alhasil seperti kejadian kemarin. Kelar berobat, sudah bayar segala macem, saya langsung ngeloyor pulang. Saat mo bayar parkir baru teringat, ternyata resep belum saya teruskan ke apotik untuk ditukar obat. Terpaksalah saya balik lagi ke lobi, dan dibantu 2 orang petugas sekuriti mengurus itu resep, sementara mereka meminta saya tetap menunggu di mobil. Mereka tahu karena saya tadi cerita kelar diomelin si ganteng gegara ga pakai tongkat. Somfereeeet ... kamfereeeeettt banget deh nih si dok ! Jadi ya, jujur ya, asli nih si ganteng memang bikin saya gagal focus, sebab he is too good to be true sih ! Bikin klepek-klepek ajah ! Geblek banget saya yah ? Hahahaha ....

Makanya belakangan saya selalu ribut cari obat merah karena hati sudah berdarah-darah ngadepin nih makhluk ganteng. Bahkan sejak bertemu pertama kali, saya sudah pengen cari pohon toge untuk bunuh diri #becanda gegara gelagepan mulu di depan si ganteng. Sekali lagi somfereeeeet ... kamfereeeeeet banget dah nih dokter. Ok deh prens, jangan coba-coba cari tahu siapa dokter ganteng saya ya ? He's mine ! Hahahaha ... !  :P





Tuesday, 12 May 2015

AKU BUKAN PUJANGGA

Cerita saya kali ini drama banget dah. Saya mo cerita tentang kehidupan cinta saya, hahahaha .. buka kartu dah ... siap2 malu fastinya daku ....

SI HITAM ANAK KAMPUNG

Sebagai anak yang dilahirkan dari bokap jawa tulen dan nyokap menado sunda, daku yang fenotip 1 dari perkawinan mereka , fastilah lahir dengan ciri dominan : hitam, mata sipit dan rambut ikal lebat. Alhasil saat aku kecil lebih sering disangka orang, berasal dari ambon atau sumatera barat. Bedanya, kalau perempuan ambon itu hitam dan manis mata lebar, sementara daku hitam mata sipit. Kebayang kaaaaaaan ... ?

GA PEDEAN

Fastilah ga pedean ! Saat kecil, saya menghabiskan masa sekolah dan bermain di sebuah sekolah katholik, sejak TK nol kecil hingga SMP kelas 3. Sebelas tahun saya habiskan masa kecil saya bersama sahabat-sahabat saya yang mayoritas beretnis tionghoa, yang tentu lazimnya bermata sipit tapiii berkulit putih bersih. Demi kondisi fisik yang saya miliki saat itu, maka ga pernahlah saya ngerumpi bersama teman2 main saya soal laki. Alasannya ? Ya karena saya berasa jeleklah, mana berani naksir cowo ... ? Hahahaha ...

Sekalinya ada teman laki-laki yang mendekat pertama kali saat SMP, itu terjadi saat saya kelas 3. Ceritanya saya disukai seorang cowo pintar. Asli, ini cowo asli pintar, anak orang punya dan playboy alias banyak mantan pacarnya (begitu kata teman-teman perempuan saya cuka cerita).

Tahu ga, apa yang saya lakukan saat ditembaknya suatu siang pulang sekolah di teras rumah ? Saya bilang, saya ga pernah pacaran, saya mo coba dulu ya, kalo ganggu sekolah, saya ga mau, kalo tidak ganggu sekolah, ya kita lihat nanti aja. "Wah, saya dicoba (dijadiin percobaan mungkin maksudnya) dunk berarti ?" kata teman cowok saya itu ga terima. Maklumlah, pan ia biasa nembak cewe ga ada yang pake respon begini kali yee .. ?

Lantas waktu teman-teman segank saya tiba-tiba muncul di depan rumah bermobil mo makan-makan merayakan hari jadian saya dan dia itu, saya cuma nanggepin dingin, "Saya sudah makan siang, saya ga ikut deh, kamu aja sana makan2 sama teman2 ..." Hahahaha ...

SI JELEK DAN BODO

Sebenernya selain ga pede karena saya merasa jelek, hitam, sipit, kurus. Saya ga pedean juga karena saya tuh ga pinter semasa sekolah. Apalagi kalo dibandingkan sama anak ibu saya yang tinggal serumah ma saya itu. Dia putih, mata lebih lebar dari saya, ndut dan sangat pinter, makinlah saya ga pede.

Persoalannya cowo yang naksir saya itu kan cowo pinter, sementara saya sekelas dengan dia pun karena terpaksa, akibat kuota kelas khusus untuk anak2 pintar kurang jumlahnya. Dan saya akhirnya termasuk anak yang kepandaiannya kelas 2 tapi masih dapat disarankan untuk masuk di kelas yang isinya semua orang2 pinter thok ! Tapi yang ada saya jadi juru kunci deh di kelas. Kebayang dunk, duduk sebangku ma pacar si juara kelas, sementara sayanya under dog. Cakitnya tuh di cini #nunjuk dada ! Hahaha ...

PACARAN ESTAFET

Nah, lulus SMP, pacar saya itu pindah ke luar kota. Ceritanya sejak kelas 3 pun dia sudah tinggal bersama sebuah keluarga, sahabat orangtuanya, karena orangtuanya dipindahtugaskan dari Tegal ke kota lain. Dari situlah, saya pun akhirnya mengenal keluarga 'angkat' pacar saya yang rumahnya tak jauh dari rumah saya, hanya 2 km saja. Keluarga mereka adalah keluarga besar yang memiliki 5 orang anak. Anak terbesar, sebut saja si fulan, sebaya dengan kami. Dia bersekolah di sekolah negeri.

Singkat cerita, saat masuk SMA, saya dan si fulan ternyata sama-sama sekolah di SMA yang sama. Maka si fulan menjadi satu-satunya teman saya di luar teman-teman SMP saya yang bersekolah di SMA Negeri terbaik di Tegal itu. Kenapa hal itu jadi penting ? Karena itulah pertama kalinya saya sekolah di sekolah negeri.

Saya mengalami shock culture dari sekolah katholik yang sangat disiplin, penuh fasilitas, dan beretika. Sementara di sekolah negeri ini, saya banyak menemui pelajaran kosong, siswa-siswa madol (bolos), serta kenakalan, kegaduhan luar biasa di sepanjang koridor kelas sejak pagi hingga siang hari kelas berakhir. Saya terkaget-kaget. Akibatnya, hamper selama setahun pertama, teman saya sangat sedikit, karena saya pun terhalang dengan kemampuan berbahasa pergaulan, bahasa tegal, yang tidak saya kuasai.

Alhasil, si fulan menjadi satu2nya modal untuk mengakses pertemanan dengan teman-teman baru. singkat cerita, saya pun jadian ma si fulan saat di kelas 2. Jadilah saya pacaran karena apa yaa ... Bisa dibilang ketidaksengajaan deh, karena kebiasaan, bukan karena cinta. Sebab seingat saya, si fulan ga pernah nembak saya gitu.

Lucunya, pacar saya saat SMP beserta keluarganya, dan si fulan menyikapi ini dengan biasa saja. Aslinya kan situasinya sangat canggung kan ya mestinya. Sebab hingga kelas 1 SMA berjalan beberapa waktu, pacar saya SMP masih ngapel ke Tegal tiap wiken jauh2 datang dari luar kota menempuh perjalanan 7 jam dengan travel lho. Sakti juga ya pengorbanannya ?! 

FRIENDZONE

Hubungan saya dengan si fulan lumayan awet loh, sejak SMA kelas 2 hingga saya wisuda (saya kuliah S1 4 tahun), si fulan masih hadir mengikuti acara wisuda. Bahkan hingga saya bekerja 3 bulan setelah saya wisuda, si fulan masih bersama saya,  hingga saya sudah bekerja selama2 tahun, walaupun saya sudah tidak mau melanjutkan hubungan.

Pasalnya, hubungan saya dengan si fulan yang bertahun-tahun itu sepertinya tidak disetujui oleh almarhumah ibundanya. Sementara si fulan tampaknya bukan tipe orang yang mau memperjuangkan saya di depan orangtuanya, khususnya almarhumah ibunya yang saat itu tidak menyukai saya.

Padahal keberadaan si fulan di keluarga saya teramat istimewa. Orang tua saya begitu menerima kehadirannya, keluarga besar saya, paman dan bibi saya hampir sebagian besar sudah mengenal dia. Sementara saya di friendzone-in begitu, ya saya minta bubar sajaaaa ....

Lantaran urusan yang satu ini, saya bertengkar hebat dengan kedua orangtua saya ! Pertengkaran yang sangat tidak masuk akal dan luar biasa ga bisa saya mengerti, hingga kini ! Tapi ya sudahlah ...

AWAL KESALAHAN

Memasuki dunia kerja lulus kuliah dengan status jomblo sepihak (karena si fulan tetap ga terima saya putusin) saya bertemu dengan si Fulani. Saat itu saya bekerja di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Tapi, urusan percintaan saya yang ini sungguh merupakan awal malapetaka kehidupan percintaan saya.

Orang tua saya tidak terima sama sekali kehadiran dia, lantara dia bukan orang Jawa ! Gila, rasis juga ya ternyata ortu saya. Bukan apa2, walaupun saya paham maksudnya, tapi plis deh, it didn't make a sense at all !

Inilah hikmahnya, kekerasan hanya melahirkan kekerasan yang lebih tidak terkendali lagi. Itulah yang saya alami. Gegara soal ini, saya kembali bertengkar hebat dengan orang tua saya. Pasalnya, mereka memaksa saya untuk tetap kembali bersama si fulan !  Bukannya menuruti apa kata orang tua saya, saya semakin lengket dengan rekan kerja saya ini. Malapetaka semakin parah saat bokap bertemu dengan pacar saya itu. Demi mendengar ucapan bokap, pacar saya meninggalkan saya begitu saja, tanpa ampun. Dan saya, dibuat bego luar biasa, bertahun-tahun ! Saya pun berasa jadi sampah !

KESALAHAN BERIKUTNYA

Terakhir berurusan dengan laki tahun 1998, saya baru menikah dengan seorang Jawa, sembilan tahun kemudian, tahun 2007 setelah usia ideal saya untuk menikah dan bereproduksi lewat ! Dan di antara periode itu saya pun melakukan kesalahan-kesalahan berikutnya.

Saat saya hijrah ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan di mana saya telah menghabiskan pengabdian 14 tahun hingga saat ini, saya disukai oleh seseorang yang seharusnya tidak saya ladeni. Sekali lagi, saya menjalani hubungan percintaan, lagi-lagi bukan karena rasa cinta yang saya miliki. Saya selalu menjadi pihak yang pasif dan hanya menerima saja.

Dan kalaupun saya menerima cinta-cinta yang mungkin salah itu, semata-mata bukan karena cinta sepertinya, tapi lebih karena I did needed someone behind me as I didn't make a good relationship with parents and the whole fam. Maka yang ada jadinya adalah apa ya bukan 'pelarian' sih, tapi karena kebutuhan akan seseorang tempat bersandar yang dapat dipercaya karena saya tidak merasa aman dan nyaman bersama keluarga.

Singkat cerita, lagi-lagi pelakon cinta ini pun 'kabur' setelah bokap bicara dengannya. Seperti biasa, jadi korban 'cinta' yang tidak pernah saya punya. Ingat, setiap kali saya punya teman pria, itu lebih karena saya tidak dekat dengan keluarga karena saya merasa tidak aman dan nyaman bersama mereka .... 

MENIKAH TANPA CINTA

Saat akhirnya saya menikah pun, pernikahan saya adalah pernikaha dewasa. Ga pernah ada bilang cinta. Saya sendiri hanya punya komitmen yang menurut saya jauh lebih terpercaya ketimbang cinta yang bisa bullshit ga bermakna. Jadilah saya selalu bilang, saya bukan pengagum cinta, karena seumur-umur belum pernah jatuh cinta ....

Menikah tanpa cinta bukan hal mustahil menurut saya. Bagi saya komitmen jauh lebih terhormat ketimbang cinta. Dan menikahlah saya akhirnya tanpa modal cinta.

TAKUT JATUH CINTA GA YA ?

Perkaranya, karena saya ga pernah jatuh cinta yang sebenarnya, jadi berasa agak gimana gitu ya ternyata. Selama ini bisa dibilang saya itu apriori banget sama cinta. Bullshit tingkat dewa deh yang namanya cinta buat saya, kalo ga dibilang musuhan. hahahaha ....

Maknya, kalau saya jatuh cinta belakangan bisa hancur badai dunk yaaa ... Alay sealay-alaynya. Mati gaya, bego, dst. Bisa gawat kan kalau jatuh cintanya telat ... ? Hahahaha ...

HIKMAH

Kadang niat baik, manakala dilakukan dengan cara yang kurang pas, maka hasilnya menjadi tidak seperti yang diharapkan. Begitulah, saat keluarga memilih cara untuk menghentikan 'percintaan' saya secara saklek, akhirnya justru mendorong saya semakin mengejar dan memperjuangkan sesuatu yang saya mau, walaupun itu belum tentu cinta.

Yang terburuk adalah, saat kemenangan untuk melarang itu diraih, sesungguhnya kemenangan itu dibayar teramat mahal dengan trauma, penyesalan, pengorbanan yang luar biasa menyakitkan. Bukan perkara putus cintanya, tapi dampak psikologis yang membuat saya semakin sulit dengan hidup saya.

Tapi sebagai seorang yang beriman, saya tetap harus memegang teguh nilai-nilai dan tuntunan. Bahwa orang tua adalah tetap manusia di muka bumi ini yang harus saya muliakan. Sayangnya, saat saya telah menikah, maka surga saya adalah suami, bukan lagi pada orang tua. Suamilah yang berhak penuh pada diri saya. Ikhlas ridho Allah adalah ikhlas ridho suami saya. Karenanya, saya hanya bisa berdoa dan berharap Allah tetap memuliakan orang tua saya yang tidak mempunyai anak laki2, dengan caraNya.

Ga kenal cinta, bukan pengagum cinta, tidak pemuja cinta, ga apa keleeesss ... No problem ... Yang penting jangan sampai ga punya tuntunan, karena itulah sebaik-baiknya cinta ... Cinta Allah yang tanpa batas pada umatNya .... 

Saturday, 9 May 2015

PERAN PEREMPUAN DALAM PENGAMBILAN KEBIJAKAN PUBLIK


Penelitian 1 :
 
Representasi PerempuanRepresentasi Perempuan dalam Kebijakan Publik di Era Otonomi Daerah
Penulis: Edriana Noerdin dkk
Penerbit: Women Research Institute
Cetakan: Februari 2005
Tebal: xv + 76 halaman
HASIL RISET :

 
Undang- undang Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah memberi kewenangan pada pemerintah daerah untuk menentukan kebijakan politik dan pengaturan keuangan. Di samping itu, pemerintah telah membuat peraturan hokum yang menyertakan pentingnya penggarustamaan jender dalam GBHN 1999. Buku ini merupakan hasil analisis tekstual atas peraturan daerah yang dibuat oleh sembilan pemerintah daerah di Sukabumi, Tasikmalaya, Solok, Mataram, Nanggroe Aceh Darussalam, Gianyar, Kupang, Kendari, Samarinda, dan Kutai Barat, sejak diberlakukannya UU Otonomi Daerah tersebut. Analisis tekstual dilakukan untuk melihat implementasi pengarusutamaan jender dalam peraturan-peratuan daerah tersebut.
 

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berperspektif feminis. Peraturan daerah yang dikumpulkan selama penelitian dibaca dan dianalisis dengan perspektif feminis untuk menguji asumsi netralitas jender di dalam peraturan. hasil penelitian memperlihatkan bahwa meskipun ada pemerintah daerah yang telah menyadari permasalahan diskriminasi jender serta merespon dengan rumusan kebijakan, persoalan tetap ada, terutama pada definisi representasi dan peran peremuan di tidap daerah.  

Peran perempuan didefinisikan sebagai peran domestik dan dibatasi pada peran sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Oleh karena itu, kebijakan yang dibuat terfokus pada pelatihan dan penyediaan alat untuk melatih perempuan dalam kegiatan rumah tangga seperti memasak, menjahit, dan kesejahteraan keluarga. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sedikitnya keterlibatan perempuan dalam pembuatan keputusan di tingkat lokal memperlihatkan peraturan daerah yang dihasilkan semasa otonomi daerah kurang responsif terhadap isu jender. (BIP/Litbang Kompas)
 
Sumber: Harian KOMPAS, Minggu, 24 April 2005
 
 

Penelitian 2 : 
 
 
PENELITIAN PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PUBLIK DAN PENGARUHNYA PADA KEBIJAKAN PEMERINTAH YANG RESPONSIF GENDER DI JAWA TENGAH
(Oleh Harsono dkk, Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah)
 
Hasil penelitian :
 
Peran perempuan di sektor publik masih perlu ditingkatkan, terbukti dari antara lain data kepegawaian di kalangan Pemprov. Jateng bahwa ada kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan, persentase PNS perempuan semakin kecil dibandingkan laki-laki.
 
Tolok ukur yang dipakai untuk mengukur tingkat partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan publik adalah dengan menggunakan Gender Empowerment Measure (GEM), yang meliputi:
  1. Jumlah perempuan di parlemen,
  2. Jumlah perempuan profesional,
  3. Jumlah perempuan dalam administrasi pemerintahan,
  4. Pendapatan perempuan
Laporan Kementerian Pemberdayaan Perempuan tentang kebijakan pemberdayaan perempuan dalam pembangunan nasional menyebutkan bahwa pemberdayaan perempuan (GEM) pada tahun 2002 menunjukkan kondisi perempuan yang masih memprihatinkan. Ini terbukti antara lain dari keterwakilan perempuan dalam lembaga-lembaga negara dan dalam jabatan publik, yang mencerminkan peran perempuan yang belum memadai dalam lembaga dan kegiatan yang terkait dengan pengambilan keputusan.
 
Saran
  1. Peningkatan keterwakilan perempuan di DPRD dengan Perbaikan Undang Kepartaian; AD/ART partai; Sistem pencalonan anggota yang menjamin keterwakilan perempuan di DPRD, dan pemilihan pengurus partai.
  2. Peningkatan keterwakilan perempuan dalam Pengambilan keputusan di 3 bidang (Pendidikan, Kesehatan & Pemberdayaan perempuan) secara proporsional'
     

  3. Diambil langkah strategis bagaimana cara mengurangi kesenjangan posisi jabatan di 3 bidang tersebut & DPRD, pemerintah pusat, provinsi kab./ kota hendaknya dapat menindak lanjuti kebijakaan yang sudah ada Seperti : 1). Sosialisasi kesetaraan gender; 2). Penyempurnaan peraturan perundang-undangan ( UU Perkawinan, UU Kewarganegaraan & UU Parpol); 3). Pendidikan politik; 4). Kepemimpinan perempuan; 5). Pemberian peluang khusus (affirmative action); 6). Pemerintah menyediaan data pilah gender. 7). Pemerintah diharapkan memberikan perhatian bidang pemberdayaan perempuan sejajar dengan bidang lain, untuk menyusun perencanaan.
PERAN GANDA PEREMPUAN
 
Menyoal peran perempuan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik, artinya yang perlu diurai paling awal adalah menggali hal-hal apa saja kiranya yang berkaitan dengan urusan perempuan. Sebagaimana yang terjadi seiringnya peradaban, maka perempuan adalah sosok yang memiliki peran ganda dalam kehidupan.
 
Dalam hubungannya dengan peran ganda tersebut, Mosser (1999) menyebutkan bahwa  perempuan tidak saja berperan ganda, akan tetapi memiliki triple role ;

  1. Peran reproduksi, yaitu peran yang berhubungan dengan peran tradisional disektor domestik (mengandung, melahirkan dan merawat anak),
  2. Peran produktif, yaitu peran ekonomis disektor publik ; dan
  3. Peran sosial, yaitu sebagai warga masyarakat.
PEREMPUAN DALAM ISLAM
 
Selain pandangan ilmiah dari para ilmuwan mengenai perempuan, maka sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa, maka perempuan pun harus dipandang dari hal yang paling mendasar dalam kehidupan, yaitu pada sisi spiritual atau religious.
 
Sebagai agama yang paling sempurna, Islam menentukan kedudukan perempuan dengan sangat jelas. Al Quran menegaskan bahwa kedudukan laki-laki (suami) adalah satu derajat lebih tinggi dari wanita dalam hal kepemimpinan dan tanggung jawab atas kemaslahatan rumah tangga, Allah telah menyatakan hal ini dalam firmannya surat an-Nisa 34:
 
 

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا (٣٤)
 
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. (An-Nisa: 34).
 
Hal ini bukan berarti Islam memandang perempuan sebagai kalangan kelas dua dalam kehidupan, melainkan sebaliknya. Islam sangat memuliakan perempuan.
 

PEREMPUAN DALAM ISU JENDER
 
Persoalannya, perkembangan jaman seringkali menggiring isu kesetaraan laki-laki dan perempuan sebagai sebuah hitung-hitungan yang saklek. Artinya, saat menelaah tentang peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, maka perempuan harus dipandang dari berbagai peran yang melekat padanya, tidak bisa hanya salah satunya saja.
 
Pada prakteknya, terdapat pandangan yang memaknai kesetaraan jender antara laki-laki dan perempuan sebagai sebuah kedudukan yang setara, equal dalam arti yang absolut.
 
Padahal kehidupan meliputi banyak dimensi. Artinya, bagaimanapun perempuan dan laki-laki diciptakan berbeda. dan perbedaan itu ada untuk mencapai keseimbangan dalam kehidupan. Bila perempuan menuntut hak
 
PEREMPUAN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
 
Pentingnya peran perempuan dalam pengambilan kebijakan publik tidak terlepas dari dinamika kehidupan politik sebuah organisasi besar yang disebut sebagai sebuah negara.
 
Bagaimanapun munculnya berbagai regulasi yang memfasilitasi atau mewadahi perlunya peran perempuan secara lebih nyata tetap harus dipandang secara bijaksana. Karena apa ? Karena yaitu tadi, peran perempuan harus dilihat dari keberadaanya pada lingkungan keluarga (domestik), maupun keberadaannya dalam lingkungan masyarakat baik dalam kehidupan berpolitik, serta kegiatan produktif sebagai individu yang membutuhkan aktualisasi diri, layaknya laki-laki.
 
  1. Sebagai Nara sumber
Peran perempuan dalam pengambilan kebijakan publik menjadi penting karena pada akhirnya, hampir kebanyakan urusan hidup itu bermuara pada perempuan. Sebut saja, perilaku sex bebas, wabah narkoba, korupsi, pencemaran lingkungan, tawuran & kerusuhan, dsb.
 
Maka penting untuk dipahami bahwa, peran perempuan dalam konteks ini adalah lebih sebagai kesadaran pemimpin dalam berupaya secara maksimal untuk memperoleh alternatif solusi dari setiap permasalahan, langsung dari sumber yang memiliki kontribusi besar dalam kehidupan, yaitu perempuan. 
 
2. Sebagai problem solver
 
Kontribusi perempuan dalam proses pengambilan kebijakan publik menjadi sangat dibutuhkan, karena perempuanlah elemen yang memiliki potensi paling besar untuk menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat, secara efektif, langsung dari tingkatan yang paling mendasar, yaitu keluarga. Mengapa, karena fitrah perempuan adalah sebagai madrasah pertama dan yang paling utama bagi anak-anaknya
 
Bahkan pada banyak persoalan, bisa jadi pemicunya bukanlah perempuan, namun pada akhirnya perempuanlah yang  menjadi tumpuan dalam mengeksekusi, meminimalisir, menyelesaikan persoalan tersebut. Karena keistimewaan dan lintas fungsi yang mampu dilakukan oleh perempuan.
 
3. Sebagai penyeimbang secara demografis
 
Faktanya, jumlah perempuan dalam peradaban semakin bertambaha banyak, dan komposisinya melampaui jumlah laki-laki. Karenanya wajar, bila perempuan diberi porsi yang sesuai dalam pengambilan kebijakan publik untuk memenuhi keterwakilannya sebagai sebuah bagian dalam proses demokrasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
 
Dalam konteksi ini, maka upaya penyelesaian berbagai persoalan masyarakat dikembalikan kepada keluarga, Artinya, keluarga berperan melakukan fungsi pencegahan (preventif) sekaligus korektif bagi setiap anggota keluarga denan cara menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupan. 
 
BATASAN PERAN PEREMPUAN
 
Perkaranya kini, menyoal peran perempuan dalam pengambilan kebijakan publik sangat kental dengan perspektif politik yang notabene fitrah atau kodrat perempuan secara sepenuhnya bukan untuk berada di sana.
 
Sebaliknya, dalam konteks ini sangat penting bagi setiap perempuan untuk menyadari bahwa menyoal perannya dalam pengambilan kebijakan publik, maka perempuan tetap harus berpegang pada tuntunan dan tidak melampaui batas.
 
 
 
 


 
 
 
 
 


Seiring dengan

Thursday, 7 May 2015

GOOD FRIENDS

Seringkali saya merasa takjub dengan hal-hal atau situasi yang jarang saya temui tapi meninggalkan kesan gimana ... gitu. Termasuk salah satunya, soal pertemanan.

Saya selama ini mengukur, diri saya agak introvert ya. Jadi, saya tuh jarang banget cerita-cerita tentang urusan hidup saya dengan orang lain. Jangankan orang lain, ma orang rumah aja purba banget, apalagi sama orang lain. Masa sekolah dulu, saya paling ga pernah ngerumpi soal cowo. Maklum, ga PD tingkat dewa dah, sebab selain agak2 o'on semasa sekolah dulu, saya juga item no excuse kan ... ? Makanya saya paling ga pernah tuh gossip-gossipan, rahasia-rahasia-an ma teman-teman.

Saya juga ga punya teman dekat perempuan. Teman saya laki semua. Saya keknya paling payah kalo berteman kolektif deh. Cucah setel programnya supaya ga jadi trouble maker. Kudu konsentrasi tinggi. Hahaha ...

Termasuk, ini tulisan baru publish sedetik, langsung dikomen sahabat tersayang, senasib sepenanggungan soal ... "itu deh" yang fully support kegeblegan saya belakangan ini yang sedang cakitnya tuh di cini gegara accidentally berurusan ma dokter ganteng yang super duper somfereeeet ... ! Dikomplen gegara poto cantiknya ga ada di sini, ya sudah, yuk mari kita up date lagi. Hahahahaha ... !

Baruntung saja sekarang sudah ada media semacam blog ini yang membuat saya jadi bisa sharing leluasa tapi ga terlalu pengumuman gitu, karena selain tidak semua suka baca blog, saya pun masih bisa hiding semua kisah dari aslinya. Hahahaha ... teteup ... 

DICARI ATAU MENCARI ?

Pagi ini seorang kawan dekat saat smp tiba-tiba meninggalkan pesan pada inbox di akun salah satu jejaring sosial saya. Tumben, tanya saya. Ternyata ia ingin berbagi kebahagiaan bahwa tgl 12 Mei 2015 ini ia akan segera sidang pengukuhan sebagai Doktor di sebuah universitas di Yogyakarta. Lalu kami pun beberapa saat mengobrol melalui inbox.

Aneh saja, kami berteman sangat dekat masa smp itu, artinya itu sudah lebih dari 25 tahun lalu. Tapi tiba-tiba ia merasa perlu untuk berbagi kebahagiaannya kepada saya, itu amaze sekali. Saya takjub dengan persabahatan yang bisa saya peroleh ini. Subhanallah rasanya. Sebab kesehariannya, kami sangat jarang chit-chat lah. Tapi asli, saya sangat bersyukur dan ikut merasa sangat senang dan bangga atas keberhasilannya.

Di kesempatan yang lain, suatu pagi seorang sahabat yang telah menjadi teman saya sejak kami sama-sama berumur 4 tahun, bayangkan, 4 tahun ! Tiba-tiba meninggalkan pertanyaan di wa pada gadget saya, menanyakan hal-ihwal kerjaan. Persoalannya, saya bukan ahli soal itu, hanya pernah berurusan dengan hal itu, hamper 20 tahun lalu. Jadi tiba-tiba sekarang ada yang bertanya soal itu, ya jawaban saya hanya based on experience saja dan bertanya kepada sarjana baru lulus di meja sebelah.

Belum lama, seorang teman kuliah, yaah .. lebih dari lima belas tahun lalu la ya, pun tiba-tiba meninggalkan pesan, inbox di salah satu jejaring sosial saya. Kami saling bercerita dan bertukar pikiran. Niat baiknya untuk berbagi cerita pada saya, sungguh sangat saya hargai. Why me ? Karena dalam keseharian di antara kami sangat jarang bersilaturahim. Namun manakala keinginan itu ada dan mereka memilih berbicara pada saya, saya merasa sangat amaze !

Hahaha, sekali lagi saya sangat bersyukur dengan keajaiban-keajaiban kecil ini. Cukuplah bagi saya hal remeh-temeh yang seperti ini menjadi keajaiban sederhana yang membuat saya takjub dan merasa sangat senang.

DIBAGI ATAU MEMBAGI ?

Seorang sahabat baru, sekaligus adik, beberapa hari ini marah berat pada saya lantaran saya dianggap berbohong padanya. Saya ga mau cerita apa-apa soal hidup saya (maksudnya hal-hal keseharian) pada dia katanya. Menurutnya, saya lebih suka berbagi pada brondong jagung di kelas. Padahal temenan ma brondongs itu kan untuk lucu-lucuan aja ya. Intinya dia marah, karena saya ga tahu kalo dia sayang bener sama saya. Sementara ia khawatir pada saya, sayanya tetap tidak kunjung cerita apa-apa, sedihlah ia, merasa tidak dihargai. Saya pun untuk kesekian kalinya dibuat takjub dan bingung.



Sebab soal ga mau cerita, itu memang kebiasaan saya sejak kecil. Saya nyaris ga pernah tuh heart to heart sharing with my mom, apalagi dad, apalagi the one and only my little sister, ga pernah. Kalaupun ada ya sifatnya hanya nice to know aja, sekali, udah.

Nah, kembali ke si adik baru ini, ya ... akhirnya daku dengan besar hati minta maaf la ya, karena membuat ia merasa tidak nyaman dengan kebiasaan buruk saya yang ga' banget kali ya untuk ukuran temenan, sahabatan.

Lain lagi dengan seorang sahabat baru saya, seorang penjaja kelontong elektronik kaki lima tak jauh dari kantor. Saya bersahabat dengannya karena dipertemukan oleh kebiasaan yang sama, bertemu di rumah Allah saat waktu sholat. Hidupnya yang tidak mudah membuat ia sedikit lebih tua dari usianya yang sebenarnya, yang berada jauh di bawah saya.

Yang menarik, dengannya, ia selalu tahu setiap kesusahan yang saya alami. Bukan tahu dalam arti yang sebenarnya. Tapi setiap kali saya tengah mengalami masa-masa sulit, saat itu pulalah seringkali ia menghubungi saya melalui telepon. Subhanallah ! Walau hingga menutup telpon, saya seperti biasanya tetap tidak cerita apapun tentang kondisi atau persaoalan saya padanya, tapi kontak batinnya yang luar biasa, cukuplah sebagai sesuatu yang sangat mengobati dan sangat saya syukuri.

Biasanya saat ia telepon itu, saya dan dia akan saling bertanya kabar kami masing-masing, dan pembicaraan berakhir dengan pesan dari di antara kami untuk saling menguatkan dan menjaga diri. Pasalnya, kami bertemu pun sangat jarang, sebab saya lebih sering berada di Karawang timbang di Jakarta. Karenanya, sungguh saya merasa sangat bingung dengan hubungan batin yang begitu istimewa ini.

Seorang sahabat yang lain, semasa kuliah lanjutan pada tujuh belas tahun lalu itu, pun tak kalah luar biasa. Pertemuan pertama yang tak lazim karena ia bertanya, mengajak kenalan dengan cara berteriak dari kejauhan di pinggiran danau kampus UI Depok menjelang ujian penerimaan, ternyata membawa kami kepada persahabatan yang sangat luar biasa hingga kini. 

Dengannya, saya bisa menghabiskan waktu hingga bego dan melakukan hal-hal yang gila bersama-sama. Asal dipikir, padahal kita dua orang yang sangat jauh beda. Ia sangat kasual dan adventurer, sementara saya ... seorang yang sama sekali ga suka begituan. Dengannyalah saya jauh lebih bisa banyak bicara (bercerita). Sepertinya ia satu-satunya sahabat yang sedikit lebih tua usianya dari saya. Hampir seluruh penderitaan hidup saya, saya tumpahkan blek padanya. Ia juga, satu-satunya orang lain yang bisa berkali-kali menangis sesenggukan untuk saya, demi mengetahui betapa beratnya hidup saya.

Dengannya pun saya sangat jarang bertemu sejak lulus kuliah itu. Tapi kapanpun saya membutuhkan dia, dia selalu ready on call 24 hours ! Dan setiap kali kami berkomunikasi lagi setelah sekian lama waktu tak berjumpa, serasa segala sesuatunya langsung on saja frekuensinya. Tak ada lagi yang perlu disetel untuk menyesuaikan kecanggungan akibat lama tidak bertemu. Subhanallah ... !

Demikianlah. Kadang manusia seringkali lupa ya bahwa dikelilingi dan memiliki orang-orang yang tepat dalam hidup kita adalah hal yang patut disyukuri. Dan yang sangat menggetarkan hati saya adalah, tak jarang di antara sahabat-sahabat teristimewa saya itu  adalah orang-orang yang sangat jauh beda dalam banyak hal dengan saya, baik akidah, ras, status sosial, dst. Semuanya itu semakin membuat saya sangat takjub dan semakin bersyukur !

Selain itu, bersama siapa kita berkawan, sungguh sangat menentukan jalan hidup kita. Tentu, orang-orang yang baiklah yang akan mendatangkan kebaikan pula bagi kita. Karenanya tak salah bila tombo ati, atau obat hati salah satunya adalah orang sholeh kumpulono, berkawanlah dengan orang-orang yang berilmu agama yang baik sehingga mereka mendatangkan pula banyak ilmu yang bermanfaat bagi diri kita. Barakallah ya temans ... !